Tampilkan postingan dengan label NUZULUL QUR'AN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NUZULUL QUR'AN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Agustus 2011

Untuk apa Al Qur'an diturunkan? (Membedah Hikmah Nuzulul Qur'an

Al Qur'anul Karim diturunkan oleh Allah swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. adalah untuk menyempurnakan petunjuk-petunjukNya kepada manusia agar dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia maupun di akhirat.
Sebelum Al Qur'an diturunkan, manusia telah mendapat tiga macam petunjuk dari Allah swt., yaitu:

Ilham Fithri

Ilham Fithri adalah petunjuk yang diberikan oleh Allah swt. pada saat manusia baru saja lahir di dunia ini. Dengan ilham fithri ini bayi yang baru lahir sudah dapat merasakan lapar, kenyang, haus, puas, panas, dingin dan lain sebagainya; dapat menyatakan perasaannya yang tak enak dengan bahasa yang sama di seluruh dunia, yaitu menangis; dan memiliki kemampuan untuk menetek serta menelan makanan yang disuapkan kepadanya. Petunjuk ini dimaksudkan agar sang bayi dapat melangsungkan hidupnya di dunia ini. Sebab andaikata bayi yang baru lahir itu tidak diberi kemampuan seperti tersebut di atas oleh Penciptanya, yaitu Allah swt., maka pada waktu yang relatif pendek bayi tersebut pasti mati. Jadi petunjuk pertama yang diberikan dengan gratis oleh Sang Pencipta ini adalah untuk kepentingan manusia itu sendiri, dan sama sekali bukan untuk kepentingan Allah swt. yang memberikan petunjuk tersebut. Dalam surat Asy Syams ayat 7, Allah berfirman:
وَنفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا
Demi jiwa dan apa saja yang menyempurnakannya.

اَلْحَوَاسُ الْخَمْسُ atau Panca Indera

Bagi binatang bersel satu, dengan satu petunjuk saja dari Penciptanya, dia sudah dapat hidup dan berkembang biak dengan baik. Akan tetapi bagi manusia, dia tidak mungkin dapat hidup dengan petunjuk yang pertama saja. Sebab kalau sampai dewasa manusia hanya dapat menangis dan menetek saja, maka siapakah yang akan meneteki? Oleh karena itu kita wajib bersyukur kepada Allah swt. yang dengan kasih sayang-Nya, tanpa diminta dan tanpa dibeli, telah berkenan memberikan petunjukNya yang kedua yang berupa:
  • Pendengaran, dengan telinga sebagai alatnya.
  • Penglihatan, dengan mata sebagai alatnya.
  • Pencium, dengan hidung sebagai alatnya.
  • Pengecap, dengan lidah sebagai alatnya.
  • Peraba, dengan kulit sebagai alatnya.

Af'idah atau rasio atau akal pikiran

Bagi binatang ternak seperti kerbau, sapi, kambing dan lain sebagainya, dengan dua petunjuk dari Penciptanya, sudah dapat hidup dan berkembang biak dengan baik. Akan tetapi manusia tidak mungkin dapat hidup dengan dua macam petunjuk di atas. Lebih-lebih panca indera yang diberikan oleh Allah swt. kepada manusia memiliki banyak kekurangan dibandingkan dengan binatang-binatang tertentu. Disamping itu, Allah swt. memberikan kelebihan-kelebihan tertentu, seperti: terbang, lari kencang, kekuatan, kepandaian memanjat dan lain sebagainya kepada binatang-binatang yang tidak diberikan kepada manusia.
Oleh karena itu kita wajib bersyukur kepada Allah swt. yang dengan kasih sayang dan karunia-Nya, tanpa kita minta dan tanpa kita beli, telah berkenan memberikan petunjukNya yang ketiga berupa af'idah atau ratio atau akal pikiran. Dalam Al Qur'an surat An Nahlu ayat 78 Allah swt. telah berfirman:
وَاللّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُوْنِ اُمَّهاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَمْعَ وَالاَبْصَارَ وَالاَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ.
Artinya: "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (akal pikiran), agar kamu bersyukur".
Dengan akal pikiran ini, manusia tidak hanya dapat membedakan dirinya dengan binatang, akan tetapi dengan akal pikiran yang dimiliki, manusia telah mampu menciptakan alat-alat tehnologi yang sangat canggih dan sangat mengagumkan. Bahkan jika hasil penemuan akan pikiran sekarang ini diceriterakan pada zaman Majapahit, kemungkinan besar orang yang berceritera tidak dipercaya orang dan bahkan dianggap gila. Dapat kita bayangkan tanggapan dan sikap orang, jika pada zaman itu ada orang yang berceritera bahwa segala kejadian yang terjadi di dunia dapat kita lihat dan kita saksikan, meskipun jaraknya sangat jauh atau ribuan kilometer; dan kitapun dapat berwawancara dan berkomunikasi dengan orang lain di seluruh dunia tanpa harus dibatasi oleh jarak. Apa saja yang rasanya tidak mungkin terjadi pada zaman itu, sekarang ini sudah dapat kita saksikan dengan mata kepala kita, sehingga tidak mengherankan jika ada sementara orang yang karena silau menyaksikan kecerdasan akal pikiran dan otak manusia yang luar biasa, telah beranggapan bahwa untuk mencapai kebahagiaan hidup yang sejati, manusia cukup mengandalkan kemampuan akal pikiran saja dan tidak perlu agama yang mereka anggap menghambat kemajuan akal pikiran manusia; sehingga agama itu harus disingkirkan jauh-jauh dari kehidupan manusia. Demikianlah pendapat dan faham dari golongan sekuler.
Akan tetapi, betapapun cerdas, jenius dan brilian akal pikiran seseorang, ternyata akal dikiran itu memiliki kelemahan pokok yang tidak akan pernah dapat diatasi oleh akal pikiran itu sendiri. Tiga kelemahan pokok tersebut adalah:
Akal pikiran manusia meskipun cerdas, ternyata tidak dapat mengetahui hakekat kebenaran. Buktinya adalah banyaknya teori kebenaran yang telah dikemukakan oleh para ahli filsafat. Padahal kita tahu bahwa kebenaran yang sejati itu hanyalah satu. Disamping itu, setiap percekcokan, pertengkaran, perkelahian dan peperangan yang terjadi di seluruh dunia ini, sumbernya pastilah karena masing-masing pihak berebut benar.
Akal pikiran manusia meskipun cerdas, ternyata tidak dapat mengetahui hakekat dan letak kebahagiaan hidup. Apa yang dibayangkan oleh seseorang akan membahagiakan hidupnya, ternyata setelah apa yang dibayangkan tersebut tercapai, justeru seringkali mengantarkannya kepada kesengsaraan hidup yang berkepanjangan.
Akal pikiran manusia meskipun cerdas, ternyata tidak mampu menjawab tujuh macam pertanyaan yang diajukan kepadanya, yaitu:
  • Dari mana asal manusia ini sebelum hidup di dunia?
  • Mengapa manusia harus hidup di dunia ini?
  • Siapa gerangan yang menghendaki kehidupan manusia di dunia ini?
  • Untuk apa sebenarnya manusia hidup di dunia ini?
  • Mengapa setelah manusia terlanjur senang hidup di dunia ini dia harus mati, pada hal tidak ada orang yang menginginkan kematian?
  • Siapa sebenarnya yang menghendaki kematian manusia itu?
  • Setelah manusia mati, ruhnya berpisah dengan raganya, kemana ruh manusia itu pergi?
Ketiga macam kelemahan akal pikiran manusia tersebut di atas adalah suatu bukti yang nyata bahwa manusia mutlak memerlukan petunjuk dari Sang Pencipta akal pikiran manusia itu sendiri, dan bukan petunjuk dari selain-Nya.
Oleh karena itu kita wajib bersyukur kepada Allah swt., Pencipta manusia dan alam semesta, yang telah berkenan memberikan petunjuk yang keempat yang dipergunakan untuk menyempurnakan petunjuknya yang ketiga. Petunjuk yang keempat inilah yang dikenal dengan nama "Ad Dien" (agama), yang diberikan oleh Allah swt. kepada manusia melalui para nabi yang diangkat sebagai rasul atau utusan Allah, sejak rasul yang pertama yaitu nabi Adam as. sampai dengan yang terakhir, yaitu Nabi Besar Muhammad saw. Sedangkan petunjuk keempat yang diberikan kepada Nabi Besar Muhammad saw. semuanya telah terkumpul dalam sebuah kitab suci, yaitu Al Qur'anul Karim yang diberikan secara gratis oleh Allah swt. tanpa diminta dan dibeli. Dan sebagaimana petunjuk yang pertama sampai dengan yang ketiga, maka petunjuk yang keempat inipun diberikan oleh Allah swt. untuk kepentingan manusia dalam usaha mencapai kebahagiaan hidup. Disamping sebagai petunjuk, Al Qur'anul Karim juga berfungsi sebagai penjelasan tentang cara melaksanakan petunjuk dan sebagai pemisah antara yang hak dan yang bathil, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 185 yang antara lain berbunyi:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِى اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًا لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ ... الآية
Artinya: "Bulan Ramadlan ialah bulan yang diturunkan pada bulan tersebut Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan sebagai penjelasan tentang petunjuk tersebut dan pemisah (antara yang hak dan yang bathil) ... dst".
Jika petunjuk yang pertama sampai dengan yang keempat diberikan oleh Allah swt. secara gratis tanpa diminta, maka masih ada lagi satu petunjuk yang tidak diberikan secara gratis, tetapi harus diminta, yaitu: "Kasyful Quluub" (tersingkapnya tabir hati). Petunjuk ini adalah petunjuk yang kelima atau yang terakhir yang diberikan oleh Allah swt. kepada manusia.
Orang yang telah mendapatkan petunjuk yang kelima ini, dia tidak hanya mengetahui akan kebenaran agama Islam, akan tetapi dia dapat merasakan betapa nikmat rasanya menjadi orang yang memeluk agama Islam, menjadi orang yang beriman dan melakukan ibadah, khususnya melakukan shalat, karena shalat itu pada hakekatnya adalah menghadap Allah swt. sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw. yang antara lain berbunyi:
وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِى فِى الصَّلاَةِ
... dan telah dijadikan kesenangan hatiku dalam shalat.
Akan tetapi petunjuk ini harus diminta, paling sedikit 17 (tujuh belas) kali sehari semalam, yaitu pada setiap raka'at shalat, pada waktu kita membaca surat Al Fatihah, pada ayat yang berbunyi:
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ
Berilah kami petunjuk jalan yang lurus yang dapat mendekatkan diri kepada-Mu.
Apabila permohonan ini disertai dengan usaha membersihkan hati dari sifat-si-fat yang tercela yang induknya disebutkan oleh Imam Al Ghozali sebanyak sepuluh, yaitu:
  1. Tamak makan
  2. Tamak bicara
  3. Suka marah
  4. Hasud
  5. Bakhil dan senang harta
  6. Ambisi dan gila hormat
  7. Senang dunia
  8. Membanggakan diri
  9. Takabbur
  10. Riya' (mencari simpati manusia dengan amal ibadah)
Kemudian hati yang telah bersih dari sifat-sifat yang tercela itu dihiasi dengan sifat-sifat yang terpuji yang induknya oleh Imam Al Ghozali juga disebutkan sebanyak sepuluh, yaitu:
  1. Taubat
  2. Khouf (khawatir) dan raja' (berharap)
  3. Zuhud
  4. Sabar
  5. SyukurIkhlas dan jujur
  6. Tawakkal
  7. Mencintai Allah
  8. Rela terhadap ketetapan Allah
  9. Selalu mengingat mati dan hakekatnya
Dan dalam setiap ibadah selalu berusaha memusatkan seluruh perhatian jiwa untuk menghadap kepada Allah swt. Maka pada saat Allah swt. berkenan memberikan petunjukNya yang kelima kepada seseorang yang telah melakukan usaha seperti tersebut di atas, Allah swt. memasukkan nur atau cahaya ke dalam hatinya yang akan menerangi seluruh hati dan tubuhnya ... dan di saat inilah orang tersebut merasakan kelezatan iman dan kelezatan ibadah.

Kapankah Al Qur'an itu diturunkan?

Al Qur'an itu diturunkan dua kali, yaitu yang pertama diturunkan sekaligus sebanyak 30 juz dari tempatnya yang asli (lauh makhfudh) ke langit dunia, ditempatkan di suatu tempat yang dinamakan "Baitul 'Izzah" pada suatu malam yang terkenal dengan nama "Lailatul Qadar", sebagaimana firman Allah swt. dalam surat Al Qadar ayat 1 yang berbunyi:
إِنَّا اَنْزَلْنَاهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Sesungguhnya Kami menurunkan Al Qur'an pada malam qadar.
Yang kedua adalah Al Qur'an diturunkan sedikit demi sedikit kepada Nabi Besar Muhammad saw. dalam masa 22 tahun, 2 bulan, dan 22 hari. Ayat yang pertama kali turun pada tanggal 17 Ramadlan pada waktu berada di gua Hira' setelah beliau genap berumur 40 tahun, adalah lima ayat dalam surat Al 'Alaq yang berbunyi:
إِقْرَأْ بِاسْمْ رَبِّكَ الَّذِىْ خَلَقَ * خَلَقَ الإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ * إِقْرَأْ وَرَبُّكَ الاَكْرَمُ * الَّذِىْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ * عَلَّمَ الإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ *
Artinya: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya".
Sedang ayat yang terakhir kali turun sewaktu Nabi Besar Muhammad saw. berada di Mina melakukan haji wada' (haji Nabi saw. yang terakhir kalinya), adalah yang tersebut dalam surat Al Ma'idah ayat 3 yang berbunyi:
... اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِىْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيْنًا ...الآية
Artinya: "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridlai Islam itu jadi agama bagimu...."
Jadi ayat-ayat Al Qur'an yang turun kepada Nabi Besar Muhammad saw. adalah berangsur-angsur dan tidak sekaligus. Hal ini mengandung hikmah yang antara lain:
  • Agar lebih mudah dimengerti dan dilaksanakan. Orang akan enggan melaksanakan perintah dan larangan, sekiranya perintah dan larangan itu diturunkan sekaligus banyak. Hal ini disebutkan oleh Bukhari dari riwayat 'A'isyah ra.
  • Di antara ayat-ayat itu ada yang nasikh dan ada yang mansukh, sesuai dengan kemaslahatan. Ini tidak dapat dilakukan sekiranya Al Qur'an diturunkan sekaligus.
  • Turunnya sesuatu ayat sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi akan lebih mengesankan dan lebih berpengaruh di hati.
  • Memudahkan penghafalan. Orang-orang musyrik yang telah menanyakan mengapa Al Qur'an tidak diturunkan sekaligus, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur'an surat Al Furqan ayat 32 yang berbunyi sebagai berikut:
  • وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْلاَ نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ، كَذلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْــنَاهُ تَرْتِيْلاً.
    Artinya: "Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?. Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya kelompok demi kelompok".
  • Di antara ayat-ayat ada yang merupakan jawaban dari pertanyaan atau penolakan suatu pendapat atau perbuatan, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu 'Abbas ra. Hal ini tidak dapat terlaksana kalau Al Qur'an diturunkan sekaligus.

Cara Al Qur'an diwahyukan

Nabi Muhammad saw. dalam hal menerima wahyu, mengalami bermacam-macam cara dan keadaan, di antaranya:
  1. Malaikat itu memasukkan wahyu itu ke dalam hatinya. Dalam hal ini Nabi saw. tidak melihat sesuatu apapun, hanya beliau merasa bahwa wahyu itu sudah berada saja dalam kalbunya. Mengenai hal ini Nabi saw. mengatakan: "Ruhul Qudus mewahyukan ke dalam kalbuku", sebagaimana disebutkan dalam surat Asy Syuura ayat 51 yang berbunyi:
  2. وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُكَلِّمَهُ اللّهُ اِلاَّ وَحْيًا اَوْ مِنْ وَرَآءِ حِجَابٍ اَوْ يُرْسِلَ رَسُوْلاً فَيُوْحِيَ بِإِذْنِهِ
    مَا يَشَآءُ ، إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيْمٌ.
    Artinya: "Dan tidak mungkin bagi seorang manusia bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizinNya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana".
  3. Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi saw. berupa seorang laki-laki yang mengucapkan kata-kata kepadanya, sehingga beliau mengetahui dan hafal benar akan kata-kata itu.
  4. Wahyu datang kepadanya seperti gemerincingnya lonceng. Cara inilah yang amat berat dirasakan oleh Nabi saw. Kadang-kadang pada keningnya berpancaran keringat, meskipun turunnya wahyu itu di musim dingin yang sangat. Kadang-kadang unta beliau terpaksa berhenti dan duduk karena merasa amat berat, bila wahyu itu turun ketika beliau sedang mengendarai unta. Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit, "Aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika wahyu turun seakan-akan diserang oleh demam yang keras dan keringatnya bercucuran seperti permata. Kemudi an setelah selesai wahyu turun, barulah beliau kembali seperti biasa".
  5. Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi saw., tidak berupa seorang laki-laki seperti keadaan nomor 2, tetapi benar-benar seperti rupanya yang asli.
  6. Hal ini tersebut dalam Al Qur'an surat An Najmu ayat 13 - 14 sebagai berikut:
    وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً اُخْرَى ، عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى.
    Artinya: "Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, yaitu di Sidratil Muntaha."
*Disusun oleh:* Drs। KH. Achmad Masduqi
sumber: http://infopesantren.web.id/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/nuzulul_quran.single?seemore=y

Refleksi Menyambut Nuzulul Quran

Tak Ada Ciptaan Allah yang Sia Sia
Dalam surat Al-Baqarah, Allah SWT menyebutkan bahwa dalam semua ciptaan-Nya tidaklah sia-sia, bahkan seekor nyamuk sekalipun atau bahkan yang lebih rendah daripada itu. Orang mukmin akan beriman terhadap hal itu dan memandangnya sebagai sesuatu yang haq (benar), tetapi si kafir akan mengingkari dan bahkan menganggap tidak perlu Allah mengumpamakan dengan nyamuk atau sebagainya. Ayat-ayat berikut berbicara tentang perumpamaan dan jawaban Allah atas komentar orang-orang kafir tentang hal tersebut. Marilah kita perhatikan kandungan ayat-ayat itu dan penafsiran para ulama.
Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 26-27 (yang artinya):
“Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah. Adapun orang-orang yang beriman meyakini bahwa perumpamaan itu benar-benar dari Tuhan mereka, sementara mereka yang kafir mengatakan, ‘Apa maksud Allah menjadikan perumpamaan ini?’ Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu pula banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik. Yaitu orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah meneguhkannya, memutuskan apa yang diperintahkan Allah kepada mereka unntuk menghubungkannya, dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Baqarah: 26-27).
Ketika Allah memberikan dua perumpamaan tentang orang-orang munafik dalam firman-Nya, “Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api” dan “Atau seperti orang-orang yang ditimpa hujan lebat dari langit”, orang-orang munafik berkata, “Allah terlalu suci dari membuat perumpamaan-perumpamaan seperti ini.” Maka Allah menurunkan ayat ini sampai firman-Nya, “Mereka itulah orang-orang yang rugi.”
Qatadah mengatakan: Ketika Allah menyebut perihal berupa laba-laba atau lalat, orang-orang musyrik berkomentar, “Ada apa denga laba-laba dan lalat sehingga harus disebut-sebut?” Maka Allah menurunkan firman-Nya, “Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah.” Artinya, Allah tidak malu menyatakan kebenaran dengan menggunakan sesuatu yang sedikit atau banyak, atau yang dipandang kecil atau besar.
Mengenai makna firman Allah, “Atau yang lebih rendah dari itu”, terdapat dua pendapat. Pertama, yang lebih kecil atau lebih remeh lagi. Ini pendapat sebagian besar muhaqqiq, kritikus. Pendapat kedua mengatakan bahwa yang dimaksud adalah yang lebih besar daripada itu.
Qatadah bin Di’amah dan Ibnu Jarir adalah sebagian di antara yang berpendapat demikian. Pendapat tersebut dikuatkan oleh haidits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Aisyah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Ketika seorang muslim terkena dud atau yang lebih besar dari itu, ditetapkan baginya satu derajat dan dihapuskan satu kesalahannya.”
Jadi, Allah memberitakan bahwa Dia tidak memandang remeh sesuatu yang diciptakan-Nya sebagai perumpamaan meskipun dipandang hina dan kecil, seperti lalat. Sebagaimana tidak enggan menciptakannya, Allah pun tidak enggan membuatnya menjadi perumpamaan, sebagaimana perumpamaan lalat dan laba-laba dalam firman-Nya, “Sesungguhnya segala yang kalian seru selain Allah sekali-kali tidak dapat mencipkakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemahlah yang disembah.” (QS Al-Hajj: 73).
Begitu juga perumpamaan yang disebutkan dalam ayat-ayat lainnya berikut ini:
“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba, kalau mereka mengetahui.” (QS Al Ankabut: 41).
“Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatu pun.” (QS An-Nahl: 75).
“Dan Allah membuat pula perumpamaan: dua orang laki-laki, yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatu pun dan dia menjadi beban atas penanggungnya itu, dan tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan?” (QS An-Nahl: 76)
“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia, dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (QS Al Ankabut: 43).
Seorang ulama salaf mengatakan, “Jika aku mendengar suatu perumpamaan dalam Al-Quran dan tidak dapat memahaminya, aku menangisi diriku, karena Allah telah berfirman, ‘Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia, dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.”
Qatadah mengatakan bahwa yang dimaksud ‘Adapun orang-orang yang beriman, mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka’ adalah, mereka mengetahui bahwa itu merupakan kalam Allah dan dating dari sisi-Nya.
Firman Allah, “Tetapi mereka yang kafir mengatakan: Apa maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?” adalah seperti firman-Nya, “Dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu, dan supaya orang-orang yang ada di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir mengatakan, ‘Apa yang dikkehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan.’ Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk pada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan dia sendiri.” (QS Al Muddatstsir: 31)
Allah pun berfirman di sini, “Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu pula banyak orang yang diberi-Nya petunjuk, dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.”
Ibnu Abbas mengatakan yang dimaksud firman Allah, “Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan”, adalah orang-orang munafik, sedangkan “Dan dengan perumpamaan itu pula banyak orang yang diberi-Nya petunjuk” adalah orang-orang mukmin.
Allah menambahkan kesesatan kepada orang-orang munafik di samping kesesatan yang telah ada pada mereka karena kedustaan mereka atas apa yang telah mereka ketahui dengan sebenarnya mengenai perumpamaanyang Allah buat itu. Sebaliknya, Allah menambahkan petunjuk dan keimanan kepada orang-orang mukmin di samping petunjuk dan keimanan yang telah ada pada mereka disebabkan mereka membenarkan perumpamaan itu.
Mengenai firman Allah selanjutnya, “Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.” Abu Al’Aliyah mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang munafik. Pengertian fasik secara bahasa adalah orang yang keluar dari ketaatan. Orang fasik meliputi orang kafir, dan orang yang bermaksiat – sekalipun mukmin. Tetapi kefasikan seorang kafir lebih berat dan lebih buruk lagi. Yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang fasik yang kafir.
Dalilnya, mereka digambarkan dalam ayat Al-Quran sebagai berikut, “Yaitu orang-orang yan melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh dan memutuskan apa yang diperintahkan kepada mereka untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.”
Ini adalah sifat-sifat orang kafir yang sangat berbeda dengan sifat-sifat orang mukmin, sebagainama Allah berfirman, “Adakah orang yang mengetahui bahwasannya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar, sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal yang dapat mengambil pelajaran. Yaitu orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian.” (QS Ar-Rad 19-20), sampai firman-Nya, “Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutuan, dan bagi mereka tempat kediaman yang bunik (Jahanam).” (QS Ar-Ra’d: 25).
Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang makna ‘ahd (janji) yang terdapat dalam ayat tersebut yang dikatakan, diputuskan oleh orang-orang fasik. Sebagian mereka mengatakan bahwa yang dimaksud adalah pesan Allah kepada para makhluk dan perintah-Nya kepada mereka agar menaati Allah, dan larangan-Nya agar tidak mendurhakai Allah sebagaimana yang disebutkan dalam kitab-kitab suci dan melalui lisan para rasul. Mereka memutuskannya berarti mereka meninggalkan hal-hal tersebut.
Para ulama berpendapat, itu adalah pada orang-orang kafir dan munafik dari kalangan ahlul kitab. Janji Allah yang mereka rusak adalah yang Dia tetapkan dalam kitab Taurat agar mereka mengamalkan apa yang ada di dalamnya, mengikuti Muhammad SAW apabila mereka telah diutus, membenarkan apa yang dibawa olehnya dari Tuhan mereka. Mereka memutuskan janji itu dengan berlaku ingkar terhadap beliau padahal mereka telah mengetahui hakikatnya dan mereka menyembunyikan pengetahuan tentang itu dari manusia. Inilah pendapat yang dipilih Ibnu Jarir dan juga merupakan pendapat Muqatil bin Hayyan.
Mengenai firman Allah (yang artinya) “Dan mereka memutuskan apa yang diperintahkan Allah kepada mereka untuk menghubungkannya.” Ada pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah hubungan kekeluargaan sebagaimana yang disebutkan oleh Qatadah, seperti juga firman Allah, “Maka apakah kiranya jika kalian berkuasa, kalian akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (QS Muhammad: 22). Ini dikuatkan oleh Ibnu Jarir. Menurut pendapat lain, yang dimaksud adalah lebih umum daripada itu, yakni segala yang Allah perintahkan untuk menghubungkan dan melakukannya.
Muqatil mengatakan bahwa firman Allah, “Mereka itulah orang-orang yang rugi.”, maksudnya merugi di akhirat, sebagaimana yang Allah firmankan, “Orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahanam).”
Pada ayat 28 dari surat Al-Baqarah itu, Allah berfirman (yang artinya):
“Mengapa kalian kafir kepada Allah, padahal kalian tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kalian, kemudian kalian dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kalian dikembalikan.”
Sebagai hujjah atas keberadaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan bahwa dia merupakan Pencipta hamba-hamba-Nya, Allah berfirman, “Mengapa kalian kafir kepada Allah?” Artinya: Mengapa kalian mengingkari keberadaan-Nya atau menyembah yang lain, padahal, “Kalian kalian tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kalian.” Maksudnya: Kalian sebelumnya tidak ada lalu Allah mengadakan kalian sebagaimana yang Allah firmankan, “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini apa yang mereka katakana.” (QS Ath-Thur: 35-36).
Ibn Abbas mengatakan bahwa yang dimaksud ‘Kalian tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kalian’ adalah kalian tadinya mati dalam sulbi orang tua masing-masing, tidak berupa apa-apa sampai Allah menciptakan kalian, kemudian Dia mematikan kalian dengan kematian yang sebenarnya, lalu Allah hidupkan kalian kembali ketika Dia membangkitkan kalian. Ibnu Abbas juga mengatakan bahwa ini seperti firman Allah dalam ayat lain, “Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan Engkau telah menghidupkan kami dua kali pula.” (QS Al-Mu’min: 11).
Adh-Dhahhak menyebutkan keterangan dari Ibnu Abbas mengenai firman Allah itu: Sebelum diciptakan menjadi manusia, kalian berupa tanah. Keberadaan yang pertama itu merupakan kematian. Kemudian Allah menciptakan kalian. Ini merupakan kehidupan. Selanjutnya Dia mematikan dan mengembalikan kalian ke dalam kubur. Ini kematian yang kedua. Setelah itu, Allah membangkitkan kalian di hari kiamat. Itulah kehudupan yang kedua. Jadi, ada dua kematian dan dua kehidupan.
Pada ayat ke 29 surat Al-Baqarah, Allah berfirman (yang artinya):
“Dia-lah Allah, yamg menjadikan segala yang ada di bumi untuk kalian, dan Dia berkehendak bersemayam di langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuat.,”
Setelah menyebutkan keterangan yang menunjukkan bahwa Allah-lah yang menciptakan mereka dan segala yang mereka saksikan pada diri mereka, Dia menyebutkan bukti lain yang mereka saksikan berupa penciptaan langit dan bumi. Maka Allah berfirman sebagaimana tersebut di atas. Did lam ayat ini terdapat petunjuk bahwa Allah lebih dulu menciptakan bumi, kemudian baru menciptakan langit ke tujuh.
Mengenai firman Allah,” Dia-lah Allah, yamg menjadikan segala yang ada di bumi untuk kalian.” Mujahid mengatakan, Allah menciptakan bumi sebelum menciptakan langit. Setelah Dia menciptakan bumi, muncul asap darinya. Di dalam ayat lain disebutkan, “Kemudian Dia bersemayam di langit dan langit itu masih merupakan asap.” (QS Fushshilat: 11). Mujahid juga mengatakan, sebagiannya berada di atas sebagian yang lain. Sedangkan pada tujuh lapis bumi, sebagiannya bertada di bawah sebagian yang lain.
Dinukilkan dari Tafsir Ibnu Katsir. Wallahu A’lam.
Habib Sholeh Ibn Achmad Ibn Salim Alaydrus
http://pesantren.or.id.29.masterwebnet.com/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/nasihat_kyai/habib_soleh-renungan_nuzulul_quran-26sep07.single