Tampilkan postingan dengan label SHOLAT TARAWIH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SHOLAT TARAWIH. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Agustus 2012

ULAMA BETAWI MENOLAK TATA CARA SHALAT TARAWIH 4 RAKAAT SATU SALAM


oleh 'Rizki Zulqornain Al-MuafahPara ulama besar di Tanah betawi menolak shalat tarawih yang dikerjakan dengan cara 4 rakaat sekali salam. sebut saja Allah Yarhamuh Hadrotus syaikh K.H Muhammad Syafii Hadzami Mufti Betawi abad 21 mengatakan:

Tidak dikenal ikhtilaf (perbedaan) antara Imam-Imam mujtahidin yang empat hal bilangan atau jumlah rakaat Qiyam Ramadhan (Shalat Tarawih) melainkan sebagai berikut :
1) 20 rakaat menurut mazhab Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii dan Imam Ahmad Ibn Hambal.
2) 36 rakaat merupakan salah satu riwayat Imam Malik bagi penduduk Madinah.
            Syaikh Abdul Wahhab al-Sya’râniy pun menyebutkan hal ini dalam kitab al-Mîzân al-Kubrâsebagai berikut:
وَمِنْ ذَلِكَ قَوْلُ أَبِي حَنِيْفَةَ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ اَنَّ صَلاَةَ التَّرَاوِيْحَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ عِشْرُوْنَ رَكْعَةً وَاِنَّهَا فِي الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مَعَ قَوْلِ مَالِكٍ فِي اِحْدَى الرِّوَايَاتِ عَنْهُ اِنَها سِتَّةٌ وَثَلاَثُوْنَ رَكْعَةً (الميزان الكبرى ج 1 ص : 185 دار الفكر  د ت)  
Artinya: Sebagian dari yang demikian adalah Qaul Imam Abi Hanifah, Imam Syafii dan Imam Ahmad bahwa Shalat Tarawih di dalam Bulan Ramadhan adalah 20 rakaat dan sesungguhnya berjamaah itu lebih utama disertai Qaul Imam Malik dalam satu riwayat darinya adalah 36 rakaat.
Kaifiyyah 20 rakaat yaitu dikerjakan dengan sepuluh salam dan memberi salam pada tiap dua rakaat. Kata Imam Nawawi dalam kitab Rawdhah” jika seseorang bersembahyang Tarawih 4 rakaat dengan satu salam niscaya tidak sah, karena menyalahi yang disyariatkan. (K.H Muhammad Syafii Hadzami,Risalah Shalat Tarawih, h. 6. )

*****Syaikh Abuya K.H Abdurrahman Nawi pendiri Pondok Pesantren al-Awwabin Depok menegaskan:
Shalat Tarawih hukumnya Sunah muakkadah. Bilangan rakaatnya yaitu:
1) Bagi kita 20 rakaat (ijma’ para sahabat).
2) Bagi Ahli Madinah 36 rakaat.
Waktunya Ba’da Shalat Isya hingga fajar shodiq.
Perhatian!!!
1) Dilakukan dengan 10 salam.
2) Tidak sah dilakukan 4 rakaat satu salam.
3) Sunah dijamaahkan. (K.H Abdurrahman Nawi Tebet, Kitab 7 Kaifiyyat Shalat sunah, h. 11)

***** Syaikh Abuya K.H Saifuddin Amsir pendiri pondok pesantren al-Asyirah al-Qur'aniyyah Jakarta memberikan komentar:
Banyak orang mengerjakan shalat Tarawih dengan cara 4 rakaat sekali salam, 4 rakaat sekali salam, dengan dalil hadis Siti Aisyah sebagai berikut:
مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَة يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي.
Artinya: Rasulullah tidak pernah melakukan shalat malam (sepanjang tahun) pada bulan Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari 11 rakaat. Beliau shalat 4 rakaat jangan engkau bertanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat 4 rakaat jangan engkau bertanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat 3 rakaat. Kemudian aku bertanya ”Ya Rasulullah apakah kamu tidur sebelum shalat Witir”? Kemudian beliau menjawab: ”Aisyah, meskipun kedua mataku tidur, hatiku tidaklah tidur”.
            Hadis yang dijadikan dalil, bukan hadis tentang shalat Tarawih, hadis tersebut adalah hadis pada pekerjaan shalat malam Rasulullah pada umumnya, yakni shalat Witir. Karenanya para Fuqaha (ahli Fiqh) tidak menyetujui untuk menjadikan hadis tersebut sebagai dalil shalat Tarawih. Dengan alasan shalat Tarawih merupakan ibadah khusus yang hanya dilakukan pada bulan Ramadhan, dan jumlah bilangan shalat Tarawih 20 rakaat ditambah shalat Witir 3 rakaat, telah disosialisasikan oleh para sahabat, dalam hal ini adalah Sayidina Umar Ibn Khatthab yang disepakati dan disetujui oleh para sahabat lainnya. Lantaran pada umumnya para Imam tidak mempunyai kemampuan untuk mengingkari apa yang menjadi perintah Rasulullah:
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ فَتَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ 
Artinya; Hendaklah kalian ikuti sunahku dan sunah para Khalifah yang mendapat petunjuk setelahku, peganglah dengan kuat dan gigitlah olehmu dengan geraham ”.[1]
Pelanggaran terhadap yang disepakati para sahabat merupakan pelanggaran terhadap agama.Sehingga dalam Mazhab Syafii, kalau shalat Tarawih dikerjakan bukan dengan cara 2 rakaat, 2 rakaat, shalat Tarawih tersebut dipandang batal/tidak sah.
Oleh sebab itu, shalat Qiyam Ramadhan yang lebih populer di kota Makkah, Madinah dan berbagai negara Islam juga tidak berani beranjak dari situ, paling-paling sedikit penambahan dari jumlah rakaat yang dilaksanakan di zaman Sayidina Umar Ibn Khatthab itu 23 rakaat, tetapi orang yang ingin memperbanyak ibadah tidak ada salahnya menambah rakaat. Jadi pada zaman dahulu inisiatif penduduk kota Madinah untuk menambahkan jumlah rakaat, merupakan pengganti tradisi penduduk kota Makkah yang biasanya setelah tiap 4 rakaat (2 salam) mereka melakukan tawaf, karena memang ada Ka’bah di situ. Sedangkan di Madinah tidak terdapat tempat untuk bertawaf, sehingga menjadi kuat dalil bahwa sahabat- sahabat Nabi di Makkah itu bertawaf pada bilangan-bilangan tertentu, yakni setelah 4 rakaat mereka bertawaf.
Hal ini diperkuat dalilnya dengan amaliyah penduduk kota Madinah, khususnya pada pemerintahan Khalifah Umar Ibn Abdul Aziz yang menambahkan jumlah rakaat shalat Tarawih menjadi 36 rakaat di luar shalat Witir. Hal ini bukan dalil yang mengatakan khilaf-khilafnya, tetapi justru memperkuat bahwa itulah yang terjadi di zaman para sahabat, karena Rasulullah tidak membatasi jumlah rakaat shalat Tarawih, para sahabat yang lebih mengatur itu dan memiliki concern (perhatian) terhadap hal tersebut.
 Untuk mencegah terjadinya kekacauan yang berkepanjangan di dunia Islam, Sayidina Umar Ibn Khatthab memikirkan jumlah-jumlah rakaat shalat sunah yang dilakukan Rasulullah, jadi hal tersebut sudah dipikirkan oleh Sayidina Umar Ibn Khatthab secara Taftisy (matang dan teliti) dengan ketepatan jumlah rakaat yang dilakukan Rasulullah, ketika dihitung hadis-hadis yang membicarakan tentang jumlah rakaat shalat sunah Rasulullah, ketika digabung-gabung, tepat 20 rakaat, dari keterangan hadis yang zhahir-zhahir.
Apa yang dilakukan oleh Sayidina Umar Ibn Khatthab tidak beranjak dari apa yang dikerjakan Rasulullah. Hal ini menjadi sunah sahabat. Sunah sahabat tidak boleh dianggap remeh, ulama berpendapat seperti itu. Kalau sunah sahabat mulai dikorbankan untuk perasaan, maka lambat laun apa saja bisa dikorbankan. Ini yang menyebabkan shalat Tarawih yang dilakukan sebanyak 20 rakaat dilakukan dengan 2 rakaat, 2 rakaat, 2 rakaat dan seterusnya ditutup dengan shalat Witir 3 rakaat dapat berusia panjang dan sampai saat ini masih dilaksanakan.
Dalam kitab (التراويح أكثر من ألف عام في مسجد النبي عليه الصلاة والسلام ) karya Syaikh Athiyyah Muhammad Salim, seorang Qadhi Mahkamah Syariah, ahli hadis dan pakar fiqh di Madinah; Saudi Arabia, juga merupakan salah seorang murid utama seorang raksasa ilmu di zamannya yaitu Syaikh Muhammad al-Amin Ibn Muhammad Mukhtar al-Syinqithiy (w. 1393 H). Syaikh Athiyyah Muhammad Salim, memiliki perhatian khusus tentang dalil shalat Tarawih. Hal ini harus diperhatikan, sebab sekarang orang tidak lagi mau mentahqiq (mengkaji ulang) soal dalil, orang sudah begitu sibuk dengan berbagai kesibukan. Jadi, di luar kota Makkah ada juga yang mengerjakan shalat Tarawih 11 rakaat, dengan alasan, itulah hadis yang zhahir dari Rasulullah. Hanya saja, hal ini akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana mengikuti para sahabat Rasulullah yang sebenarnya.
Karena jika shalat Tarawih 11 rakaat yang paling benar, tentunya 3 abad setelah Rasulullah, shalat Tarawih 11 rakaat dengan berjamaah itu sudah menjadi populer. Padahal kenyataannya shalat 11 rakaat populer baru belakangan ini. Shalat Tarawih 20 rakaat yang lebih populer, setelah Sayidina Umar Ibn Khattab wafat, Sayidina Usman melanjutkan shalat Tarawih 20 rakaat, demikian pula dengan Sayidina Ali, mengerjakan shalat Tarawih seperti yang disepakati oleh para sahabat dan tidak ada riwayat yang zhahir yang menyatakan bahwa Sayidina Ali menentang shalat Tarawih 20 rakaat. Ini yang menyebabkan shalat Tarawih 20 rakaat tetap bertahan. Dalam sekian banyak riwayat, kita temukan riwayat yang menjelaskan tambahan rakaat shalat Tarawih dari 20 rakaat, tetapi kita tidak menemukan riwayat shalat Tarawih yang kurang dari 20 rakaat. Kalaupun ada akan mengkhilafkan mayoritas umat Islam yang begitu banyaknya.
Menurut Mazhab Syafii shalat Tarawih yang dikerjakan dengan cara 4 rakaat sekali salam hukumnya dikatakan tidak sah dengan beberapa alasan. Tetapi yang jelas alasan-alasan tersebut merupakan ittiba’ (mengikuti) kepada Rasulullah dan para sahabat yang tidak boleh diganggu oleh kreasi baru, jika ada kreasi baru, maka kreasi tersebut tidak akan jelas namanya. Karena istilah Tarawih telah jelas kita pahami, seperti yang kita ketahui saat ini, Tarawih adalah shalat sunah yang hanya ada pada bulan Ramadhan dikerjakan dengan 20 rakaat terdiri dari 10 salam, dikerjakan dengan salam pada tiap 2 rakaatnya dan tiap 4 rakaat disebut 1 tarwihah (istirahat).
Penduduk Makkah mengerjakan tawaf pada tiap selesai satu tarwihah. Pelaksanaannya di awal malam disertai adanya pendapat mengerjakan shalat Tarawih di akhir malam itu lebih utama.  Jadi, penamaan akan membentuk satu istilah, kalau sudah ada istilah, maka definisinya akan menjadi jelas, karenanya orang yang mengerjakan shalat 4 rakaat dengan sekali salam dengan niat shalat Tarawih, maka hukum shalat Tarawihnya tidak sah. Jika shalat tersebut tidak dinamakan shalat Tarawih, maka sah-sah saja dilakukan.
Apa yang dilafazkan dan dikerjakan oleh Rasulullah seharusnya dijadikan pilihan terbaik. Hadis ( صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ) bukan hadis yang tidak kuat. Sedangkan shalat dengan 4,4,3 cuma merupakan salah satu riwayat dari sekian banyak riwayat shalat malam Rasulullah, yang pernah dilihat oleh Siti Aisyah dan hal tersebut dipertimbangkan oleh para ulama, lantaran Siti Aisyah merupakan istri Rasulullah. Jadi, sesuatu yang Rasulullah sebutkan merupakan anjurannya dan keduanya boleh berjalan. Tetapi mayoritas ulama menganggap shalat malam yang dikerjakan dengan cara 2 rakaat-2 rakaat adalah yang lebih baik kita ambil. Karena merupakan anjuran Rasulullah yang didasarkan kepada perkataan dan perbuatan Rasulullah. Sedangkan hadis 4,4,3 hanya berdasarkan perbuatan yang diceritakan oleh Siti Aisyah dalam salah satu riwayatnya.
Untuk memahami kandungan hadis-hadis Rasulullah dengan baik dan benar seseorang bukan hanya dituntut banyak membaca hadis tetapi juga ia harus mendalami fiqhul hadis (pemahaman hadis).
Dalam risalah ini menjelaskan pemaparan tentang perkara-perkara terpenting dalam shalat Tarawih secara sederhana. Dengan demikian risalah ini menjadi tulisan yang dapat dihayati dan sangat layak dibaca oleh siapa saja yang ingin memahami secara benar dan mau menyelamatkan perkara ibadahnya.
Semoga Allah melimpahkan pahala yang besar kepada penyusun risalah ini atas usahanya, mudah-mudahan Allah memperbanyak orang-orang yang mau mengikuti langkah-langkah mulia ini dalam berpegang teguh kepada kebenaran. Amin.

 *** Syaikh Maulana Kamal Yusuf guru besar ulama Jakarta menambahkan:
Tuduhan Bid’ah, kufur, musyrik, dan sesat sangat sering dilontarkan oleh sekelompok orang dengan mengatasnamakan Sunnah. Kelompok ini giat menyebarkan buku-buku, selebaran-selebaran, dan kitab-kitab yang berisi tuduhan keji terhadap pelbagai persoalan keagamaan masyarakat seperti: Nisfu Sya’ban, Tahlilan, Haul, merayakan Maulid, Tawassulan, ziarah para wali dan lain-lain. Padahal kalau diteliti secara mendalam, amal ibadah maupun muamalah yang berkembang dan berurat akar dalam tradisi masyarakat itu memiliki landasan kokoh dari al-Qur’an, Hadis dan pendapat para ulama yang dapat dipertanggung-jawabkan.
Mereka tidak memahami al-Qur’an dan hadis secara syamil (menyeluruh). Pandangan mereka sempit, sehingga mereka gampang mengatakan Musyrik, Kafir, memvonis Bid’ah sesat terhadap praktek/amaliah orang lain yang memiliki dasar dan argumentasi kuat yang juga telah menjadi tradisiAhlussunnah Wal-Jamaah. Rasulullah mengatakan dalam sabdanya:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهِ أَحَدُهُمَا (رواه البخاري) .  
Artinya: ”Sesungguhnya Rasulullah bersabda: Apabila seseorang memanggil saudaranya yang muslim dengan kalimat “Wahai Kafir maka akan kembali kalimat itu kepada salah satu dari keduanya”.
Pernyataan mereka dalam buku-buku atau kitab-kitab yang banyak beredar sangat berbahaya khususnya bila dibaca oleh orang-orang awam. Karena faktor ketidaktahuan, mereka yang awam menerima langsung atau menelan mentah-mentah isi buku/kitab tersebut tanpa mencoba untuk menelaah lebih lanjut isu-isu negatif yang telah disebarkan di dalamnya. Keadaan orang-orang awam ketika itu bagaikan orang yang makan ikan tanpa menyiangi (membersihkan sisik, kotoran dan duri ikan) terlebih dahulu yang menyebabkan dirinya bukan hanya ketulangan tapi lebih dari itu, ia akan tersendat, orang Betawi bilang dengan istilah “kesungkakan.”
Di antara tuduhan keji yang mereka katakan bahwa: ”Shalat Tarawih yang dikerjakan para sahabat dengan 20 rakaat dalilnya lemah dan termasuk Bid’ah sesat.” Menurut mereka jumlah rakaat shalat Tarawih itu hanya 11 rakaat, shalat Tarawih yang lebih dari 11 rakaat adalah Bid’ah sesat. Mereka berani menganggap shalat Tarawih 20 rakaat sebagai hadis lemah dan Bid’ah sesat beralasan dengan hadis Siti Aisyah yang menurut mereka telah memberikan sinyal bahwa shalat Tarawih hanya 11 rakaat.”
مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَة يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي.
Artinya: Rasulullah tidak pernah melakukan shalat malam (sepanjang tahun) pada bulan Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari 11 rakaat. Beliau shalat 4 rakaat jangan engkau bertanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat 4 rakaat jangan engkau bertanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat 3 rakaat. Kemudian aku bertanya ”Ya Rasulullah apakah kamu tidur sebelum shalat Witir”? Kemudian beliau menjawab: ”Aisyah, meskipun kedua mataku tidur, hatiku tidaklah tidur”.
”Perlu diketahui bahwa hadis Siti Aisyah di atas merupakan hadis yang menyatakan dalil shalat Witir, bukan dalil shalat Tarawih. Apabila hadis Aisyah di atas sebagai dalil shalat Tarawih, Maka kita pantas mempertanyakan adakah shalat Tarawih selain di bulan Ramadhan? dan mengapa Sayidina Umar Ibn Khatthab dan para sahabat mengerjakan shalat Tarawih dengan 20 rakaat?
Dari perkataan Siti Aisyah : (فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ ) ”(Pada bulan Ramadhan dan di selain Ramadhan), jelas sekali kita dapat memahami bahwa shalat yang Siti Aisyah lihat adalah shalat malam Rasulullah yang beliau kerjakan sepanjang tahun baik pada bulan Ramadhan dan di bulan lainnya. Oleh karenanya, sangat tepat 11 rakaat dalam hadis tersebut adalah dalil shalat Witir, bukan sebagai dalil shalat Tarawih. Karena shalat Witir ada di bulan Ramadhan dan di bulan lainnya. Sedangkan shalat Tarawih hanya khusus pada bulan Ramadhan dikerjakan dengan 2-2 (tiap 2 rakaat salam). Berbeda dengan pelaksanaan shalat Witir yang boleh dikerjakan lebih dari 2 rakaat pada setiap salamnya.
Namun demikian, menurut para ulama maksud dari 4 rakaat dalam hadis Siti A’isyah di atas, masih memiliki ihtimal (kemungkinan) bahwa Rasulullah melakukannya 4 rakaat dengan 1 salam, bisa juga dipahami 4 rakaat beliau kerjakan dengan 2 salam yakni 2 rakaat- 2 rakaat. Tetapi bila 4 rakaat dilakukan dengan cara 2 rakat- 2 rakaat, pendapat inilah yang lebih selamat dan bisa dipertanggungjawabkan. Sebagaimana ada keterangan hadis shahih yang mengatakan shalat malam itu dilakukan dengan cara 2 rakaat- 2 rakaat.
Ada kaidah mengatakan:” [1]( اِذَا ظَهَرَ اْلاِحْتِمَالُ سَقَطَ اْلاِسْتِدْلاَلُ ) artinya: “Apabila terjadi kemungkinan-kemungkinan maka hal itu menyebabkan gugurnya Istidlal (menjadikan dalil)”. Maksudnya adalah Pendapat yang memahami 4 rakaat dikerjakan dengan sekali salam itu tidak bisa dijadikan dalil, karena pendapat itu hanya sebuah kemungkinan. Sesuatu yang mengandung kemungkinan dinyatakan gugur manakala ada dalil yang lebih jelas. Hadis Nabi yang menyatakan shalat malam dilakukan dengan 2 rakaat- 2 rakaat sangat cocok untuk mengkompromikan dan memahami hadis Siti A’isyah tersebut”.
Saya berharap agar kaum muslimin dapat membaca risalah ini secara tuntas. Di samping itu juga harus banyak mengkaji serta bertanya kepada para ulama yang memiliki ilmu yang syamil (menyeluruh). Sehingga tidak gampang terkecoh dan terprovokasi (terhasut) oleh tulisan-tulisan atau pendapat sekelompok orang yang menyalahkan praktek/amaliah yang selama ini dilakukan oleh masyarakat berdasarkan tuntunan ulama. Shalat Tarawih 20 rakaat dengan 10 salam memiliki dalil yang kuat dan jelas. Jangan terkecoh dengan pendapat orang yang mengatakan shalat Tarawih hanya 8 rakaat dikerjakan dengan 4 rakaat-4 rakaat sekali salam dengan berdalil hadis riwayat Siti Aisyah.
Menurut para ulama, hadis tersebut berbicara tentang dalil shalat Witir Rasulullah, bukan dalil shalat Tarawih. 11 rakaat adalah jumlah maksimal shalat Witir. Sedangkan minimal shalat Witir adalah satu rakaat. Betapa batilnya tuduhan-tuduhan orang yang tidak menyetujui shalat Tarawih 20 rakaat dengan menggunakan dalil, satu hadis Siti Aisyah yang menerangkan satu paket shalat Witir, mereka pecah menjadi dua dalil sekaligus, 8 rakaat untuk shalat Tarawih dan 3 rakaat untuk shalat Witir. Semoga kelompok yang tidak suka dengan shalat Tarawih 20 rakaat dapat merenungkan hal ini.
Saya sangat menyambut baik dan gembira atas terbitnya risalah ini yang disusun oleh orang yang memiliki ilmu dan menimba ilmu dengan bertemu langsung kepada para Masyaikh (guru) serta mempunyai kerajinan yang luar biasa dalam mengumpulkan literatur pembahasan yang ia tekuni. Kajian di dalamnya sangat dibutuhkan umat yang selalu ingin berjalan di jalan yang benar dalam memahami shalat Tarawih. Semoga penulis diberikan balasan yang berlanjut atas jerih payahnya mengukir karya berharga ini, dan mudah-mudahan banyak manfaat fiddunya Wal akhirah. Amin.

PANTUN SHALAT TARAWIH 4 RAKAAT SATU SALAM

PANTUN BETAWI
Beli ban di uwa rindon.
Ada uban ditaro jerami.
Marhaban Ya Ramadhon.
Marhaban Syahros Shiyami.

Sodara mindon dari Kwitang.
Gelar sejadah di bulakan.
Bulan Ramdhon telah datang.
Mari ibadah kita tingkatkan.

Naek delman ke kampung Muara.
Pulang-pulang beli markisa.
Orang beriman pada gembira.
Yang kurang iman pada gelisah.

Baju koko dari kebayoran.
Ada cewe menangkap ikan.
Puasa, shodaqoh, membaca al-Qur’an.
Sholat Taraweh ama I’tikaf jangan dilupakan.

Jengkol bewe dibawa ke kota Jedah.
Duduk sesaat ngiket buntelan.
Sholat Taraweh hukumnya Sunnah Muakkadah.
20 rakaat lebih mendapat keafdholan.

Malam Jumaat beli kue talam.
Ikan sepat, nasi kebuli keminyakan.
Tiap 2 rakaat, wajib memberi salam.
4 rakaat sekali salam, ulama salahkan.

Sisik Melik di air keruh.
Ada kopi di bawah bantal.
Mazhab Ahmad, Imam Malik berkata ”Makruh.”
Mazhab Imam Syafii berkata ”Batal.”
Naek beca ke rumah mantu.
Ketepeng reges daon paya pada tumpah.
Liat aja kitab Fiqih Islam Wa adillatuh.
Lebih teges lagi ente baca kitab Nihayah ama Tuhfah.

Jam satu ke Pedaengan pake sendal lili.
Pulangnya beli kelapa, paya ama kembili.
Fiqih Islam Wa adillatuh karangan Wahbah Zuhayli.
Tuhfah, Nihayah karya Ibn Hajar dan Imam Romli.

Makan urab pake ikan asin.
Metik pete di kobak perin.
Kitab-kitab udah ane tulisin.
tinggal ente baca ama ente pikirin.
Ke rawa nyasar dapat ikan pala tima.
Beli gado-gado di Bambu apus pake ampela.
Siapa yang berjiwa besar, bisa nerima.
Orang bodoh, ape mampus tetep keras kepala.

Kaen katun kesangkut pahat.
Ikan belanak mati direndem.
Pantun ini buat nasehat.
Kalo ada yang kaga enak jangan pada dendem.

Pohon saga bercabang tujuh.
Buah ciplukan udah pada mateng.
Siapa aja yang kaga setuju.
Ane persilahkan dia dateng.

Rebah-rebahan di pohon korma.
Sumur Zamzam banyak yang liat.
Mudah-mudahan ibadah kita diterima.
Panjang umur sehat wal afiat.

 (H. Rizki Zulkarnain Asmat)

Senin, 29 Agustus 2011

Problematika Bilangan Rakaat Shalat Tarawih


tarawih 
Bulan Ramadhan adalah bulan termulia; bulan turunnya Al-Qur`an untuk pertama kali, bulan penuh ampunan, rahmah serta ridho Allah Subhanahu wa Ta`ala, bulan yang penuh dengan momen-momen terkabulnya doa, di bulan ini terdapat lailatul qadar, yakni suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan.
Bulan Ramadhan merupakan kesempatan emas bagi umat Islam untuk memperbanyak pahala dengan melakukan berbagai macam amal ibadah.
Diantara ibadah yang mendapat penekanan khusus pada bulan Ramadhan adalah qiyam Ramadhan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa melaksanakan qiyam pada (malam) bulan Ramadhan karena meyakini keutamaannya dan karena mencari pahala (bukan karena tujuan pamer atau sesamanya), maka diampuni dosa-dosanya yang telah lewat”. (Muttafaq `alaih).
Qiyam Ramadhan yang dimaksud pada hadis di atas bisa dilaksanakan dengan shalat Tarawih atau ibadah lainnya.(1)
Kontroversi Jumlah Rakaat Shalat Tarawih
Perdebatan seputar jumlah rakaat shalat tarawih bukanlah hal baru dalam kajian hukum Islam. Perdebatan itu adalah perdebatan klasik dan telah ada sejak masa para ulama salaf. Imam Ishaq bin Manshur pernah bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal tentang jumlah rakaat shalat qiyam Ramadhan yang beliau kerjakan. Beliau menjawab: “Ada sekitar empat puluh pendapat mengenai masalah ini.” Imam al-`Aini menyebutkan sebelas pendapat ulama seputar jumlah raka`at shalat Tarawih.(2)
Walaupun terjadi perbedaan semacam itu, perlu diketahui, shalat Tarawih boleh untuk dilakukan hanya dua rakaat saja atau berpuluh-puluh rakaat.(3) Syekh Ibnu Taimiyah berkata : “Barangsiapa yang menduga bahwa sesungguhnya qiyam Ramadhan memiliki bilangan tertentu yang ditentukan oleh Nabi shallallahu alihi wa sallam, tidak boleh ditambah atau dikurangi, maka sungguh dia telah salah.”(4) Para ulama hanya berbeda pendapat dalam menentukan jumlah rakaat yang paling utama.(5) Kebanyakan ulama memilih dua puluh rakaat.(6) Namun ada juga beberapa pendapat yang memilih selain dua puluh, seperti sebelas (delapan rakaat Tarawih dan tiga rakaat Witir) dan lain-lain.(7) Ibnu Taimiyah menganggap semuanya baik dan boleh dikerjakan.(8)
Perbedaan ini muncul karena di dalam hadis-hadis yang shahih, tidak ada kejelasan berapa rakaat Nabi shallallahu alaihi wa sallam melakukan qiyam Ramadhan. Yang jelas Nabi shallallahu alaihi wa sallam melakukan qiyam Ramadhan yang kemudian dikenal dengan shalat Tarawih itu selama dua atau tiga malam saja dengan berjamaah di masjid. Malam ketiga atau keempat, beliau ditunggu-tunggu, tetapi beliau tidak keluar. Sejak saat itu, sampai beliau wafat bahkan sampai pada awal masa Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu `anhu, tidak ada yang melakukan shalat Tarawih secara berjamaah dengan satu imam di masjid.(9)
Dalil Tarawih 20 Rakaat

Mayoritas ulama berpendapat bahwa bilangan rakaat shalat Tarawih yang paling afdhal adalah dua puluh rakaat.
Berikut ini adalah dalil-dalil yang di jadikan pijakan untuk mendukung pendapat tersebut.
1. Hadis mauquf.

وعن ابن شهاب عن عروة بن الزبير عن عبد الرحمن بن عبد القاري، أَنَّهُ قَالَ : خَرَجْت مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إلَى الْمَسْجِدِ ، فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ ، يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ ، وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ . فَقَالَ عُمَرُ : إنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ ، ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ . ثُمَّ خَرَجْت مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ . قَالَ عُمَرُ : نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ…

“Diriwayatkan dari Ibnu Syihab, dari `Urwah bin al-Zubair, dari Abd. Rahman bin Abd. al-Qari, ia berkata: “Pada suatu malam di bulan Ramadhan, saya keluar ke masjid bersama Umar bin al-Khatthab. Kami mendapati masyarakat terbagi menjadi beberapa kelompok yang terpisah-pisah. Sebagian orang ada yang shalat sendirian. Sebagian yang lain melakukan shalat berjamaah dengan beberapa orang saja.
Kemudian Umar berkata: “Menurutku akan lebih baik jika aku kumpulkan mereka pada satu imam.” Lalu Umar berketetapan dan mengumpulkan mereka pada Ubay bin Ka`ab. Pada kesempatan malam yang lain, aku (Rahman bin Abd. al-Qari) keluar lagi bersama Umar. (dan aku menyaksikan) masyarakat melakukan shalat secara berjamaah mengikuti imamnya. Umar berkata: “Ini adalah sebaik-baik bid`ah…” (HR. Bukhari).

Di dalam hadis yang lain disebutkan, bilangan rakaat shalat Tarawih yang dilaksanakan pada masa Khalifah Umar bin al-Khatthab adalah dua puluh.

عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : (كَانُوا يَقُومُونَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً.


“Diriwayatkan dari al-Sa`ib bin Yazid radhiyallahu `anhu. Dia berkata : “Mereka (para shahabat) melakukan qiyam Ramadhan pada masa Umar bin al-Khatthab sebanyak dua puluh rakaat.”
Hadis kedua ini diriwayatkan oleh Imal al-Baihaqi di dalam al-Sunan al-Kubro, I/496. dengan sanad yang shahih sebagaimana dinyatakan oleh Imam al-`Aini, Imam al-Qasthallani, Imam al-Iraqi, Imam al-Nawawi, Imam al-Subki, Imam al-Zaila`i, Imam Ali al-Qari, Imam al-Kamal bin al-Hammam dan lain-lain.(10)
Menurut disiplin ilmu hadis, hadis ini di sebut hadis mauquf (Hadis yang mata rantainya berhenti pada shahabat dan tidak bersambung pada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam). Walaupun mauquf, hadis ini dapat dijadikan sebagai hujjah dalam pengambilan hukum (lahu hukmu al-marfu`). Karena masalah shalat Tarawih termasuk jumlah rakaatnya bukanlah masalah ijtihadiyah (laa majala fihi li al-ijtihad), bukan pula masalah yang bersumber dari pendapat seseorang (laa yuqolu min qibal al-ra`yi).(11)
2. Ijma` para shahabat Nabi.
Ketika Sayyidina Ubay bin Ka`ab mengimami shalat Tarawih sebanyak dua puluh rakaat, tidak ada satupun shahabat yang protes, ingkar atau menganggap bertentangan dengan sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Apabila yang beliau lakukan itu menyalahi sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, mengapa para shahabat semuanya diam? Ini menunjukkan bahwa mereka setuju dengan apa yang dilakukan oleh Sayyidina Ubay bin Ka`ab. Anggapan bahwa mereka takut terhadap Sayyidina Umar bin al-Khatthab adalah pelecehan yang sangat keji terhadap para shahabat. Para shahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah orang-orang yang terkenal pemberani dan tak kenal takut melawan kebatilan, orang-orang yang laa yakhofuna fi Allah laumata laa`im. Bagaimana mungkin para shahabat sekaliber Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Sayyidina Utsman bin Affan, Sayyidina Abu Hurairah, Sayyidah A`isyah dan seabrek shahabat senior lainnya (radhiyallahu `anhum ajma`in) kalah berani dengan seorang wanita yang berani memprotes keras kebijakan Sayyidina Umar bin al-Khatthab yang dianggap bertentangan dengan Al-Qur`an ketika beliau hendak membatasi besarnya mahar?(12)
Konsensus (ijma`) para shahabat ini kemudian diikuti oleh para tabi`in dan generasi setelahnya. Di masjid al-Haram Makkah, semenjak masa Khalifah Umar bin al-Khatthab radhiyallahu `anhu hingga saat ini, shalat Tarawih selalu dilakukan sebanyak dua puluh rakaat. KH. Ahmad Dahlan, pendiri Perserikatan Muhammadiyah juga melakukan shalat Tarawih sebanyak dua puluh rakaat, sebagaimana informasi dari salah seorang anggota Lajnah Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang sekaligus pembantu Rektor Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA. Para ulama salaf tidak ada yang menentang hal ini. Mereka hanya berbeda pendapat mengenai kebolehan melakukan shalat Tarawih melebihi dua puluh rakaat.(13)
Imam Ibnu Taimiyah yang di agung-agungkan oleh kelompok pendukung Tarawih delapan rakaat, dalam kumpulan fatwanya mengatakan:
“Sesungguhnya telah tsabit (terbukti) bahwa Ubay bin Ka`ab mengimami shalat pada bulan Ramadhan dua puluh rakaat dan Witir tiga rakaat. Maka banyak ulama berpendapat bahwa hal itu adalah sunnah, karena Ubay bin Ka`ab melakukannya di hadapan para shahabat Muhajirin dan Anshar dan tidak ada satupun di antara mereka yang mengingkari…”(14)
Di samping kedua dalil yang sangat kuat di atas, ada beberapa dalil lain yang sering digunakan oleh para pendukung Tarawih dua puluh rakaat. Namun, menurut hemat penulis, tidak perlu mencantumkan semua dalil-dalil tersebut. Karena di samping dha`if, kedua dalil di atas sudah lebih dari cukup.

Dalil Tarawih 8 Rakaat
Sebagian ulama ada yang berpendapat shalat Tarawih delapan rakaat lebih afdhal. Bahkan ada yang ekstrim, yaitu sebagian umat Islam yang berkeyakinan shalat Tarawih tidak boleh melebihi delapan rakaat. Syekh Muhammad Nashir al-Din al-Albani berpendapat bahwa shalat Tarawih lebih dari sebelas rakaat itu sama saja dengan shalat Zhuhur lima rakaat.(15)
Berikut ini adalah beberapa dalil yang biasa mereka gunakan untuk membenarkan pendapatnya sekaligus sanggahannya.
1. Hadis Ubay bin Ka`ab :

أخبرنا أحمد بن علي بن المثنى ، قال : حدثنا عبد الأعلى بن حماد ، قال : حدثنا يعقوب القمي ، قال : حدثنا عيسى بن جارية ، حدثنا جابر بن عبد الله ، قال : جاء أبي بن كعب إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله ، إنه كان مني الليلة شيء – يعني في رمضان – قال : وما ذاك يا أبي ؟ قال : نسوة في داري قلن : إنا لا نقرأ القرآن ، فنصلي بصلاتك ، قال : فصليت بهن ثماني ركعات ، ثم أوترت ، قال : فكان شبه الرضا ، ولم يقل شيئا.

Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata : “Ubay bin Ka`ab datang menghadap Nabi shallallahu alaihi wa sallam lalu berkata : “Wahai Rasulullah tadi malam ada sesuatu yang saya lakukan, maksudnya pada bulan Ramadhan.” Nabi shallallahu alaihi wa sallam kemudian bertanya: “Apakah itu, wahai Ubay?” Ubay menjawab : “Orang-orang wanita di rumah saya mengatakan, mereka tidak dapat membaca Al-Qur`an. Mereka minta saya untuk mengimami shalat mereka. Maka saya shalat bersama mereka delapan rakaat, kemudian saya shalat Witir.” Jabir kemudian berkata : “Maka hal itu sepertinya diridhai Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan beliau tidak berkata apa-apa.” (HR. Ibnu Hibban).
Hadis ini kualitasnya lemah sekali. Karena di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Isa bin Jariyah. Menurut Imam Ibnu Ma`in dan Imam Nasa`i, Isa bin Jariyah adalah sangat lemah hadisnya. Bahkan Imam Nasa`i pernah mengatakan bahwa Isa bin Jariyah adalah matruk (hadisnya semi palsu karena ia pendusta). Di dalam hadis ini juga terdapat rawi bernama Ya`qub al-Qummi. Menurut Imam al-Daruquthni, Ya`qub al-Qummi adalah lemah (laisa bi al-qawi).(16)

2. Hadis Jabir :

حدثنا عثمان بن عبيد الله الطلحي قال نا جعفر بن حميد قال نا يعقوب القمي عن عيسى بن جارية عن جابر قال صلى بنا رسول الله صلى الله عليه و سلم في شهر رمضان ثماني ركعات وأوتر.

Dari Jabir, ia berkata : “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah mengimami kami shalat pada bulan Ramadhan delapan rakaat dan Witir.” (HR. Thabarani).(17)
Hadis ini kualitasnya sama dengan Hadis Ubay bin Ka`ab di atas, yaitu lemah bahkan matruk (semi palsu). karena di dalam sanadnya terdapat rawi yang sama, yaitu Isa bin Jariyah dan Ya`qub al-Qummi.(18)
3. Hadis Sayyidah A`isyah tentang shalat Witir :

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

“Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam tidak pernah menambahi, baik pada bulan Ramadhan maupun selain bulan Ramadhan, dari sebelas rakaat.” (Muttafaq `alaih).
Menurut kelompok pendukung Tarawih delapan rakaat, sebelas rakaat yang di maksud pada hadis ini adalah delapan rakaat Tarawih dan tiga rakaat Witir.
Dari segi sanad, hadis ini tidak diragukan lagi keshahihannya. Karena di riwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Imam Muslim dan lain-lain (muttafaq `alaih). Hanya saja, penggunaan hadis ini sebagai dalil shalat Tarawih perlu di kritisi dan di koreksi ulang.
Berikut ini adalah beberapa kritikan dan sanggahan yang perlu diperhatikan oleh para pendukung Tarawih delapan rakaat :
1. Pemotongan hadis.
Kawan-kawan yang sering menjadikan hadis ini sebagai dalil shalat Tarawih, biasanya tidak membacanya secara utuh, akan tetapi mengambil potongannya saja sebagaimana disebutkan di atas. Bunyi hadis ini secara sempurna adalah sebagai berikut :

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ أخبره أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ –رضي الله عنها- : كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فِي رَمَضَانَ ؟ قَالَتْ : مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ، يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا ، قَالَتْ عَائِشَةُ : فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ ؟ فَقَالَ : يَا عَائِشَةُ ، إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي.

dari Abi Salamah bin Abd al-Rahman, ia pernah bertanya kepada Sayyidah A`isyah radhiyallahu `anha perihal shalat yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan. A`isyah menjawab : “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah menambahi, baik pada bulan Ramadhan maupun selain bulan Ramadhan, dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat, dan jangan kamu tanyakan baik dan panjangnya. Kemudian beliau shalat empat rakaat, dan jangan kamu tanyakan baik dan panjangnya. Kemudian beliau shalat tiga rakaat. A`isyah kemudian berkata : “Saya berkata, wahai Rasulullah, apakah anda tidur sebelum shalat Witir?” Beliau menjawab : “Wahai A`isyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, akan tetapi hatiku tidak tidur.”
Pemotongan hadis boleh-boleh saja dilakukan, dengan syarat, orang yang memotong adalah orang alim dan bagian yang tidak disebutkan tidak berkaitan dengan bagian yang disebutkan. Dalam arti, pemotongan tersebut tidak boleh menimbulkan kerancuan pemahaman dan kesimpulan yang berbeda.(19) Pemotongan pada hadis di atas, berpotensi menimbulkan kesimpulan berbeda, karena jika di baca secara utuh, konteks hadis ini sangat jelas berbicara tentang shalat Witir, bukan shalat Tarawih, karena pada akhir hadis ini, A`isyah menanyakan shalat Witir kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.(20)


2. Kesalahan dalam memahami maksud hadis.
Dalam hadis di atas, Sayyidah A`isyah dengan tegas menyatakan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah melakukan shalat melebihi sebelas rakaat baik pada bulan Ramadhan maupun pada bulan-bulan yang lain. Shalat yang dilakukan sepanjang tahun, baik pada bulan Ramadhan maupun bulan lainnya, tentu bukanlah shalat Tarawih. Karena shalat Tarawih hanya ada pada bulan Ramadhan. Oleh karena itu para ulama berpendapat bahwa hadis ini bukanlah dalil shalat Tarawih. Akan tetapi dalil shalat Witir.
Kesimpulan ini diperkuat oleh hadis lain yang juga diriwayatkan oleh Sayyidah A`isyah radhiyallahu `anha.

عن عائشة – رضي الله عنها – : قالت : « كان النبيُّ -صلى الله عليه وسلم- يُصلِّي من الليل ثلاثَ عَشْرَةَ ركعة ، منها الوتْرُ وركعتا الفجر ».

Dari A`isyah radhiyallahu `anha, ia berkata : “Nabi shallallahu alaihi wa sallam shalat malam tiga belas rakaat, antara lain shalat Witir dan dua rakaat Fajar.” (HR. Bukhari).(21)


3. Pemenggalan Hadis.
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, kawan-kawan pendukung Tarawih delapan rakaat mengatakan bahwa maksud dari pada sebelas rakaat pada hadis di atas adalah delapan rakaat Tarawih dan tiga rakaat Witir. Hal ini tidak tepat. Karena ini berarti satu hadis yang merupakan dalil untuk satu paket shalat dipenggal menjadi dua, delapan rakaat Tarawih dan tiga rakaat Witir.(22)
Di sisi lain, jika kita menyetujui pemenggalan ini, maka kita harus menyetujui bahwa selama bulan Ramadhan Nabi shallallahu alaihi wa sallam hanya melakukan shalat Witir tiga rakaat saja. Ini tidak pantas bagi beliau yang merupakan tauladan bagi umat dalam hal ibadah. Imam al-Tirmidzi mengatakan : “Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam shalat Witir 13, 11, 9, 7, 5, 3 dan 1 rakaat.”(23) Apabila di selain bulan Ramadhan saja beliau melakukan shalat Witir sebanyak 13 atau 11 rakaat, pantaskah beliau hanya melakukan shalat Witir hanya tiga rakaat saja pada bulan Ramadhan yang merupakan bulan ibadah?
4. Inkonsisten dalam mengamalkan hadis.
Dalam hadis di atas secara jelas dinyatakan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah melakukan shalat melebihi sebelas rakaat baik pada bulan Ramadhan maupun pada bulan-bulan yang lain. Kalau mau konsisten, kawan-kawan yang memahami bahwa sebelas rakaat pada hadis di atas maksudnya adalah delapan rakaat Tarawih dan tiga rakaat Witir, seharusnya mereka melakukan shalat Tarawih dan Witir sepanjang tahun, dan bukan pada bulan Ramadhan saja. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Entah dasar apa yang mereka pakai untuk memenggal hadis tersebut pada bulan Ramadhan saja.
5. Kontradiksi dengan pemahaman para shahabat Nabi.
Pemenggalan hadis seperti itu juga bertentangan dengan konsensus (ijma`) para shahabat radhiyallahu `anhum termasuk diantaranya Khulafa` al-Rasyidin yang melakukan shalat Tarawih dua puluh rakaat. Hal itu berarti juga bertentangan dengan tuntunan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk mengikuti jejak para Khulafa` al-Rasyidin. Dalam sebuah hadis disebutkan :

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ مِنْ بَعْدِي

“Ikutilah sunnahku dan sunnah al-Khulafa` al-Rasyidin setelahku!” (HR. Ahmad, Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibnu Majah,  Ibnu Hibban dan al-Hakim).(24)

Dalam hadis yang lain disebutkan :

اقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِى أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ

“Ikutilah orang-orang setelahku, yaitu Abu Bakar dan Umar!” (HR. Ahmad, al-Tirmidzi, Ibnu Majah dan lain-lain).(25)
Dalam hadis yang lain juga disebutkan :

إن الله جعل الحق على لسان عمر وقلبه

“Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran pada lisan dan hati Umar.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, al-Hakim, al-Tirmidzi dan lain-lain).(26)
6. Kerancuan linguistik.
Kata tarawih dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari kata tarwihah, yang secara kebahasaan berarti mengistirahatkan atau istirahat sekali. Jika di jamakkan, maka akan berarti istirahat beberapa kali, minimal tiga kali. Karena minimal jamak dalam bahasa Arab adalah tiga. Shalat qiyam Ramadhan disebut dengan shalat Tarawih, karena orang-orang yang melakukannya beristirahat tiap sehabis empat rakaat.(27)[i] Maka Dari sudut bahasa, shalat Tarawih adalah shalat yang banyak istirahatnya, minimal tiga kali. Hal ini pada gilirannya menunjukkan bahwa rakaat shalat Tarawih lebih dari delapan, minimal enam belas. Karena jika seandainya shalat Tarawih hanya delapan rakaat, maka istirahatnya hanya sekali. Tentu hal ini sangatlah rancu ditinjau dari segi kebahasaan.(28)
Kesimpulan


Dari uraian di atas, jelas sekali bahwa shalat Tarawih dua puluh rakaat lebih afdhal dibanding delapan rakaat. Dengan dalil ijma` shahabat di dukung hadis mauquf berkualitas shahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi di dalam al-Sunan al-Kubro. Sementara tidak ada dalil shahih yang mendukung keutamaan shalat Tarawih delapan rakaat atas shalat Tarawih dua puluh rakaat. Yang ada hanyalah dalil-dalil dha`if, bahkan matruk (semi palsu) atau dalil shahih yang di salah-pahami.
Namun perlu di ingat, sebagaimana dijelaskan sebelumnya, perbedaan ini hanyalah berkisar seputar mana yang lebih afdhal? Jadi, tidak selayaknya kelompok yang lebih memilih melaksanakan shalat Tarawih dua puluh rakaat melecehkan atau menyesatkan kelompok yang memilih melakukannya delapan rakaat. Begitu pula sebaliknya. Apalagi sampai saling mengkafirkan. Sungguh sangat disesalkan, di bulan Ramadhan yang agung, bulan untuk berlomba-lomba mencari pahala, berkah, rahmah dan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta`ala, justru dikotori dengan saling hina, saling menyalahkan bahkan saling mengkufurkan antara kelompok masyarakat yang lebih memilih shalat Tarawih sebanyak dua puluh rakaat dengan kelompok masyarakat yang memilih delapan rakaat saja. Apakah kiranya yang mendorong kedua kelompok ini untuk tidak pernah berhenti bertikai? Manakah yang lebih berharga bagi mereka antara persatuan sesama Muslim dibanding sikap arogan, egois, fanatik serta pembelaan mati-matian terhadap madzhab yang mereka anut? Mengapa toleransi antar umat beragama yang berbeda lebih mereka perjuangkan daripada persatuan saudara seagama? Apakah umat non Muslim lebih layak untuk dihormati dan diayomi dibanding saudara sendiri sesama Muslim?
Sebenarnya kalau mau introspeksi, ada hal yang jauh lebih penting yang harus mereka perhatikan daripada mengurusi jumlah rakaat shalat Tarawih orang lain. Yaitu kebiasaan berlomba-lomba untuk terburu-buru dalam melaksanakan shalat Tarawih serta berbangga diri ketika shalat Tarawihnya selesai terlebih dahulu. Tidak jarang karena terlalu cepatnya shalat Tarawih yang mereka lakukan, mengakibatkan sebagian kewajiban tidak dilaksanakan. Seperti melaksanakan ruku`, i`tidal dan sujud tanpa thuma`ninah atau membaca al-Fatihah dengan sangat cepat sehingga menggugurkan salah satu hurufnya atau menggabungkan dua huruf menjadi satu. Dengan begitu, shalat yang mereka laksanakan menjadi tidak sah, sehingga mereka tidak mendapatkan apa-apa darinya kecuali rasa capek (tuas kesel : Jawa). Ironisnya mereka tidak mengerti akan hal itu bahkan membanggakannya, sehingga mereka tidak pernah mengakui kesalahannya.(29)
Dari itu, waspadalah dan sadarlah wahai saudara-saudaraku..! Marilah kita bersatu dan saling mengingatkan antara satu sama lain bi al-hikmah wa al-mau`idzah al-hasanah. Marilah kita laksanakan shalat Tarawih dan shalat-shalat lainnya dengan benar. Marilah kita laksanakan shalat dengan khusyu`, khudhur, memenuhi segala syarat dan rukun serta penuh adab. Jangan biarkan syetan menguasai kita..! karena sesungguhnya syetan tidak dapat menguasai orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Syetan hanya dapat menguasai orang-orang yang mengasihinya dan orang-orang yang musyrik. Maka janganlah kita termasuk diantara mereka.
WA ALLAH A`LAM BI AL-SHAWAB.
Tarim, 5 Ramadhan 1431 H.

* Penulis adalah mahasiswa tingkat III Fak. Syariah & Hukum Univ. Al-Ahgaff, Hadhramaut Yaman. Aktifis PCI-NU Yaman.
Catatan Kaki :

(1)   Badrudin al-`Aini, `Umdah al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari, Beirut : Dar Ihya` al-Turats al-Arabi, tt., XI/124. Ibnu Hajar al-`Asqalani, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, Cairo : Dar al-Rayyan li al-Turats, 1407 H., IV/296.
(2)     Badrudin al-`Aini, op.cit., XI/126-127. `Ala`uddin Abu al-Hasan Ali bin Muhammad al- Dimasyqi, al-Ikhtiyarat al-Fiqhiyyah min Fatawa Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah, Alexanderia : Dar al-Iman, 2005 M, hal. 315-316. `Ala`uddin Abu al-Hasan Ali bin Sulaiman al- Mardawi, al-Inshaf fi Ma`rifah al-Rajih min al-Khilaf, Beirut : Dar Ihya` al-Turats al-Arabi, 1419 H, II/128.
(3)     Menurut madzhab Syafi`i, shalat Tarawih boleh dikerjakan mulai dari dua rakaat dan maksimalnya adalah dua puluh rakaat. Lihat antara lain: Said bin Muhammad Ba`asyan, Busyra al-Karim, Jeddah : Dar al-Minhaj, 1429 H/2008 M, hal. 316. Ibnu Hajar al-Haitami, al-Manhaj al-Qawim, Mesir : al-Mathba`ah al-`Amirah al-Syarafiyah, tt., II/469. periksa juga komentar al-Kurdi dan al-Tarmasi pada halaman yang sama.
(4)     Mulla Ali al-Qari, Mirqat al-Mafatih Syarh Misykat al-Mashabih, hal. 175. Abd. Qadir Isa Diyab, al-Mizan al-`Adil li Tamyiz al-Haq min al-Bathil, Damaskus : Dar al-Taqwa, 1425 H/2005 M, hal. 247. Dr. Yusuf Khatthar Muhammad, al-Mausu`ah al-Yusufiyah, Damaskus : Dar al-Taqwa, tt., hal. 634.
(5)     Abd. Qadir Isa Diyab, op.cit., hal. 246-248. Dr. Yusuf Khatthar Muhammad, loc.cit. Husain bin Ibrahim al-Maghribi, Qurrah al-`Ain bi Fatawa Ulama` al-Haramain, Maktabah `Arafat, tt., hal.
(6)     Ibnu Abdil Bar al-Andalusi, al-Istidzkar, Abu Dabi : Mu`assasah al-Nida`, 1422 H, II/317-319. Muhammad Mahfuzh al- Tarmasi, Mauhibah Dzi al-Fadhl, Mesir : al-Mathba`ah al-`Amirah al-Syarafiyah, tt., II/465-467. Abd. Qadir `Isa Diyab, op.cit., hal. 243-247.
(7)     Muhammad Abd al-Rahman al-Mubarokfuri, Tuhfah al-Ahwadzi Syarh Jami` al-Tirmidzi, Beirut : Dar al-Kutub al-Ilmiyah, tt., III/438-450.
(8)     Ibnu Taimiyah, Majmu` al-Fatawa, Editor : Anwar al-Baz dan Amir al-Jazzar, Dar al-Wafa`, 1426 H/2005 M, XXIII/112-113. Mulla Ali al-Qari, loc.cit.
(9)     KH. Ali Mustafa Yaqub, Hadis-hadis Bermasalah, Jakarta : Pustaka Firdaus, 2007, hal. 148.
(10)   Abd. Qadir Isa Diyab, op.cit., hal. 242. Dr. Yusuf Khatthar Muhammad, op.cit., hal. 632. KH. Ali Mustafa Yaqub, op.cit., hal. 148.
(11)   Abdur Rahman al-Suyuthi, Tadrib al-Rawi, Beirut : Dar al-Fikr, 1414 H/1993 M, hal. 121. KH. Ali Mustafa Yaqub, op.cit., hal. 149.
(12)   KH. Ali Mustafa Yaqub, loc.cit. menukil dari Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur`an al-Adzim, Riyadh : Dar `Alam al-Kutub, 1418/1998, I/571.
(13)   KH. Ali Mustafa Yaqub, op.cit., hal. 155. Dr. Yusuf Khatthar Muhammad, op.cit., hal. 635.
(14)   Ibnu Taimiyah, loc.cit.
(15)   KH. Ali Mustafa Yaqub, op.cit., hal. 156.
(16)   KH. Ali Mustafa Yaqub, op.cit., hal. 139-140. menukil dari al-Dzahabi, Mizan al-I`tidal fi Naqd al-Rijal, Editor Ali Muhammad al-Bijawi, Beirut : dar al-Fikr, 1382 H/1963 M, III/311. Abd. Qadir Isa Diyab, op.cit., hal. 241.
(17)   Abu al-Qasim Sulaiman bin Ahmad al-Thabarani, al-Mu`jam al-Ausath, Editor : Thariq bin `Awadh, Cairo : Dar al-Haramain, 1415 H, IV/108.
(18)   KH. Ali Mustafa Yaqub, op.cit., hal. 140. Abd. Qadir Isa Diyab, loc.cit.
(19)   Abdur Rahman al-Suyuthi, op.cit., hal. 303.
(20)   KH. Ali Mustafa Yaqub, op.cit., hal. 143.
(21)   Ibid.
(22)   Ibid., hal. 146.
(23)   Muhammad bin Isa al-Tirmidzi, al-Jami` al-Shahih, Editor : Ahmad Muhammad Syakir dkk., Beirut : Dar Ihya` al-Turats al-Arabi, tt., II/319.
(24)   Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Talkhish al-Habir fi Takhrij Ahadits al-Rafi`i al-Kabir.
(25)   Abdur Rahman al-Suyuthi, al-Jami` al-Shaghir. Isma`il bin Muhammad al-Ajluni, Kasyf al-Khafa` wa Muzil al-Ilbas, Beirut : Dar Ihya` al-Turats al-Arabi, tt., I/160
(26)   Abdur Rahman al-Suyuthi, Jami` al-Ahadits. Isma`il bin Muhammad al-Ajluni, op.cit., I/223.
(27)   Ibnu Mandzur, Lisan al-`Arab, Beirut : Dar Sadir, tt., II/455. Muhammad Murtadha al-Zabidi, Taj al-`Arus min Jawahir al-Qamus. Ahmad al-Fayyumi, al-Mishbah al-Munir fi Gharib al-Syarh al-Kabir. Majma` al-Lughah al-Arabiyah, al-Mu`jam al-Wasith, Cairo : Maktabah al-Syuruq al-Dauliyah, 1425 H/2004 M, hal. 380. Dr. Muhammad Rowa Qal`ah Jie dan Dr. Hamid Shadiq Qunaibi, Mu`jam Lughah al-Fuqaha`, Amman : Dar al-Nafa`is, tt., I/127. Ibnu Faris, Maqayis al-Lughah, Editor : Abd al-Salam Muhammad Harun, Ittihad al-Kitab al-`Arab, 1423 H/2002 M, II/378.
(28)   Dr. Ali Gom`ah, al-Bayan lima Yusyghil al-Adzhan, Mi`ah Fatwa li Radd Ahamm Syubah al-Kharij wa Lamm Syaml al-Dakhil, Cairo : Dar al-Moqattham, 2009 M, hal. 272-273. KH. Ali Mustafa Yaqub, op.cit., hal. 137.
(29)     Disarikan dari nasehat Imam Abdullah bin Alawi al-Haddad di dalam kitab beliau, Nasha`ih al-Diniyah wa al-Washaya al-Imaniyah, hal. 175.

[i] Ibnu Mandzur, Lisan al-`Arab, Beirut : Dar Sadir, tt., II/455. Muhammad Murtadha al-Zabidi, Taj al-`Arus min Jawahir al-Qamus. Ahmad al-Fayyumi, al-Mishbah al-Munir fi Gharib al-Syarh al-Kabir. Majma` al-Lughah al-Arabiyah, al-Mu`jam al-Wasith, Cairo : Maktabah al-Syuruq al-Dauliyah, 1425 H/2004 M, hal. 380. Dr. Muhammad Rowa Qal`ah Jie dan Dr. Hamid Shadiq Qunaibi, Mu`jam Lughah al-Fuqaha`, Amman : Dar al-Nafa`is, tt., I/127. Ibnu Faris, Maqayis al-Lughah, Editor : Abd al-Salam Muhammad Harun, Ittihad al-Kitab al-`Arab, 1423 H/2002 M, II/378.

Sabtu, 13 Agustus 2011

BANTAHAN TERHADAP SHOLAT TARAWIH DELAPAN RAKAAT

Wahaby mensyariatkan Shalat Sunnah Tarawih 8 rakaat, padahal tidak ada satupun Imam Madzab Sunni yang mensyariatkan.
Pendapat jumhur ahlusunnah : mazhab Hanafi, Syafi’e dan Hanbali: 20 rakaat (selain Sholat Witir) berdasarkan ijtihad Sayyiduna Umar bin Khattab. Menurut mazhab Maliki: 36 rakaat berdasarkan ijtihad Khalifah Umar bin Abd al-Aziz.
Sholat Qiyam Ramadhan (sholat pada malam bulan Ramadhan) dinamakan Sholat Tarawih kerana sholat ini panjang dan banyak rakaatnya. Jadi, orang yang mendirikannya perlu berehat. Rehat ini dilakukan selepas mendirikan setiap 4 rakaat, kemudian mereka meneruskannya kembali (sehingga 20 rakaat). Sebab itulah ia dipanggil Sholat Tarawih[4].
Ibn Manzhur menyebutkan di dalam Lisan al-Arab: “ اَلتَّرَاوِيحُ “ adalah jama’ (plural) “ تَرْوِيحَةٌ “, yang bermaksud “sekali istirehat”, seperti juga “ تَسْلِيمَةٌ “ yang bermaksud “sekali salam”. Dan perkataan “Tarawih” yang berlaku pada bulan Ramadhan dinamakan begitu kerana orang akan beristirehat selepas mendirikan 4 rakaat[5].
Menurut pendapat jumhur iaitu mazhab Hanafi, Syafi’e dan Hanbali: 20 rakaat (selain Sholat Witir) berdasarkan ijtihad Sayyiduna Umar bin Khattab. Menurut mazhab Maliki: 36 rakaat berdasarkan ijtihad Khalifah Umar bin Abd al-Aziz. Imam Malik dalam beberapa riwayat memfatwakan 39 rakaat[6]. Walau bagaimana pun, pendapat yang masyhur ialah mengikut pendapat jumhur.
Dalil
a) Dalil lebih dari 8 rakaat:
i) Dalil nas khusus:
1) Hadith:
أَنَّهُ صلى الله عليه وسلم خَرَجَ مِن جَوْفِ اللَّيلِ لَيَالِي مِن رَمَضَانَ وَهِيَ ثَلاَثُ مُتَفَرِّقَةٌ: لَيْلَةُ الثَّالِثِ وَالْخَامِسِ وَالسَّابِعِ وَالْعِشْرِينَ، وَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ، وَصَلَّى النَّاسُ بِصَلاَتِهِ فِيهَا، وَكَانَ يُصَلِّي بِهِمْ ثَمَانَ رَكَعَاتٍ، وَيُكَمِّلُونَ بَاقِيهَا فِي بُيُوتِهمْ
“Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم keluar untuk sholat malam di bulan Ramadhan sebanyak tiga tahap: malam ketiga, kelima dan kedua puluh tujuh untuk sholat bersama umat di masjid. Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم sholat bersama mereka sebanyak lapan rakaat, dan kemudian mereka menyempurnakan baki sholatnya di rumah masing-masing.”[8]
Jumlah 11 rakaat tidak boleh dijadikan hujah untuk jumlah rakaat Sholat Tarawih kerana Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم hanya sholat berjemaah bersama sahabat 2 atau 3 kali sahaja di masjid dan selepas itu Baginda صلى الله عليه وآله وسلم dan para sahabat menyambung sholat malam di rumah masing-masing.
2) Hadith dari Ibn Abbas berkata:
كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فِي غَيْرِ جَمَاعَةٍ عِشْرِينَ رَكْعَةً وَالْوِتْرِ
“Adalah Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم bersembahyang pada bulan Ramadhan dengan tidak
berjamaah, sebanyak dua puluh rakaat ditambah witir.”[9]
3) Dalam Sunan al-Baihaqi dengan isnad yang shahih sebagaimana ucapan Zain ad-Din al-Iraqi dalam kitab Syarh At-Taqrib, dari As-Sa’ib bin Yazid رضي الله عنه katanya:
كَانُوا يَقُومُونَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً
“Adalah para sahabat mendirikan sholat Tarawih pada zaman Umar bin Al-Khattab
pada bulan Ramadhan dengan dua puluh rakaat.”[10]
Hadith ini telah shahihkan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al-Khulashah dan Al-Majmu’, dan ia diakui shahih juga oleh Az-Zayal’i dalam Nashb ar-Rayah, dishahihkan oleh As-Subki dalam Syarh al-Minhaj, Ibn al-Iraqi dalam Thorh at-Tathrib, Al-Aini dalam Umdah al-Qari, Imam Sayuthi dalam Al-Masabih fi Sholat at-Tarawih, Ali al-Qari dalam Syarh al-Muwaththo’ dan An-Naimawi dalam Athar as-Sunan dan para ulama’ lain[11].
4) Diriwayatkan dari As-Sa’ib bin Yazid juga, dia berkata:
كنَّا نَقُومُ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه بِعِشْرِينَ رَكْعَةً وَالْوِتْرِ
“Kami pernah mendirikan (sholat Tarawih) pada masa Sayyiduna Umar bin Al-Khattab
dengan dua puluh rakaat dan ditambah Witir.”[12]
5) Diriwayatkan oleh Yazid bin Ruman berkata:
كَانَ النَّاسُ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ يَقُومُونَ فِي رَمَضَانَ بِثَلاَثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً
“Adalah orang ramai pada zaman Umar bin Al-Khattab mendirikan sholat Tarawih
pada bulan Ramadhan dengan dua puluh tiga rakaat.”[13]
6) Diriwayatkan dari Al-Hasan:
أَنَّ عُمَرَ جَمَعَ النَّاسَ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ فَكَانَ يُصَلِّي لَهُمْ عِشْرِينَ رَكْعَةً
“Sesungguhnya Umar mengumpul orang ramai kepada Ubai ibn Ka’ab, lalu dia (Ubai)
mengimami sholat bersama mereka dengan dua puluh rakaat.”[14]
Hadith bernombor 3, 4, 5 dan 6 di atas menunjukkan bahawa para sahabat Nabi صلى الله عليه وآله وسلم telah ijma’ (sepakat) mendirikan Sholat Tarawih pada masa Sayyiduna Umar sebanyak 20 rakaat. Ijma’ Sahabat mengikut kaedah Ushul Fiqh adalah hujah (iaitu menjadi dalil syari’at)[15].
ii) Dalil nas umum:
Antara dalil lain dalam membolehkan ia dibuat lebih dari 11 rakaat ialah firman Allah Ta’ala:
1)
وَافْعَلُواْ الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan kerjakanlah amal-amal kebajikan; supaya kamu berjaya (di dunia dan di akhirat).”[16]
Mengerjakan amal kebajikan tidak disebutkan di dalam ayat ini secara khusus dan berapa bilangannya. Ia membawa maksud mengerjakan amal kebajikan sebanyak-banyaknya.
2) Disebutkan di dalam hadith:
صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنىَ مَثْنىَ
“Sholat malam itu dilakukan dua rakaat dua rakaat.”[17]
3) Imam Muslim meriwayatkan, Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم bersabda:
اَلصَّلاَةُ خَيْرُ مَوْضُوعٍ فَمَن شَاءَ اِسْتَقَلَّ وَمَن شَاءَ اِسْتَكْثَرَ
“Sholat adalah (termasuk) amal yang terbaik, maka barang siapa berkehendak, dia (boleh) menyedikitkan bilangan rakaatnya dan barang siapa berkehendak, dia (boleh) memperbanyak (bilangan rakaatnya, iaitu menyedikit atau memperbanyakkan sholat sunat/ nawafil).”
iii) Kaedah Ushul
1) Kaedah Ushul Fiqh menyebutkan:
مَا أَكْثَرَ فِعْلاً كَانَ أَكْثَرَ فَضْلاً
“Ibadah yang banyak perlakuannya (pekerjaannya), akan banyak mendapat fadhilat (pahala).”
Kaedah ini berdasarkan hadith Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم kepada Sayyidatuna ‘Aisyah, riwayat Imam Muslim:
أَجْرُكِ عَلَى نَصَبِكِ
“Pahalamu berdasarkan kadar usahamu.”
Sembahyang adalah ibadat badan yang paling afdhal selepas mengucap dua kalimah syahadah mengikut sebahagian ulama’[18]. Sembahyang Tarawih pula sangat istimewa kerana dilaksanakan pada bulan yang sangat istimewa. Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم memberi khabar gembira bahawa satu ibadah sunat dilaksanakan pada bulan ini menyamai satu ibadah fardhu di bulan lain.
Hadith daripada Salman al-Farisi berkata:
خَطَبَنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم آخِرِ يَوْمٍ مِن شَعْبَانَ فَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظيمٌ مُبَارَكٌ، شَهْرٌ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرُ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، شَهْرٌ جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيضَةً وَقِيَامُ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا، مَن تَقَرَّبَ فِيهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيضَةً فِيمَا سِوَاهُ، وَمَنْ أَدَّى فَرِيضَةً فِيهِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِينَ فَرِيضَةً فِيمَا سِوَاهُ…
“Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم telah berkhutbah kepada kami pada hari terakhir bulan Syaaban dan bersabda: Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kamu satu bulan yang agung lagi penuh keberkatan (bulan Ramadhan), itulah bulan yang ada padanya satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, bulan yang Allah jadikan berpuasa padanya suatu kewajipan dan berqiamullail (beribadat pada malam-malamnya) sebagai amalan sunat. Sesiapa yang mendekatkan dirinya kepada Allah pada bulan itu dengan melakukan amalan kebajikan (amalan sunat) maka ia mendapat pahala seperti melaksanakan perintah yang wajib dan sesiapa yang melakukan suatu amalan yang wajib pada bulan Ramadhan maka ia mendapat pahala seperti orang yang melakukan tujuh puluh (70) amalan fardhu selainnya (selain Ramadhan).”[19]
Oleh itu, dari segi bilangan sahaja umpamanya, tentulah 20 rakaat Sholat Tarawih lebih baik dari 8 rakaat dan pahalanya tentu sekali lebih banyak. Ini tidak termasuk pahala berapa kali qiyam, ruku’, sujud…., bacaan Surah Al-Fatihah, bacaan surah dan bacaan-bacaan lain ketika sembahyang, pahala mendengar orang membaca Al-Quran di dalam sembahyang, pahala sabar ketika qiyam yang mungkin agak lama dan panjang…jika dilakukan sebanyak 20 rakaat itu. Bolehlah diqiyaskan kepada perlakuan dan pembacaan yang lain yang ada kaitan dengan Sholat Tarawih ini…Ta’ammaluu…
2) Kaedah lain menyebutkan:
اَلْمُثْبَتُ مُقَدَّمٌ عَلَى النَّافِي
“Yang menetapkan ada (sesuatu perkara), didahulukan atas yang tidak menetapkannya.”
Dalam perbahasan Sholat Tarawih ini, jika benar hadith Sayyidatuna ‘Aisyah di atas tentang Sholat Tarawih, ia tetap tidak boleh dijadikan dalil untuk menolak pendapt Sayyiduna Umar dan para sahabat lain yang mereka ijma’ (sepakat) melaksanakannya dengan 20 rakaat. Dalam perkara ini, Sayyidatuna ‘Aisyah melihat Nabi صلى الله عليه وآله وسلم bersembahyang 11 rakaat, sedangkan Sayyiduna Umar dan para sahabat lain yang utama juga melihat Nabi صلى الله عليه وآله وسلم bersembahyang dengan 23 rakaat. Maka, mengikut kaedah ini, orang yang banyak ilmunya didahulukan dari orang yang kurang ilmu pengetahuannya[20].
Pendapat para ulama’:
Berdasarkan dalil dan kaedah di atas, para ulama’ dalam mazhab Syafi’e (Syafi’iyyah) mengistinbatkan bilangan rakaatnya seperti berikut:
1) Disebutkan di dalam Mukhtashar Al-Muzani:
أَنَّ اْلإِمَامَ الشَّافِعِيَّ رحمه الله قَالَ: رَأَيْتُهُمْ بِالْمَدِينَةِ يَقُومُونَ بِتِسْعٍ وَثَلاَثِينَ وَأَحَبَّ إِلَيَّ عِشْرُونَ لأَنَّهُ رُوِيَ عَنْ عُمَرَ وَكَذَلِكَ بِمَكَّةَ يَقُومُونَ عِشْرِينَ رَكْعَةً يُوتِرُونَ بِثَلاَثٍ.
“Sesungguhnya Imam Syafi’e berkata: Aku telah melihat mereka di Madinah mendirikan (Solat Tarawih) denga 39 rakaat, dan aku menyukai 20 rakaat kerana telah diriwayatkan dari Umar. Dan begitu juga di Makkah, mereka mendirikan 20 rakaat dan mengerjakan Witir dengan 3 rakaat.”
2) Imam Nawawi berkata di dalam Syarh al-Muhazzab:
صَلاَةُ التَّرَاوِيحِ مِنَ النَّوَافِلِ الْمُؤَكَّدَةِ كَمَا دَلَّتْ عَلَى ذَلِكَ اْلأَحَادِيثُ الشَّرِيفَةُ الْمُتَقَدِّمَةُ وَهِيَ عِشْرُونَ رَكْعَةً مِنْ غَيْرِ صَلاَةِ الْوِتْرِ، وَمَعَ الْوِتْرِ تُصْبِحُ ثَلاَثًا وَعِشْرِينَ رَكْعَةً … عَلَى ذَلِكَ مَضَتِ السُّنَّةُ وَاتَّفَقَتِ اْلأُمَّةُ، سَلَفًا وَخَلَفًا مِنْ عَهْدِ الْخَلِيفَةِ الرَّاشِدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه وأرضاه – إِلىَ زَمَانِنَا هَذَا … لَمْ يُخَالِفْ فِي ذَلِكَ فَقِيهٌ مِنَ اْلاَئِمَّةِ اْلأَرْبعَةِ الْمُجْتَهِدِينَ إِلاَّ مَا رُوِىَ عَنْ إِمَامِ دَارِ الْهِجْرَةِ مَالِكٍ بْنِ أَنَسٍ رضي الله عنه اَلْقَوْلُ بِالزِّيَادَةِ فِيهَا، إِلىَ سِتٍّ وَثَلاَثِينَ رَكْعَةً…فِي الرِّوَايَةِ الثَّانِيَةِ عَنْهُ – مُحْتَجًّا بِعَمَلِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ فَقَدْ رُوِيَ عَن نَافِعٍ أَنَّهُ قَالَ: أَدْرَكْتُ النَّاسَ يَقُومُونَ رَمَضَانَ بِتِسْعٍ وَثَلاَثِينَ رَكْعَةً يُوتِرُونَ مِنْهَا بِثَلاَثٍ
“Sholat Tarawih termasuk di dalam sholat Nawafil yang muakkad seperti mana yang ditunjukkan perkara itu oleh hadith-hadith yang mulia yang telah disebut terdahulu. Ia adalah sebanyak dua puluh rakaat selain dari sholat Witir. (Jika) bersama Witir maka ia menjadi 23 rakaat…atas jalan inilah berlalunya sunnah dan sepakat ummah, dari kalangan Salaf dan Khalaf dari zaman Khulafa’ ar-Rasyidin Umar ibn Al-Khattab, semoga Allah meredhainya dan dia meredhaiNya juga sampailah ke zaman kita ini…Tidak ada seorang pun ahli feqah dari kalangan empat imam mazhab (Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah) membantah perkara ini, melainkan apa yang diriwayatkan dari Imam Dar al-Hijrah, Imam Malik bin Anas tentang pendapat yang lebih bilangannya pada sholat Tarawih kepada 36 rakaat…Dalam riwayat kedua daripada Imam Malik, iaitu dengan hujahnya beramal dengan amalan penduduk Madinah iaitu: Sesungguhnya diriwayatkan dari Nafi’ sesungguhnya dia berkata: Aku mendapati orang ramai mendiri Ramadhan (sholat Tarawih) dengan 39 rakaat dan mereka mendirikan Witir daripadanya sebanyak 3 rakaat…”[21]
Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni[22] menambah:
…أَمَّا الرِّوَايَةُ الْمَشْهُورَةُ عَنْهُ، هِيَ الَّتِي وَافَقَ فِيهَا الْجُمْهُورُ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ وَالشَّافِعيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ عَلَى أَنَّهَا عِشْرُونَ رَكْعَةً وَعَلَى ذَلِكَ اتَّفَقَتِ الْمَذَاهِبُ اْلأَرْبعَةُ وَتَمَّ اْلإجْمَاعُ.
“Adapun riwayat yang masyhur daripada Imam Malik, iaitulah yang diittifaqkan Jumhur ulama’ dari kalangan Hanafiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah atas sholat Tarawih itu 20 rakaat. (Oleh itu) atas sebab perkara itulah (iaitu riwayat yang kedua ini), maka jadilah (sholat Tarawih sebanyak 20 rakaat) adalah ittifaq empat mazhab dan lengkaplah (ia menjadi) ijma’.”[23]
3) Imam Nawawi juga menyebutkan di dalam Al-Majmu’:
مَذْهَبُنَا أَنَّهَا عِشْرُونَ رَكْعَةً بِعَشْرِ تَسْلِيمَاتٍ غَيْرِ الْوِتْرِ وَذَلِكَ خَمْسُ تَرْوِيحَاتٍ وَالتَّرْوِيحَةُ أَرْبَعُ رَكَعَاتٍ بِتَسْلِيمَتَيْنِ… وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَأَصْحَابُهُ وَأَحْمَدُ وَدَاوُدُ وَغَيرُهُمْ وَنَقَلَهُ الْقَاضِيُّ عِيَاضٍ عَن جُمْهُورِ الْعُلَمَاءِ. وَقَالَ مَالِكٌ: اَلتَّرَاوِيحُ تِسْعُ تَرْوِيحَاتٍ وَهِيَ سِتَّةٌ وَثَلاَثِينَ رَكْعَةً غَيْرُ الْوِتْرِ
“Mazhab kami ialah sesungguhnya ia 20 rakaat dengan 10 salam selain Witir. Jadi ada 5 rehat, dan setiap sekali rehat ada 4 rakaat dengan 2 salam…Dan mengikut juga pendapat inilah (iaitu 20 rakaat) oleh Abu Hanifah dan rakan-rakannya, Ahmad, Daud (azh-Zahiri) dan selain dari mereka. Al-Qadhi ‘Iyadh juga menukilkannya dari jumhur Ulama’. Imam Malik berkata: Sholat Tarawih ada 9 rehat iaitu 36 rakaat selain dari Witir.”
4) Imam Syarbini al-Khatib menyebutkan:
اَلتَّرَاوِيحُ عِشْرُونَ رَكْعَةً بِعَشَرِ تَسْلِيمَاتٍ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِن رَمَضَانَ لِمَا رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ أَنَّهُمْ كَانُوا يَقُومُونَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً.
“Dan Tarawih itu 20 rakaat dengan 10 salam setiap bulan Ramadhan. Demikiannlah hadith Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih bahawasanya sahabat-sahabat Nabi صلى الله عليه وآله وسلم mendirikan sembahyang pada masa Umar bin Al-Khattab dalam bulan Ramadhan sebanyak 20 rakaat. Dan Imam Malik meriwayatkan di dalam Al-Muwaththo’ sebanyak 23 rakaat, tetapi Imam Al-Baihaqi mengatakan bahawa yang tiga rakaat yang akhir ialah Sembahyang Witir.”[24]
5) Imam Jalal ad-Din al-Mahalli berkata:
وَرَوَى الْبَيْهَقِيُّ وَغَيْرُهُ بِاْلإِسْنَادِ الصَّحِيحِ كَمَا قَالَ فِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ أَنَّهُمْ كَانُوا يَقُومُونَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً
“Dan Imam Al-Baihaqi dan selainnya meriwayatkan dengan sanad yang shahih seperti yang dikatakan di dalam Syarah al-Muhazzab bahawasanya para sahabat mendirikan sholat Tarawih pada zaman Umar bin Al-Khattab pada bulan Ramadhan dengan dua puluh rakaat.”[25]
6) Al-Allamah al-Imam Ar-Ramli berkata:
وَهِيَ عِشْرُونَ رَكْعَةً بِعَشْرِ تَسْلِيمَاتٍ في كُلِّ لَيْلَةٍ مِن رَمَضَانَ، لِمَا رُوِيَ أَنَّهُمْ كَانُوا يَقُومُونَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً
“Dan ia (Sholat Tarawih) adalah 20 rakaat dengan 10 salam pada setiap malam dari malam-malam bulan Ramadhan kerana diriwayatkan bahawasanya para sahabat mendirikan sholat Tarawih pada zaman Umar bin Al-Khattab pada bulan Ramadhan dengan dua puluh rakaat.”[26]
7) Imam Zainuddin bin Abd al-Aziz al-Malibari dalam kitab Fath al-Mu’in menyimpulkan bahawa sholat Tarawih hukumnya sunat yang jumlahnya 20 rakaat:
وَصَلاَةُ التَّرَاوِيحِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَهِيَ عِشْرُونَ رَكْعَةً بِعَشْرِ تَسْلِيمَاتٍ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ لِخَبَرٍ (( مَن قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاِحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِهِ )) وَيَجِبُ التَّسْلِيمُ مِن كُلِّ رَكْعَتَيْن فَلَوْ صَلَّى أَرْبَعًا مِنْهَا بِتَسْلِيمَةٍ لَمْ تَصِحُّ.
“Sholat Tarawih hukumnya sunat, 20 rakaat dan 10 salam pada setiap malam di bulan Ramadhan. Kerana ada hadith: Barang siapa melaksanakan (sholat Tarawih) di malam Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka dosanya yang terdahulu diampuni. Setiap dua rakaat harus salam. Jika sholat Tarawih 4 rakaat dengan satu kali salam maka hukumnya tidak sah……”[27]
 Di dalam kitab Rahmah al-Ummah fi Ikhtilaf al-Aimmah karangan Al-Allamah Abi Abdillah Muhammad bin Abdur Rahman ad-Dimasyqi al-Uthmani asy-Syafi’e pada Hamisy al-Mizan al-Kubra menyatakan:
فَصْلٌ: وَمِنَ السُّنَنِ صَلاَةُ التَّرَاوِيحِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ عِندَ أَبِي حَنِيفَةَ وَالشَّافِعِي وَأَحْمَدَ
وَهِيَ عِشْرُونَ رَكْعَةً بِعَشْرِ تَسْلِيمَاتٍ وَفِعْلُهَا فِي الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ
“(Fasal): Dan termasuk dari sholat-sholat sunat ialah Sholat Tarawih pada bulan Ramadhan di sisi Abu Hanifah, Syafi’e dan Ahmad iaitu ia adalah sebanyak 20 rakaat dengan 10 salam. Dan mendirikannya secara berjama’ah adalah afdhal.”[28]
9) Syaikh Abd al-Qadir ar-Rahbawi menyebutkan di dalam kitabnya As-Sholah ‘ala al-Mazahib al-Arba’ah:
وَعَدَدُ رَكْعِتِهَا عِشْرُونَ رَكْعَةً. وَهَذَا الَّذِي بَيَّنَهُ عُمَرُ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله بِفِعْلِهِ عِندَمَا جَمَعَ النَّاسَ أَخِيرًا فِي الْمَسْجِدِ، وَصَلاَتِهِمْ خَلْفَ إِمَامٍ وَاحِدٍ، وَوَافَقَهُ الصَّحَابَةُ عَلَى ذَلِكَ وَلَمْ يَكُن لَهُمْ مُخَالِفٌ مِمَّن بَعْدَهُمْ مِنَ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ…
“Dan bilangan rakaatnya (Sholat Tarawih) 20 rakaat. Dan inilah yang diterangkan oleh Sayyiduna Umar bin Al-Khattab dengan perbuatannya ketika mengumpulkan para sahabat akhirnya dalam masjid. Dan (menyuruh) mereka bersembahyang di belakang seorang imam. Para sahabat bersetuju atas perbuatannya itu dan tidak ada seorangpun Khalifah yang datang selepas mereka (selepas sahabat) yang menyalahkan mereka (Umar dan generasi sahabat yang melakukan 20 rakaat).”[29]
10) Mufti Besar Negara Mesir, Al-Allamah Syaikh Ali Jum’ah [30] menyebutkan di dalam kitabnya Al-Bayan Lima Yasyghal al-Azhan:
وَالْحَقُ أَنَّ اْلأُمَّةَ أَجْمَعَتْ عَلَى أَنَّ صَلاَةَ التَّرَاوِيحِ عِشْرِينَ رَكْعَةً مِنْ غَيْرِ الْوِتْرِ، وَثَلاَثَ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً بِالْوِتْرِ، وَهُوَ مُعْتَمَدُ الْمَذَاهِبِ الْفِقْهِيَّةِ اْلأَرْبَعَةِ: اَلْحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ فِي الْمَشْهُورِ وَالشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ.
“Dan yang benarnya (dalam perkara rakaat Tarawih) ialah, sesungguhnya umat Islam telah ijma’ ke atas Sholat Tarawih itu 20 rakaat tidak termasuk Witir, dan 23 rakaat termasuk Witir yang mana itulah yang mu’tamad (dipegang) oleh mazhab-mazhab feqah yang empat: Mazhab Hanafi, pendapat yang masyhur dalam mazhab Maliki, mazhab Syafi’e dan mazhab Hanbali.”[32]
11) Di dalam kitab Al-Fiqh ‘Ala al-Mazahib al-Arba’ah disebutkan:
وَقَدْ ثَبَّتَ أَنَّ صَلاَةَ التَّرَاوِيحِ عِشْرُونَ رَكْعَةً سِوَى الْوِتْرِ
“Dan sesungguhnya telah tetaplah (thabit) bahawa Sholat Tarawih adalah 20 rakaat (menurut semua imam mazhab) selain Witir[32].
12) Disebutkan di dalam kitab Al-Hady an-Nabawi ash-Shahih fi Solah at-Tarawih karangan Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni:
قَالَ اْلإِمَامُ التِّرْمِذِي فِي جَامِعِهِ اَلْمُسَمَّى سُنَنِ التِّرْمِذِي: أَكْثَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ عَلَى مَا رُويَ عَنْ عُمَرَ، وَعَلِيٍّ وَغَيْرِهِمَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم: عِشْرِينَ رَكْعَةً وَهُوَ قَوْلُ سُفْيَانَ الثَّوْرِي وَإِبْنِ الْمُبَارَكَ وَالشَّافِعِيّ وَقَالَ الشَّافِعِي : وَهَكَذَا أَدْرَكْتُ النَّاسَ بِمَكَّةَ يُصَلُّونَ عِشْرِينَ رَكْعَةً . أهـ.
“Al-Imam At-Tirmizi berkata di dalam kitab Jami’nya yang bernama Sunan at-Tirmizi: Kebanyakan Ahl al-Ilm di atas pendapat seperti yang diriwayatkan dari Sayyiduna Umar, Sayyiduna Ali dan selain keduanya dari para sahabat Nabi صلى الله عليه وآله وسلم iaitu (mendirikan sholat Tarawih sebanyak) 20 rakaat. Ia adalah pendapat Sufyan ath-Thauri, Ibn Al-Mubarak, Syafi’e. Imam Syafi’e berkata: Dan beginilah aku mendapati orang ramai di Makkah mereka mendirikan (sholat Tarawih dengan ) 20 rakaat.” Intaha.
Ibn Rusyd menyebutkan di dalam Bidayah al-Mujtahid:
اِخْتَارَ مَالِكٌ – فِي أَحَدِ قَوْلَيْهِ – وَأَبُو حَنِيفَةَ وَالشَّافِعِي وَأَحْمَدُ اَلْقِيَامُ
بِعِشْرِينَ رَكْعَةً سِوَى الْوِتْرِ.
“Imam Malik telah memilih –dalam salah satu di antara dua pendapatnya-,
juga Abu Hanifah, Syafi’e, Ahmad dengan 20 rakaat selain Witir.” [33]
Seterusnya Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni menyebutkan:
“Bahawa kedua Haramaian (Masjidil Haram dan Masjid Nabawi) juga menjadi panduan dan ikutan kita dalam perkara Sholat Tarawih 20 rakaat ini yang mana kedua-dua masjid suci ini mendirikan Sholat Tarawih dengan 20 rakaat sejak zaman dahulu lagi sehingga sekarang.”[34]
Pendapat mazhab lain:
1) Mazhab Hanafi
Syaikh As-Sarakhsi menyebutkan:
إِنَّهَا عِشْرُونَ رَكْعَةً سِوَى الْوِتْرِ عِندَنَا، وَقَالَ مَالِكٌ: اَلسُّنَّةُ فِيهَا سِتَّةٌ وَثَلاَثونَ
“Sesungguhnya ia (Tarawih) 20 rakaat selain Witir di sisi kami, dan Malik berkata: Sunnah padanya 36 rakaat.”[35]
Syaikh Al-Kasani menyokong pendapat tersebut dengan mengatakan:
وَأَمَّا قَدْرُهَا فَعِشْرُونَ رَكْعَةً فِي عَشَرِ تَسْلِيمَاتٍ، فِي خَمْسِ تَروِيحَاتٍ، كُلُّ تَسْلِيمَتَيْنِ تَرْوِيحَةٌ، وَهَذَا قَوْلُ عَامَّةِ الْعُلمَاءِ
“Dan adapun kadarnya maka (ia adalah) 20 rakaat dalam 10 kali salam, 5 kali rehat, setiap 2 kali salam ada 1 rehat. Dan inilah pendapat kebanyak ulama’.”[36]
Pendapat ini disokong pula oleh Al-Allamah Ibn Abidin di dalam Hasyiahnya:
(قَوْلُهُ وَهِيَ عِشْرُونَ رَكْعَةً) هُوَ قَوْلُ الْجُمْهُورِ، وَعَلَيْهِ عَمَلَ النَّاسُ شَرْقًا وَغَرْبًا
“(Perkataannya: Dan ia 20 rakaat) adalah pendapat jumhur, dan atas pendapat inilah orang ramai beramal di timur dan barat.”[37]
2) Mazhab Maliki
Apa yang masyhur dalam mazhab Maliki ialah pendapat yang mengikut jumhur (iaitu 20 rakaat). Al-Allamah Ad-Dardir berkata:
(وَالتَّرَاوِيحُ ): بِرَمَضَانَ (وَهِيَ عِشْرُونَ رَكْعَةً) بَعْدَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ، يُسَلِّمُ مِن كُلِّ رَكْعَتَيْنِ غَيْرَ الشَّفع وَالْوِتْرِ. (وَ) نَدِبَ (الْخَتْمُ فِيهَا): أَيْ اَلتَّرَاوِيحِ، بِأَن يَقْرَأَ كُلَّ لَيْلَةٍ جُزْءًا يُفَرِّقُهُ عَلَى الْعِشْرِينَ رَكْعَةً.
“(Dan Tarawih): pada bulan Ramadhan (iaitu 20 rakaat) selepas Sholat Isya’, salam pada setiap 2 rakaat selain…. Dan Witir. (Dan) Sunat (mengkhatamkan Al-Quran dalamnya): iaitu ketika Tarawih dengan cara membaca satu juzu’ pada setiap malam yang dibahagi-bahagi dalam 20 rakaat.”[38]
Al-Allamah An-Nafrawi menyebutkan pendapat yang menguatkan pendapat jumhur ulama’ (20 rakaat) dan pengikut mazhab Maliki kembali kepada pendapat ini kerana ia adalah salah satu pendapat Imam Malik sendiri dengan katanya:
(كَانَ السَّلَفُ الصَّالِحُ) وَهُمُ الصَّحَابَةُ (يَقُومُونَ فِيهِ) فِي زَمَنِ خِلاَفَةِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ. وَبِأَمْرِهِ كَمَا تَقَدَّمَ (فِي الْمَسَاجِدَ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً) وَهُوَ اِخْتِيَارُ أَبِي حَنِيفَةَ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ. وَالْعَمَلُ عَلَيْهِ اْلآنَ فِي سَائِرِ اْلأَمْصَارِ. (ثُمَّ) بَعْدَ صَلاَةِ الْعِشْرِينَ ( يُوتِرُونَ بِثَلاَثٍ) مِن بَابِ تَغْلِيبِ اْلأَشْرَفِ لاَ أَنَّ الثَّلاَثَ وِتْرٌ، لأَنَّ الْوِتْرَ رَكْعَةٌ وَاحدَةٌ كَمَا مَرَّ، – إِلَى أَن قَالَ – وَاسْتَمَرَّ عَمَلَ النَّاسُ عَلَى الثَّلاَثَةِ وَالْعِشْرِينَ شَرْقًا وَغَرْبًا. (ثُمَّ) بَعْدَ وَقَعَةِ الْحَرَّةِ بِالْمَدِينَةِ (صَلُّوا) أَيْ اَلسَّلَفُ الصَّالِحُ غَيْرَ الَّذينَ تَقَدَّمُوا، لأَنَّ الْمُرَادَ بِهمْ هُنَا مَن كَانَ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ (بَعْدَ ذَلِكَ) اَلْعَدَدُ الَّذِي كَانَ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ (سِتًّا وَثَلاَثِينَ رَكْعَةً غَيْرَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ) – إِلَى أَن قَالَ – : وَهَذَا اِخْتَارَهُ مَالِكٌ فِي الْمُدَوَّنَةِ وَاسْتَحْسَنَهُ. وَعَلَيْهِ عَمَلَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ. وَرَجَحَ بَعْضُ أَتْبَاعِهِ اَلأَوَّلَ الَّذِي جَمَعَ عُمَرُ بْنِ الْخَطَّابِ النَّاسَ عَلَيْهَا لاِسْتِمْرَارِ الْعَمَلِ فِي جَمِيعِ اْلأَمْصَارِ عَلَيْهِ.
“Adalah Salafus Soleh) iaitu para sahabat (mendirikan padanya) iaitu pada zaman kekhalifahan Umar bin Al-Khattab. Dan dengan arahannya seperti yang disebutkan terdahulu (untuk mendirikannya) (di masjid-masjid dengan 20 rakaat) iaitulah pendapat yang dipilih oleh Abu Hanifah, Syafi’e dan Ahmad, dan itulah yang diamalkan sekarang di seluruh tempat. (Kemudian) selepas sholat 20 rakaat (mereka mendirikan Witir dengan 3 rakaat) iaitu termasuk dalam bab melebihkan, bukanlah 3 rakaat itu dinamakan Witir, kerana Witir itu 1 rakaat sahaja seperti yang telah dijelaskan…-sehinggalah kepada perkataannya- Dan berterusanlah perbuatan orang ramai dengan 23 rakaat ini, di timur dan barat. (Kemudian) selepas berlakunya kemarau di Madinah (mereka sembahyang) iaitu ‘Salafus Soleh’ bersembahyang tidak seperti yang mereka telah dilakukan. Yang dimaksudkan ‘Salafus Soleh’ di sini ialah mereka yang berada pada masa Umar bin Abdul Aziz (selepas itu) (tidak seperti) bilangan yang telah dilakukan pada masa Umar bin Al-Khattab (iaitu dalam masa Umar bin Abdul Aziz, mereka melakukannya dengan) (36 rakaat tidak termasuk genap dan Witir) – sehinggalah kepada perkataannya-: Dan inilah yang dipilih oleh Imam Malik di dalam mudawwanah dan dia menganggap ia adalah baik (iaitu 36 rakaat itu). Dan pendapat ini menjadi pegangan penduduk Madinah. Dan sebahagian pengikut Imam Malik pendapat pertama (iaitu 20 rakaat) yang mana Umar bin Al-Khattab telah mengumpul orang ramai dengan bilangan ini agar amalan ini berterusan dilakukan di seluruh tempat.”[39]
3) Mazhab Hanbali
Al-Allamah Ibn Qudamah al-Maqdisi berkata:
وَالْمُخْتَارُ عِندَ أَبِي عَبْدِ اللهِ فِيهَا عِشْرُونَ رَكْعَةً. وَبِهَذَا قَالَ الثَّوْرِيُّ وَأَبُو حَنِيفَةَ وَالشَّافِعِيُّ. وَقَالَ مَالِكٌ: سِتَّةُ وَثَلاَثُونَ. وَزَعَمَ أَنَّهُ اْلأَمْرَ الْقَدِيمَ، وَتَعَلَّقَ بِفِعْلِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ، فَإِنَّ صَالِحًا مَوْلَى التَّوْأَمَةَ قَالَ: أَدْرَكْتُ النَّاسَ يَقُومُونَ بِإِحْدَى وَأَرْبَعِينَ رَكْعَةً يُوتِرُونَ منْهَا بِخَمْسٍ.
“Dan (pendapat) yang dipilih di sisi Abu Abdullah (gelaran kepada Imam Ahmad bin Hanbal) padanya 20 rakaat. Dan inilah juga pendapat Sufyan Ath-Thuri, Abu Hanifah dan Syafi’e. Malik berkata: 36 (rakaat). Beliau mendakwa ia adalah perkara yang lama dan menghubungkan pendapatnya dengan perbuatan penduduk Madinah. Soleh maula kepada At-Tau’amah berkata: Aku mendapati orang ramai mendirikan (Sholat Tarawih) sebanyak 40 rakaat dan melakukan Sholat Witir 5 rakaat.”[40]
Al-Allamah Al-Bahuti menukilkan pendapat yang dipegang dalam mazhab Hanbali dengan katanya:
سُمِيَتْ بِذَلِكَ لأَنَّهُمْ يَجْلِسُونَ بَيْنَ كُلِّ أَرْبَعَ يَسْتَرِيحُونَ، وَقِيلَ مَشَقَّةٌ مِنَ الْمَرَاوَحَةِ وَهِيَ التِّكْرَارُ فِي الْفِعْلِ، وَهِيَ (عِشْرُونَ رَكْعَةً فِي رَمَضَانَ) لِمَا رَوَى مَالِكٌ، عَن يَزِيدٍ بْنِ رُومَانَ، قَالَ: كَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ فِي زَمَنِ عُمَرَ فِي رَمَضَانَ بِثَلاَثٍ وَعِشْرِينَ.
“Dinamakan begitu kerana mereka duduk di antara setiap 4 rakaat berehat. Dan dikatakan, kesusahan dari…. Iaitu pengulangan pada perbuatan iaitu (20 rakaat pda bulan Ramadhan) mengikut apa yang diriwayatkan oleh Malik dari Yazid bin Ruman berkata: “Adalah manusia mendirikan sholat Tarawih pada zaman Umar pada bulan Ramadhan dengan dua puluh tiga rakaat.”[41]
Pendapat Syaikh Ibn Taimiyyah dan Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abd al-Wahhab
Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni menyebutkan:
…..Syaikh Ibn Taimiyyah menyebutkan di dalam Al-Fatawa:
ثَبَتَ أَنَّ أُبَي بْنِ كَعْبٍ، كَانَ يَقُومُ بِالنَّاسِ عِشْرِينَ رَكْعَةً فِي رَمَضَانَ وَيُوَتِّرُ بِثَلاَثٍ فَرَأَى كَثِيرٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ أَنَّ ذَلِكَ هُوَ السُّنَّةُ لأَنَّهُ قَامَ بَيْنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلاَنصَارِ وَلَمْ يُنكِرُهُ مُنكِرٌ.
“Telah thabit sesungguhnya Ubay ibn Ka’ab telah mendirikan (sholat Tarawih) bersama orang ramai sebanyak 20 rakaat pada bulan Ramadhan dan dia sholat Witir dengan 3 rakaat. Maka orang ramai melihat perbuatan itu adalah sebagai sunnah kerana bahawasanya dia mendirikannya di antara sahabat dari Muhajirin dan Anshar dan tidak ada seorangpun yang menegahnya.”
Di dalam Majmu’ al-Fatawa an-Najdiyyah disebutkan bahawa Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abd al-Wahhab menyebutkan di dalam jawapannya tentang bilangan rakaat Tarawih:
أَنَّ عُمَرَ رضي الله عنه لَمَّا جَمَعَ النَّاسَ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ كَانَتْ صَلاَتُهُمْ عِشْرِينَ رَكْعَةً.
“Sesungguhnya Umar ketika mengumpulkan orang ramai bersama Ubay ibn Ka’ab, adalah sholat mereka (ketika itu) sebanyak 20 rakaat.”[42]
B) Hujah kepada pendapat yang mengatakan rakaat Tarawih hanya 8 rakaat (dan menjadi 13 termasuk sholat Witir)
a) Dalil hanya 8 rakaat:
Hadits Sholat Tarawih hanya 8 rakaat (menjadi 11 rakaat termasuk 3 rakaat Witir) kerana merujuk kepada hadith dari Sayyidatuna ‘Aisyah:
مَا كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَزِيْدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشَرَةَ رََكْعَةً، يُصَلِّى اَرْبَعًا فَلاَ تَسْـأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثًا، فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوْتِرَ؟ فَقَالَ: يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامُ وَلاَ يَنَامُ قَلْبِي.
“Tidaklah Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم menambah pada bulan Ramadhan dan tidak pula pada bulan lainnya lebih sebelas rakaat. Baginda صلى الله عليه وآله وسلم sembahyang empat rakaat dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian Baginda صلى الله عليه وآله وسلم sembahyang empat rakaat dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian Baginda صلى الله عليه وآله وسلم sembahyang tiga rakaat. Kemudian aku (‘Aisyah) bertanya, “Wahai Rasulullah, adakah Tuan tidur sebelum sembahyang Witir?” Baginda صلى الله عليه وآله وسلم bersabda, “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, sedang hatiku tidak tidur.”[7]
1) Jumlah 13 rakaat bukan untuk Sholat Tarawih, tetapi sholat malam (Qiyamullail) serta Sholat Witir
Syaikh Muhammad bin ‘Allan dalam kitab Dalil al-Falihin menerangkan bahawa:
“Hadith di atas adalah hadith tentang Sholat Witir kerana Sholat Witir itu paling banyak hanya sebelas rakaat, tidak boleh lebih. Hal itu terlihat dari ucapan ‘Aisyah bahawa:
مَا كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَزِيْدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشَرَةَ رََكْعَةً…
“Tidaklah Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم menambah pada bulan Ramadhan dan tidak pula pada bulan lainnya lebih sebelas rakaat….” sedangkan sholat Tarawih atau “Qiyam Ramadhan” hanya ada pada bulan Ramadhan sahaja.” [43]
Syaikh Al-Khan mengatakan di dalam Al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Mazhab al-Imam asy-Syafi’i: “Sholat Tarawih hanyalah dilaksanakan pada malam bulan Ramadhan.”[44]
K.H. Siradjuddin Abbas berkata:
“Sembahyang yang dikatakan oleh Ummul Mu’minin Siti ‘Aisyah yang bahwa Nabi Muhammad صلى الله عليه وآله وسلم tidak lebih dari mengerjakannya dari 11 rakaat itu ialah sembahyang Tahajjud malam hari dan Witir di belakangnya, bukan sembahyang Tarawih…”[45]
Beliau (K.H. Siradjuddin Abbas) menulis bahawa Imam Bukhari ketika meletakkan hadith ‘Aisyah ini di dalam Shahihnya, beliau (Imam Bukhari menulis):
بَابُ قِيَامِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِاللَّيْلِ فِي رَمَضَانَ وَفِي غَيْرِهِ
“Bab pada menyatakan Qiyam Nabi صلى الله عليه وآله وسلم pada waktu malam pada bulan Ramadhan dan pada bulan selainnya.”
Komen dari beliau ialah:
“Ini petunjuk bahwa Imam Bukhari juga berpendapat bahwa sembahyang ini bukan Sembahyang Tarawih, tetapi Sembahyang Tahajjud Malam yang dikerjakan dalam bulan Ramadhan dan luar Ramadhan.”[46]
Syaikh Abdullah bin Ibrahim al-Anshari [47] di dalam muqaddimah kitab Al-Hady an-Nabawi ash-Shahih fi Solah at-Tarawih menyebutkan:
أَمَّا حُجَّةُ مَن يَحْتَجُّ بِحَدِيثِ عَائِشَةَ مِنْ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَا كَانَ يَزِيدُ عَن ثَلاَثِ عَشْرَةَ رَكْعَةٍ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِ رَمَضَانَ، فَإِنَّهَا تَحْكِي مَا كَانَ مِنْ عَمَلِ الرَّسُولِ صلى الله عليه وسلم فِي صَلاَتِهِ فِي بَيْتِهِ وَبِمُفْرَدِهِ. وَهَذَا لاَ يُعَارِضُ مَا رَآهُ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ مِنْ إِقَامَةِ صَلاَةِ اللَّيْلِ فِي رَمَضَانَ بِالْجَمَاعَةِ حَيْثُ جَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ.
وَلَعَلَّ أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ تَحْكِى غَالِبَ مَا كَانَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي حَيَاتِهِ مِن قِيَامِ اللَّيْلِ وَكَانَ ذَلِكَ تَيْسِيرًا عَلَى أُمَّتِهِ كَمَا نَصَّ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: (( إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَى مِن ثُلُثَيِ اللَّيْلِ…))
“Adapun hujah orang yang berhujah dengan hadith ‘Aisyah di mana sesungguhnya Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم tidak pernah menambah lebih dari 13 rakaat pada Ramadhan dan tidak pula pada luar Ramadhan, maka dia (Sayyidatuna ‘Aisyah) bahawasanya menceritakan apa yang termasuk dalam amalan sholat Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم di rumah Baginda صلى الله عليه وآله وسلم dan apa yang dikerjakan Baginda صلى الله عليه وآله وسلم secara sendirian[48]. Dan ini (apa yang dilihat oleh Sayyidatuna ‘Aisyah) tidaklah menyalahi (membatalkan) apa yang diijtihadkan oleh Umar bin Al-Khattab untuk mendirikan sholat malam pada bulan Ramadhan secera berjemaah di mana dia mengumpulkan mereka dengan diimami oleh Ubay bin Ka’ab.
Dan bolehlah dianggapkan bahawa Ummul Mukminin (dalam mengatakan tentang 13 rakaat itu) menceritakan apa yang selalu dilakukan oleh Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم dalam hidup Baginda صلى الله عليه وآله وسلم dalam qiyamullail, dan itu adalah kerana Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم inginkan keringanan ke atas umat Baginda صلى الله عليه وآله وسلم seperti yang dinashkan tentangnya oleh Al-Quran al-Karim dalam firman Allah Ta’ala mafhumnya: “Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahawasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam….(Surah Al-Muzammil: 20).”[49]
Mungkin juga hadith Sayyidatuna ‘Aisyah menunjukkan Sholat Witir kerana ia adalah sholat malam yang dilaksanakan dengan 1 atau 3 atau 5 atau 7 atau 9 atau 11, yang dilakukan selepas sholat Isya’, dilaksanakan pada bulan Ramadhan dan luar Ramadhan [50].
Al-Mukarram H.M.H. Alhamid Alhusaini di dalam bukunya Risalah Tentang Beberapa Soal Khilafiyah[51] mengatakan bahawa hadith ‘Aisyah tidak boleh dijadikan alasan kerana 2 sebab:
1- Hadith daripada ‘Aisyah menunjukkan apa yang dilihat oleh ‘Aisyah ketika giliran Baginda صلى الله عليه وآله وسلم di rumahnya pada malam-malam tertentu sahaja kerana Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم mempunyai isteri-isteri lain. Kemungkinan bilangan rakaat yang dilakukan oleh Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم di rumah isteri-isteri Baginda صلى الله عليه وآله وسلم yang lain adalah lebih dari itu. Perkara ini tidak mustahil kerana perkara lain pernah berlaku kepada ‘Aisyah umpamanya dalam Sholat Dhuha.
Di dalam hadith dari ‘Aisyah menyebutkan:
مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي سَبْحَةَ الضُّحَى، وَإِنِّي لأُسَبِّحُهَا – أَيْ لأُصَلِّيهَا – وَإِن كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لِيَدْعَ الْعَمَلَ وَهُوَ يُحِبُّ أَن يَعْمَلَ خَشْيَةً أَن يَعْمَلَ بِهِ النَّاسُ فَيُفْرَضُ عَلَيْهِمْ
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم bersembahyang Sholat Dhuha sama sekali. Dan aku sendiri mendirikan sembahyang Dhuha. Dan walaupun Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم sendiri sebenarnya menyukainya tetapi Baginda صلى الله عليه وآله وسلم meninggalkannya kerana khuwatir orang ramai akan melakukannya lalu (nantinya) akan difardhukan ke atas mereka.”[52]
Walau bagaimana pun, terdapat hadith lain yang jelas menunjukkan Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم mendirikan Sholat Dhuha dan menganjurkan Abu Hurairah agar tidak meninggalkannya. Di dalam hadith dari Abu Hurairah disebutkan:
أَوْصَانِي حَبِيبِي بِثَلاَثٍ لَنْ أَدْعُهُنَّ مَا عِشْتُ: بِصِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ كُلَّ شَهْرٍ وَصَلاَةِ الضُّحَى وَبِأَن لاَّ أَنَامَ حَتَّى أُوتِرَ
“Kekasihku (Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم) telah mewasiatkanku 3 perkara, tidak sekali-kali aku meninggalkannya selagi masih hidup: agar berpuasa 3 hari setiap bulan, Sholat Dhuha dan tidak tidur sehingga sholat Witir terlebih dahulu.”[53]
Di dalam hadith dari Abd ar-Rahman bin Abi Laila menyebutkan:
مَا أَخْبَرَنِي أَحَدٌ أَنَّهُ رَأَى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي الضُّحَى إِلاَّ أُمُّ هَانِئ، فَإِنَّهَا حَدَثَتْ: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم دَخَلَ بَيْتَهَا يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ فَصَلَّى ثَمَانِي رَكَعَات مَا رَأَيْتُهُ قَطٌّ صَلَّى صَلاَةً أَخَفَّ مِنْهَا غَيْرَ أَنَّهُ كَانَ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ
“Tidak ada seorang pun yang pernah memberitahu kepadaku bahawa dia pernah Nabi صلى الله عليه وآله وسلم bersembahyang Dhuha melainkan Ummu Hani’, sesungguhnya dia berkata: Sesungguhnya Nabi صلى الله عليه وآله وسلم masuk ke rumahnya pada hari pembukaan Makkah, lalu sholat 8 rakaat. Aku tidak pernah melihat Baginda صلى الله عليه وآله وسلم sholat lebih ringan daripada sholat yang aku lihat itu, beliau ruku’ dan sujud dengan sempurna.”[54]
Pernyataan Sayyidatuna ‘Aisyah bahawa Nabi صلى الله عليه وآله وسلم tidak pernah bersembahyang Dhuha adalah berdasarkan apa yang dilihatnya di rumahnya. Walau bagaimana pun, di tempat lain, Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم memang ada melakukannya.
2) Hadith lain menunjukkan Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم bersembahyang malam lebih dari 11 rakaat.
Hadith dari Ibn Abbas mengatakan:
كَانَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ سِتَّ عَشْرَةَ رَكْعَةً سِوَى الْمَكْتُوبَةِ
“Adalah Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم bersembahyang malam 13 rakaat.”[55]
Hadith dari Ali bin Abi Tholib pula menyatakan:
كَانَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً
“Adalah Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم bersembahyang malam 16 rakaat selain sholat wajib.”
Dalam hadith dari Zaid bin Khalid al-Jahni pula mengatakan bahawa Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم bersembahyang malam sebanyak 13 rakaat [56]
Semua hadith ini menunjukkan bahawa sembahyang malam Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم lebih dari 11 rakaat, tidak sama dengan bilangan rakaat yang disebutkan oleh Sayyidatuna ‘Aisyah.
2) Kedudukan istimewa para sahabat
Pendapat dan kedudukan para sahabat adalah sangat istimewa yang harus diikuti oleh umat Islam. Sabda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم:
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ مِن بَعْدِي
“Maka hendaklah kamu berpegang teguh kepada sunatku
dan sunat al-Khulafa’ Ar-Rasyidun sesudah aku.”[57]
Oleh itu, Sayyiduna Umar tidak mungkin mengada-adakan sesuatu tanpa ada asas pendapat dari Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم kerana para sahabat semuanya sepakat mengerjakan Tarawih dengan 20 rakaat pada zaman Umar dan selepasnya dan tidak ada seorang pun yang mengingkarinya. Ini dinama “ إِجْمَاعُ الصَّحَابَةِ السُّكُوتِي “ (Sepakat para sahabat menerimanya walaupun tidak menyuarakan pendapat mereka ketika bersetuju tentangnya).
Al-Allamah Taqiy ad-Din Abu Bakr bin Muhammad al-Husaini al-Hushni ketika menyebutkan tentang ijtihad Sayyiduna Umar menyuruh 20 rakaat itu menyatakan di dalam kitabnya Kifayah al-Akhyar fi Hall Ghayah al-Ikhtishar:
وَأَجْمَعَ الصَّحَابَةُ مَعَهُ عَلَى ذَلِكَ
“Dan para sahabat telah ijma’ bersama (pendapat)nya atas perkara itu (mengerjakan Tarawih 20 rakaat secara berjemaah dengan dipimpin oleh seorang imam di masjid).” [58]
K.H. Siradjudin Abas menulis:
“Saidina Umar, seorang Sahabat Nabi صلى الله عليه وآله وسلم yang dipercayai Khalifah Nabi صلى الله عليه وآله وسلم yang kedua memerintahkan 20 rakaat. Ini berarti bahwa beliau mengetahui bahwa banyaknya sembahyang Tarawih Nabi صلى الله عليه وآله وسلم, baik di mesjid atau di rumah sebanyak 20 rakaat. Kalau tidak, tentu Saidina Umar tidak akan memerintahkan begitu. Ini namanya riwayat hadits dengan perbuatan. Kita ummat Islam disuruh oleh Nabi صلى الله عليه وآله وسلم mengikuti Saidina Abu Bakar dan Umar.”[59]
Drs. K.H. Achmad Masduqi Machfudh dalam tulisannya telah menukilkan pendapat yang ditulis oleh Almarhum K.H. Ali Ma’sum Krapyak, Yogyakarta dalam bukunya berjudul Hujjah Ahlus Sunnah wal Jamaah:
“…..Imam Abu Hanifah telah ditanya tentang apa yang telah dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab رضي الله عنه Beliau menjelaskan, “Sholat Tarawih adalah sunnah muakkadah. Umar رضي الله عنه tidak menentukan bilangan 20 rakaat tersebut dari kehendaknya sendiri. Dalam hal ini beliau bukanlah orang yang berbuat bid’ah. Beliau tidak memerintahkan sholat 20 rakaat, kecuali berasal dari sumber pokoknya iaitu dari Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم.”[60]
3) Jika benar jumlah 11 rakaat itu untuk Sholat Tarawih (dan Witir), ia adalah apa yang dilihat oleh Sayyidatuna ‘Aisyah sahaja
Sebahagian yang lain mengatakan, jumlah yang dikatakan oleh Sayyidatuna ‘Aisyah, kerana mungkin itulah dilihat oleh Sayyidatuna ‘Aisyah ketika giliran Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم di rumahnya. Kemungkinan Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم mengerjakannya lebih daripada lapan rakaat pada malam lain ketika giliran Baginda صلى الله عليه وآله وسلم bersama isteri-isteri lain [61]
Renungan:
Syaikh Ali Jum’ah ketika menjawab persoalan berapa rakaat Tarawih ini menyebutkan di awal jawapannya:
“Bahawa terdapat golongan yang dengan lantang menyalahkan para Aimmah (Imam-imam mazhab) dan umat yang terdahulu, mengingkari mereka dengan ingkar yang keras dan menuduh para Aimmah dan umat ini melakukan bid’ah (dhalalah). Mereka juga mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah dengan kata mereka: “Tidak boleh menambah lebih dari 8 rakaat pada Sholat Tarawih”. “[62]
Beliau menulis lagi:
وَلَمْ تَعْرِفِ اْلأُمَّةُ الْقَوْلَ بِأَنَّ صَلاَةَ التَّرَاوِيحِ ثَمَانُ رَكَعَاتٍ إِلاَّ فِي هَذَا الزَّمَانِ، وَسَبَبُ وُقُوعِهِمْ فِي تِلْكَ الْمُخَالَفَةِ اَلْفَهْمُ الْخَاطِئُ لِلسُّنَّةِ النَّبَوِيَّةِ، وَعَدَمُ قُدْرَتِهِمْ عَلَى الْجَمْعِ بَيْنَ اْلأَحَادِيثِ، وَعَدَمُ اِلْتِفَاتِهِمْ إِلَى اْلإِجْمَاعِ الْقَوْلِي وَالْفِعْلِي مِن لَّدُنِ الصَّحَابَةِ إِلَى يَوْمِنَا هَذَا، فَاسْتَشْهَدُوا بِحَدِيثِ عَائِشَةَ رضي الله عنها…
“Dan umat Islam tidak pernah tahu adanya pendapat yang mengatakan bahawasanya Sholat Tarawih itu 8 rakaat kecuali pada zaman ini (zaman moden ini). Dan sebab terjatuhnya mereka ke dalam perkara khilafiyyah itu ialah kerana kefahaman yang salah kepada sunnah Nabi صلى الله عليه وآله وسلم, ketidak upayaan (ilmu) mereka dalam menghimpunkan antara hadith-hadith dan keengganan mereka merujuk kepada ijma qauli (perkataan) dan ijma’ fi’li (perbuatan) yang berlaku dari zaman para sahabat sehinggalah ke zaman kita ini, lalu mereka terus berhujah dengan hadith Sayyidatuna Aisyah…”[63]
Beliau seterusnya memberi komentar tentang golongan yang keras ini dengan katanya:
إِن لَمْ يَكُن مُسْتَنِدُ الأُمَّةِ فِعْلَ سَيِّدنَا عُمَرَ فَلِمَ تُؤَدِّي التَّرَاوِيحَ فِي جَمَاعَةٍ فِي الْمَسْجِدِ عَلَى إِمَامٍ وَاحِدٍ، وَكَأَنَّ هَؤُلاَءِ يَأْخُذُونَ مِن سُنَّةِ سَيِّدِنَا عُمَرَ جَمْعَ النَّاسِ عَلَى إِمَامٍ طَالَ الشَّهْرُ وَهُوَ مَا لَمْ يَفْعَلْهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَيَتْرُكُونَ عَدَدَ الرَّكَعَاتٍ وَيَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ يُطَبِّقُونَ السُّنَّةَ فَإِن كَانَ هَذَا صَحِيحًا، وَأَنتُمْ لاَ تلتفوا لِفعْلِ سَيِّدِنَا عُمَرَ فَيَجبُ عَلَيْكُمْ أَن تُصَلُّوا التَّرَاويحَ فِي الْبَيْتِ وَتَتْرُكُوا النَّاسَ يُطَبِّقُونَ دِينَ اللهِ كَمَا وَرَثُوهُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ.
“Jika tidak berlaku sandaran umat kepada perbuatan Sayyiduna Umar, kenapakah umat Islam menunaikan Sholat Tarawih secara berjemaah di masjid di belakang seorang imam?[64]. Dan adalah mereka[65] itu seolah-olah mengambil salah satu sunah (perlakuan) Sayyiduna Umar umpamanya mengumpulkan orang ramai di belakang seorang imam (untuk sembahyang Tarawih) sepanjang bulan Ramadhan, sedangkan perkara ini tidak pernah dilakukan Nabi صلى الله عليه وآله وسلم [66] dan mereka meninggalkan bilangan rakaat[67]. Mereka mendakwa bahawa mereka mengikut sunnah Nabi صلى الله عليه وآله وسلم walau pun memang betul (jika mengikut sunnah Nabi صلى الله عليه وآله وسلم sebab ia adalah ajaran Islam). Dan kamu[68] (jika) tidak memilih perbuatan Sayyiduna Umar, maka hendaklah kamu bersembahyang Tarawih di rumah[69] dan biarkanlah orang ramai mengikut agama Allah (Islam) seperti yang mereka warisi dari para ulama’ mereka. Tidak ada daya (meninggalkan maksiat) dan kekuatan (melakukan ketaatan) melainkan dengan kekuasaan yang diberikan oleh Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.”[70]
Kesimpulan:
  1. Pendapat yang paling kuat tentang jumlah rakaat sholat Tarawih adalah 20 rakaat. Inilah yang dipilih oleh ulama’ Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah [71] Ia telah menjadi ittifaq empat mazhab dan menjadi ijma’ di kalangan ulama’[72]. Walau bagaimana pun, kepada sesiapa yang melaksanakan Sholat Tarawih 8 rakaat (menjadi 11 termasuk 3 rakaat Witir), juga mempunyai asasnya.
  2. Hadith yang diriwayatkan oleh Sayyidatuna ‘Aisyah di atas lebih menunjukkan sunnahnya perlaksanaan sholat-sholat Sunat pada waktu malam (Nafilah Qiyam al-Lail) dan bukannya sunnahnya perlaksanaan Sholat Tarawih [73].
  3. Jumlah rakaat Tarawih ini hanyalah masalah furu’iyyah/ khilafiyyah yang tidak seharusnya menimbulkan bimbit-bimbit perpecahan di dalam masyarakat terutamanya masyarakat Islam di Malaysia yang sejak dahulu lagi sudah melaksanakan Sholat Tarawih dengan 20 rakaat.
  4. Pendapat yang mengatakan bid’ah (dhalalah) orang yang mengerjakan Sholat Tarawih lebih dari 8 rakaat atau “ia seperti menambah Sholat Zohor menjadi 5 rakaat”, adalah pendapat yang kurang cermat dalam beristidlal. Hendaklah kita sentiasa insaf dan menyedari kemampuan keilmuan diri sendiri di bandingkan dengan ketokohan, keluasan ilmu, kefahaman dan bashirah serta ketinggian ubudiyyah para ulama’ mu’tabar terdahulu dan sekarang.
  5. Bulan Ramadhan ialah bulan beramal yang seharusnya amal ubudiyyah ditingkat dan digandakan kerana ganjaran besar yang dijanjikan Allah. Secara zahirnya, tentulah semakin banyak amal kebajikan dibuat, maka semakin besarlah juga ganjaran pahalanya. Walau bagaimana pun, setiap amalan mestilah disertai dengan ikhlas.
Antara tulisan yang boleh dirujuk dalam masalah ini ialah Al-Mashabih fi Solah at-Tarawih [74], karangan Imam Sayuthi, Al-Hady an-Nabawi ash-Shahih fi Solah at-Tarawih[75], karangan Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni, Tahqiq Ahkam Ba’dh Ummahat as-Solawat an-Nafilah[76], karangan Syaikh Muhammad Zaki Ibrahim, Al-Bayan lima Yasyghal al-Azhan[77], karangan Syaikh Ali Jum’ah dan Risalah Tentang Beberapa Soal Khilafiyah[78], H.M.H. Alhamid Alhusaini lain-lain.
Bagi mereka yang inginkan penjelasan lebih jelas tentang hadith Sholat Tarawih dan perbahasannya secara ilmiah dan mudah serta pendapat golongan yang mengharamkan lebih rakaat pada Sholat Tarawih dan jawapan kepada pendapat ini, bolehlah merujuk buku Tashhih Hadith Shalah at-Tarawih ‘Isyrin Rak’ah wa Ar-Radd ‘ala Al-Albani fi Tadh’ifih (Membetulkan Hadith Sholat Tarawih 20 Rakaat dan Penolakan atas Al-Albani kerana Mendhaifkannya), karangan Syaikh Ismail bin Muhammad al-Anshari, anggota Dewan Mufti (Dar al-Ifta’), Kerajaan Arab Saudi.
Notakaki:
1 – Jawapan ini dinukilkan sepenuhnya daripada buku Menjawab Persoalan Khilafiyyah, tulisan dan susunan Al-Faqir, Ustaz Muhadir bin Haji Joll. (Buku ini akan berada di pasaran sedikit masa lagi, InsyaAllah).
2 – sunat yang sangat dituntut untuk mengerjakannya bagi lelaki dan perempuan.
3 – Lihat Al-Hady an-Nabawi ash-Shahih fi Solah at-Tarawih, Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni, Jeddah, 1404H/1983M, ms. 38.
4 – Ibid, ms. 49-50.
5 – Lihat Lisan al-Arab, 1/615, perkataan: رَوَحَ rawaha.
6 – Lihat dalam Nail al-Author, 3/289.
7 – Muttafaq alaih dan An-Nasa’i.
8 – Riwayat Al-Bukhari dan Muslim.
9 – Riwayat Al-Baihaqi, Ath-Thobrani dan Abd bin Humaid. Walau bagaimana pun, Imam Sayuthi mengatakan: “Hadith ini Dhaif jiddan (terlalu dhaif) tidak boleh digunakan untuk berhujah”. (Lihat Al-Mashabih fi Solah at-Tarawih di dalam Rasa’il Hammah wa Mabahith Qayyimah, Bogor: Ma’had az-Zain al-Makki al-Ali li at-Tafaqquh fi ad-Din, Cetakan Pertama, 1428H/2007M, ms. 172. Kitab Rasa’il Hammah wa Mabahith Qayyimah ini adalah susunan Syaikhuna, Al-Faqih Syaikh Muhammad Nuruddin Marbu al-Banjari al-Makki. Kitab berbahasa Arab ini setebal 592 muka surat. Syaikh Muhammad Nuruddin telah mengumpul dan menyusun sebanyak 15 buah risalah dan 25 buah perbahasan yang diambil dari kitab-kitab tulisan para ulama’ muktabar termasuklah Al-Allamah al-Imam Ibn Al-Mulqan (guru Al-Hafiz Ibn Hajar al-Asqalani), Imam Al-Hafiz Jalal ad-Din as-Sayuthi, Al-Allamah Yusuf ad-Dijwi, Al-Allamah Zahid Al-Kauthari, Al-Allamah Syaikh Ismail Uthman Zain al-Yamani dan Al-Allamah Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki).
10 – As-Sunan al-Kubra, Al-Baihaqi, pada bab Apa yang diriwayatkan Tentang Bilangan Rakaat Qiyam pada Bulan Ramadhan, 2/496.
11 – Tashhih Hadith Shalah at-Tarawih ‘Isyrin Rak’ah wa Ar-Radd ‘ala al-Albani fi Tadh’ifih, karangan Syaikh Ismail bin Muhammad al-Anshari, ms. 7.
12 – Riwayat Al-Baihaqi. Imam Nawawi di dalam Khulashah mengatakan Isnadnya shahih.
13 – Riwayat Malik dalam Al-Muwaththo’.
14 – Ibn Qudamah di dalam Al-Mughni mengatakan bahawa ia diriwayatkan oleh Abu Daud.
15 – Lihat 40 Masalah Agama, K.H. Siradjuddin Abbas, Jakarta: Pustaka Tarbiyah Jakarta, 1425H/ 2005M, 1/318.
16 – Surah Al-Hajj: 77.
17 – Riwayat Al-Bukhari.
18 – Sabil al-Muhtadin li At-Tafaqquh bi Amr al-Din, Al-Imam Al-Allamah Syaikh Muhammad Ahmad bin Abdullah al-Banjari, Thailand: Maktabah wa Matba’ah Muhammad al-Nahdi wa Auladih, t.t, 1/11.
19 – Riwayat Ibn Khuzaimah di dalam Shahihnya.
20 – Lihat 40 Masalah Agama, 1/324.
21 – 3/527.
22 – Syaikh Muhammad ‘Ali ash-Shabuni hafizahullah ialah seorang ulama’ besar dan ahli tafsir yang sangat terkenal kerana ilmu dan wara’nya, dari Makkah. Beliau pernah menyandang jawatan Ketua Fakulti Syari‘ah di Universiti Umm al-Qura’, Makkah. Beliau mengarang banyak kitab terutamanya dalam bidang tafsir dan ilmu-ilmu Al-Qur’an (Ulum al-Qur’an) yang menjadi rujukan ulama’ seluruh dunia termasuklah Mukhtashar Tafsir Ath-Thobari, Mukhtashar Tafsir Ibn Kathir, At-Tafsir wa ‘Ulum al-Qur’an, Shafwah at-Tafasir, At-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur’an, Rawa’i al-Bayan fi Tafsir Ayat al-Ahkam dan Qabas Min Nur al-Qur’an. Beliau mempunyai hubungan yang sangat akrab dengan Al-Marhum, Al-Allamah Al-Muhaddith Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki semasa beliau masih hidup.
23 – Lihat Al-Hady an-Nabawi ash-Shahih fi Solah at-Tarawih, Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni, Jeddah, 1404H/1983M, ms. 54.
24 – Lihat Mughni al-Muhtaj, 1/226.
25 – Lihat Al-Mahalli, 1/217.
26 – Lihat Nihayah al-Muhtaj, 2/127.
27 – 1/360. Lihat juga di dalam I’anah ath-Tholibin, 1/265.
28 – 1/56.
29 – As-Solah ala al-Mazahib al-Arba’ah, Syaikh Abd al-Qadir Ar-Rahbawi, Al-Qahirah: Dar as-Salam, Cetakan Kedua, 1403H/1983M, ms. 169.
30 – Beliau adalah antara ulama’ besar Islam yang masih hidup pada zaman ini. Beliau mempunyai sanad keempat-empat mazhab. Beliau banyak menulis kitab-kitab yang sangat bermanfaat dalam mempertahankan kesucian aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Antara gurunya yang masyhur ialah Al-Allamah al-Muhaddith, Syaikh Abdullah bin Ash-Shiddiq Al-Ghumari dan Al-Allamah al-Muhaddith al-Muhaqqiq Syaikh Abd al-Fattah Abu Ghuddah.
31 – ms. 265-266.
32 – 1/276.
33 – ms. 66.
34 – Ibid, ms. 73.
35 – Al-Mabsuth, As-Sarakhsi, 2/144.
36 – Bada’i’ ash-Shana’i’, Al-Kasani, 1/288.
37 – Radd al-Mukhtar ‘ala Ad-Durr al-Mukhtar yang dikenali dengan Hasyiah Ibn Abidin, 2/46.
38 – Asy-Syarh ash-Shaghir, Ad-Dardir, di tepinya ada Hasyiah Al-Allamah Ash-Shawi, 1/404-405.
39 – Al-Fawakih ad-Dawani, An-Nafrawi, 1/318-319.
40 – Al-Mughni, 1/456.
41 – Riwayat Malik dalam Al-Muwaththo’. Lihat Kasysyaf al-Qina’, Al-Bahuti, 1/425.
42 – Al-Hady an-Nabawi ash-Shahih fi Solah at-Tarawih, ms. 70-71.
43 – 3/659. Lihat juga dalam Tashhih Hadith Shalah at-Tarawih ‘Isyrin Rak’ah wa Ar-Radd ‘ala al-Albani fi Tadh’ifih, ms. 13.
44 – Damasyq: Maktabah Dar al-Qalam, 1998, ms. 238.
45 – 40 Masalah Agama, 1/324.
46 – Ibid, 1/325.
47 – Mudir (Ketua), Yayasan Ihya’ at-Turath al-Islami, Doha, Qatar.
48 – Ia membawa maksud bahawa apa yang dilihat oleh Sayyidatuna ‘Aisyah sebanyak 13 rakaat itu ialah apa yang hanya dilihatnya di rumahnya dan Nabi صلى الله عليه وآله وسلم mengerjakannya secara bersendirian, bukanlah seperti bilangan rakaat yang dikerjakan Baginda صلى الله عليه وآله وسلم secara berjemaah di masjid kerana Nabi صلى الله عليه وآله وسلم selalu mengerjakan sholat di masjid.
49 – Al-Hady an-Nabawi ash-Shahih fi Solah at-Tarawih, ms. 8-9.
50 – Lihat Landasan Amaliyah NU, Lajnah Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama’, Jombang: Darul Hikmah, Cetakan Kedua, 2008, ms. 50.
51 – Semarang: C.V. Toha Putera, Cetakan Pertama, 1986M, ms. 219-224.
52 – Riwayat Muslim.
53 – Riwayat Muslim.
54 – Riwayat Muslim.
55 – Riwayat Muslim.
56 – Riwayat Muslim.
57 – Musnad Imam Ahmad.
58 – Kifayah al-Akhyar, tahqiq, takhrij dan ta’liq oleh Ali Abd al-Hamid Abu al-Khair dan Muhammad Wahbi Sulaiman, Bairut: Dar al-Khair, Cetakan Pertama, 1417H/1996M, ms. 112.
59 – 40 Masalah Agama, 1/319.
60 – ms. 24-40.
61 – Al-Bid’ah fi al-Mafhum al-Islami ad-Daqiq (Salah Faham Terhadap Bid’ah), Dr. Abdul Malik bin Abdur Rahman as-Sa’adi, terjemahan Muhammad Fadhli bin Ismail, Kuala Lumpur: Darul Nu’man, Cetakan Pertama, 2002M, ms. 193.
62 – Al-Bayan lima Yasyghal al-Azhan, Syaikh Ali Jum’ah, Al-Qahirah: Al-Maqthum, Cetakan Pertama, 1425H/2005M, ms. 265.
63 – Ibid, ms. 266.
64 – Umat Islam sejak dahulu lagi memang mengikut ijtihad Sayyiduna Umar ini. Sebab itulah mereka menunaikan Sholat Tarawih secara berjemaah di masjid-masjid.
65 – iaitu orang yang mengatakan menambah rakaat Tarawih lebih dari 8 rakaat adalah bid’ah (dhalalah)
66 – iaitu Nabi صلى الله عليه وآله وسلم tidak pernah melakukan atau menyuruh orang orang ramai bersembahyang Tarawih dengan dipimpin oleh seorang imam sepanjang bulan Ramadhan.
67 – iaitu tidak mengikut 20 rakaat seperti yang disuruh oleh Sayyiduna Umar.
68 – iaitu golongan yang membid’ahkan (dhalalah)orang yang sembahyang Tarawih 20 rakaat atau 36 rakaat
69 – Di sini ada dua maksud; pertama: kerana Nabi صلى الله عليه وآله وسلم selepas sembahyang Tarawih beberapa malam di masjid, Nabi صلى الله عليه وآله وسلم terus melaksanakannya hanya di rumah dan kedua: orang sedemikian seharusnya tidak membuat masyarakat Islam yang sudah beramal dengan panduan para ulama’ sejak dahulu lagi menjadi bingung kerana pendapat mereka (golongan ini) yang ganjil.
70 – Al-Bayan lima Yasyghal al-Azhan, ms. 266.
71 – Hukum-Hukum Islam Menurut Empat Mazhab, Kiyai Hj. Ab. Hamid Sulaiman, Selangor: Kunjungan Kreatif Sdn. Bhd., Cetakan Pertama, 1995, ms. 76. Lihat juga Al-Kalim ath-Thoyyib: Fatawa ‘Ashriyyah (Fatwa-fatwa Kontemporari), Syaikh Ali Jum’ah, terjemahan H. Hasanuddin Dolah, H. Ribut Hasanuddin Batubara dan H. Muhammad Zuhirsyam, Selangor: Berlian Publications Sdn. Bhd., Cetakan Pertama, 2008,1/51 dan Risalah Tentang Beberapa Soal Khilafiyah, ms. 201-224.
72 – Lihat seperti yang dinukilkan oleh Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni di dalam kitabnya Al-Hady an-Nabawi ash-Shahih fi Solah at-Tarawih di atas.
73 – Lihat pendapat dari Syaikh Ali Jum’ah ini di dalam Al-Bayan lima Yasyghal al-Azhan, ms. 266.
74 – Lihat Rasa’il Hammah wa Mabahith Qayyimah, ms. 172-178.
75 – Al-Hady an-Nabawi ash-Shahih fi Solah at-Tarawih, Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni, Jeddah, 1404H/1983M.
76 – Tahqiq Ahkam Ba’dh Ummahat as-Selawat an-Nafilah, Syaikh Muhammad Zaki Ibrahim, ta’liq dan takhrij Mahy ad-Din Husain Yusuf al-Asnawi, Mishr: Dar Ihya’ at-Turath ash-Shufi, Cetakan Kelima, 2002M, ms. 50-58.
77 – Lihat Al-Bayan lima Yasyghal al-Azhan, ms. 265-270.
78 – ms. 201-218.
Sumber: http://salafytobat.wordpress.com/