Shalawat Badaradalah
“Lagu Wajib” Nahdlatul Ulama. Berisi puji-pujian kepada Rasulullah SAW
dan Ahli Badar (Para Sahabat yang mati syahid dalam Perang Badar).
Berbentuk Syair, dinyanyikan dengan lagu yang khas.
Shalawat
Badar digubah oleh Kia Ali Mansur Banyuwangi, salah seorang cucu dari
KH. Muhammad Shiddiq Jember tahun 1960. Kiai Ali Mansur saat itu
menjabat Kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi, sekaligus menjadi
Ketua PCNU di tempat yang sama. Proses terciptanya Shalawat Badar penuh
dengan misteri dan teka-teki.
Konon, pada
suatu malam, ia tidak bisa tidur. Hatinya merasa gelisah karena terus
menerus memikirkan situasi politik yang semakin tidak menguntungkan NU.
Orang-orang PKI semakin leluasa mendominasi kekuasaan dan berani
membunuh kiai-kiai di pedesaan. Karena memang kiai-lah pesaing utama PKI
saat itu.
Sambil
merenung, Kiai Ali Mansur terus memainkan penanya diatas kertas, menulis
syair-syair dalam bahasa arab. Dia memang dikenal mahir membuat syair
sajak ketika masih belajar di Pesantren Lirboyo, Kediri.
Kegelisahan
Kiai Ali Mansur berbaur dengan rasa heran, karena malam sebelumnya
bermimpi didatangi para habib berjubah putih-hijau. Semakin mengherankan
lagi, karena pada saat yang sama istrinya bermimpi bertemu Rasulullah
SAW. Keesokan harinya mimpi itu ditanyakan pada Habib Hadi Al-Haddar
Banyuwangi. Habib Hadi menjawab: “ Itu Ahli Badar, ya Akhy.” Kedua mimpi
aneh dan terjadi secara bersamaan itulah yang mendorong dirinya menulis
syair, yang kemudian dikenal dengan Shalawat Badar.
Keheranan
muncul lagi karena keesokan harinya banyak tetangga yang datang
kerumahnya sambil mebawa beras, daging, dan lain sebagainya, layaknya
akan mendatangi orang yang akan punya hajat mantu. Mereka bercerita,
bahwa pagi-pagi buta pintu rumah mereka didatangi orang berjubah putih
yang memberitahukan bahwa dirumah Kiai Ali Mansur akan ada kegiatan
besar. Mereka diminta membantu. Maka mereka pun membantu sesuai dengan
kemampuannya.
“Siapa orang
yang berjubah putih itu?” Pertanyaan itu terus mengiang-ngiang dalam
benak Kiai Ali Mansur tanpa jawaban. Namun malam itu banyak orang
bekerja di dapur untuk menyambut kedatangan tamu, yang mereka sendiri
tidak tahu siapa, dari mana dan untuk apa.?
Menjelang
matahari terbit, serombongan habib berjubah putih-hijau dipimpin oleh
Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi dari Kwitang Jakarta, datang kerumah
Kia Ali Mansur. “Alahamdulillah………,” ucap kiai Ali Mansur ketika
melihat rombongan yang datang adalah para habaib yang sangat dihormati
keluaganya.
Setelah berbincang basa-basi sebagai pengantar, membahas perkembangan PKI dan kondisi politik nasional yang semakin
tidak menguntungkan, Habib Ali menanyakan topik lain yang tidak diduga
oleh Kiai Ali Mansur: “ Ya Akhy! Mana Syair yang ente buat kemarin?
Tolong ente bacakan dan lagukan di hadapan kami-kami ini!” Tentu saja
Kiai Ali Mansur terkejut, sebab Habib Ali tahu apa yang dikerjakannya
semalam. Namun ia memaklumi, mungkin itulah karomah yang diberikan Allah
kepadanya. Sebab dalam dunia kewalian, pemandangan seperti itu bukanlah
perkara aneh dan perlu dicurigai.
Segera saja
Kiai Ali Mansur mengambil kertas yang berisi Shalawat Badar hasil
gubahannya semalam, lalu melagukannya dihadapan mereka. Secara
kebetulan Kiai Ali Mansur juga memiliki suara bagus. Ditengah alunan
suara Shalawat Badar itu para Habaib mendengarkannya dengan khusyuk. Tak
lama kemudian mereka meneteskan air mata karena haru.
Selesai mendengarkan Shalawat Badar yang dikumandangkan oleh Kiai Ali Mansur, Hbib segera bangkit.
“Ya Akhy….! Mari kita perangi genjer-genjer
PKI itu dengan Shalawat Badar…!” serunya dengan nada mantap. Setelah
Habib Ali memimpin doa, lalu rombongan itu mohon diri. Sejak saat itu
terkenallah Shalawat Badar sebagai bacaan warga NU untuk membangkitkan
semangat melawan orang-orang PKI.
Untuk lebih
mempopulerkannya, Habib Ali mengundang para habib dan ulama (termasuk
Kiai Ali Mansur dan KH. Ahmad Qusyairi, paman Kiai Ali Mansur) ke Jalan
Kwitang, Jakarta. Di forum istimewa itulah Shalawat Badar dikumandangkan
secara luas oleh Kiai Ali Mansur.
Sumber : Antologi NU Jilid I. Pengantar KH. Abdul Muhith Muzadi
Ia adalah sebuah dataran tua di Asia Tengah yang hidup dengan banyak
legenda dan sastra. Jika namanya disebut, benak kita segera dibawa pada
padang pasir tanpa batas dengan deretan karavan unta, menara-menara
anggun, madrasah-madrasah dan makam berarsitektur oriental,
lembar-lembar sutra cantik, sulaman emas kelas dunia, dan pemandangan
budaya Islam di abad pertengahan nan eksotik. Itulah Uzbekistan.
Sebuah
negeri yang terkenal dengan jalur sutera yang menghubungkan benua Eropa
dan Asia melalui Cina sejak dulu. Uzbekistan berbatasan dengan
Kazakhstan di sebelah Utara, Kyrgystan di sebelah Timur, Tajikistan di
sebelah Timur Laut, serta Turkmenistan dan Afghanistan di sebelah
selatan. Keadaan alamnya terdiri dari dua pertiga padang pasir dan semi
padang pasir serta selebihnya terdiri dari pegunungan, lembah dan
dataran dengan.
Negeri berluas wilayah 447.400 kilometer persegi
ini memiliki dua musim cuaca dengan perbedaan ekstrem khas iklim
kontinental. Musim panasnya lebih panjang dan jarang hujan. Temperatur
rata-rata pada bulan Juli mencapai 32 derajat Celcius, bahkan di siang
hari dapat mencapai 40 derajat Celcius. Uzbekistan memiliki musim dingin
yang pendek dengan hujan salju yang sedikit pula.
Uzbekistan
adalah juga bangsa multikultur, antara lain terdiri dari bangsa Uzbek,
Rusia, Tajik, Kazakhs, dan Tatar. Bahasa resmi yang digunakan adalah
bahasa Uzbek yang serumpun dengan bahasa Turki. Namun, sebagian
masyarakatnya berbicara pula dalam bahasa Rusia, sebagai bukti
peninggalan zaman Uni Soviet. Penduduk Uzbekistan mayoritas memeluk
Islam Sunny (Hanafi), selain itu juga terdapat pemeluk Kristen
Orthodoks, Yahudi, bahkan atheis.
Pengaruh Islam mulai masuk ke
Uzbekistan pada abad ke-8 dan meninggalkan kebudayaan Islam, seperti
cabang ilmu pengetahuan, agama, dan arsitektur. Beberapa kota terkenal
sebagai kota-kota peradaban Islam. Seperti Samarkand yang merupakan
pusat Kekaisaran Timur Leng (Dinasti Ikhan) dan Ulugbek.
Makam
Imam Bukhari, pentafsir hadist Nabi Muhammad SAW, pun berada di
Samarkand walau ia lahir di Bukhara. Samarkand adalah juga ibukota
pertama Uzbekistan. Sedangkan, Bukhara adalah bekas ibukota keamiran
Bukhara. Selain itu kota Samarkand, Bukhara, dan Khiva juga merupakan
pusat peradaban Islam yang dikenal sebagai jalur sutra yang
menghubungkan Eropa dan Cina.
Timur Leng, salah seorang negarawan
besar asal Uzbekistan, di puncak kekuasaannya menjangkau Mongolia, Laut
Tengah, selatan Rusia dan India, bahkan akhirnya menaklukkan
kemaharajaan Ottoman pada akhir abad ke-14. Ia juga menjadi pemimpin
spiritual dan ahli strategi perang Uzbekistan yang lahir pada tahun 1336
di masa kejayaan Mongol. Timur Leng berambisi untuk membuat Samarkand,
kota kedua terbesar di Uzbekistan, menjadi pusat dunia.
Sebelumnya,
Uzbekistan merupakan gabungan dari tiga buah kerajaan Islam Bukhara,
Khiva, dan Kokand yang pada 1860-1870 diduduki oleh Kekaisaran Rusia.
Republik Uzbekistan berdiri pada 1924. Namun, di Mei 1925, Uzbekistan
dimasukkan menjadi salah satu bagian dari 15 republik dibawah kekuasaan
Uni Soviet. Sejak 31 Agustus 1991 negara dengan penduduk sebanyak 2 juta
jiwa itu menyatakan kemerdekaan dan kedaulatannya terpisah dari Uni
Soviet hingga meliputi sebuah daerah otonom Kara Kaplak.
Walau 60
persen muslim dan berlatar belakang Islam, sejauh ini penghayatan
terhadap agama Islam di Uzbekistan belum mendalam karena adanya
pembatasan terhadap kebebasan beragama pada jaman Uni Soviet. Usaha
untuk mengembangkan agama Islam kini mulai terlihat, antara lain
peningkatan jumlah pembangunan masjid yang sebelum 1989 hanya berjumlah
160 buah kini menjadi ribuan. Selain itu, telah diaktifkan kembali
institusi-institusi pendidikan Islam, seperti madrasah hingga pendirian
perguruan tinggi Islam di Tashkent.
Uzbekistan yang kaya akan
kekayaan alamnya ini menjadi salah satu saksi naik turunnya peradaban
dunia. Ia juga menjadi pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan di Asia
Tengah. Banyak bukti kejayaan peradaban Islam sejak abad ke-14 dan
kedalaman hati pada Tuhan terserak di negara bertambang emas terbesar di
dunia yang terletak di padang Kyzyl Kum.
Sekarang, tanpa
kehilangan aura romantisnya, Uzbekistan telah menjadi sebuah areal
industri dengan pengembangan agrikulturnya. Lembah Fergana yang
merupakan sebuah oase luas yang memperoleh pengairan dari
terusan-terusan dari anak sungai Amudarya dan Syrdarya ini menjadi pusat
pertanian dan penghasil kapas.
Kombinasi dari kekunoan dan
modernitas yang tumbuh bersama tersebut berusaha menarik kedatangan
turis dan bisnisman dari seluruh penjuru dunia. Tak kurang dari empat
jam perjalanan udara dari Moskow menuju Tashkent, ibukota negara
Uzbekistan, kita dapat mencapai kota terbesar di Asia Tengah ini. (rn)
Sumber-sumber
pemberitaan Lebanon mengkonfirmasikan kontrak militer senilai 127 juta
dolar antara Arab Saudi dan rezim Zionis Israel serta pembelian tujuh
pesawat mata-mata Israel.
Kantor Berita Mehr News melaporkan,
televisi al-Manar Lebanon mengutip lembaga-lembaga militer yang meneliti
soal persenjataan di Timur Tengah mengumumkan bahwa terjadi peningkatan
nilai kontrak pembelian senjata antara negara-negara sekitar Teluk
Persia dengan Amerika dan Eropa.
Berdasarkan laporan ini, data statistik
yang ada menunjukkan bahwa antara bulan Juli 2011 hingga Juli 2012
terjadi lonjakan drastis pembelian senjata oleh negara-negara Arab,
sekitar Teluk Persia, khususnya Arab Saudi.
Dalam laporan ini juga disebutkan
mengenai persaingan ketat perusahaan-perusahaan Eropa, Amerika dan
Israel untuk menjual senjata dan peralatan militer ke negara-negara
sekitar Teluk Persia.
Di bagian lain dari laporan ini
menyebutkan, Arab Saudi membeli 7 pesawat mata-mata tanpa awak dari
perusahaan-perusahaan Israel yang nilainya mencapai 127 dolar.
Jumlah sebesar itu belum termasuk
pelatihan dan perawatan, sementara satu orang instruktur khusus dari
perusahaan Israel bertanggung jawab untuk melatih sumber daya manusia
Arab Saudi untuk mengendalikan pesawat-pesawat tanpa awak ini.
Artinya, tanpa perlu banyak diketahui
publik, tangan-tangan Israel sudah merambah jauh ke dalam kerongkongan
pemerintah Arab Saudi. (http://www.republika.co.id)
Oleh: Totok Suhardijanto*Dalam
dua-tiga hari ini terselip berita tentang adanya pengungsi Rohingya di
antara imigran gelap yang tertangkap di Ciamis, Jawa Barat (Kompas,
31 Juli 2012). Rasa empati timbul manakala mendengar kabar bahwa etnis
Rohingya yang beragama Islam itu mengungsi karena menjadi sasaran
pembersihan etnis di Myanmar. Situasi bertambah runyam ketika melalui
media sosial, khususnya Facebook, kita mendapatkan foto-foto yang
diklaim sebagai korban pembersihan etnis Rohingya di Myanmar. Apakah
benar ada pembersihan etnis Rohingya di Myanmar? Kelihatannya kita perlu
mengecek kembali kebenaran berita itu.
Masih cukup
banyak di antara kita yang tak mengetahui secara jelas mengenai siapa
sebenarnya etnis Rohingya itu. Bagaimana asal-usul keberadaan etnis yang
-oleh PPB disebut- paling ditelantarkan di dunia? Mengapa mereka yang
mayoritas beragama Islam itu tinggal di wilayah yang mayoritas
penduduknya beragama Buddha? Tulisan singkat ini mencoba menyoroti
Rohingya dari sudut pandang kesejarahan.
Ingar-bingar berita tentang Muslim Rohingya timbul menyusul
konflik sektarian yang terjadi antara etnis Rohingya yang sebagian
besara dalah Muslim dan etnis Rakhine yang mayoritas merupakan penganut
Buddha. Penyebab konflik itu sendiri tak begitu jelas. Namun, beberapa
sumber menyebutkan bahwa kerusuhan itu merupakan buntut peristiwa
perampokan dan pemerkosaan terhadap perempuan Rakhine bernama Ma Thida
Htwe pada 28 Mei 2012. Kepolisian Myanmar sebenarnya telah menahan dan
memenjarakan 3 orang tersangka pelaku yang kebetulan dua di antaranya
adalah etnis Rohingya. Namun, tindakan itu ternyata tak cukup mencegah
terjadinya kerusuhan di negara bagian Rakhine yang terletak di bagian
barat Myanmar itu. Pada tanggal 4 Juni, terjadi penyerangan terhadap bus
yang diduga ditumpangi pelaku pemerkosaan dan kerabatnya. Tercatat 10
orang Muslim Rohingya tewas. Sejak itu, kerusuhan rasial di Rakhine pun
meluas.
Sebenarnya konflik antara etnis Rohingya dan
Rakhine kerap terjadi sejak puluhan tahun silam. Apa sebenarnya akar
masalahnya? Salah satu akar konflik menahun itu adalah status etnis
minoritas Rohingya yang masih dianggap imigran ilegal di Myanmar.
Pemerintah Myanmar tak mengakui dan tak memberi status kewarganegaraan
kepada mereka. Sebagai akibat tiadanya kewarganegaraan, etnis Rohingya
tak bisa mengakses pendidikan, layanan kesehatan, dan bahkan pekerjaan
yang layak. Mereka betul-betul terabaikan dan terpinggirkan.
Pemerintah
Myanmar tak mengakui kewarganegaraan etnis Rohingya karena menganggap
kelompok Muslim ini bukan merupakan kelompok etnis yang sudah ada di
Myanmar sebelum kemerdekaan Myanmar pada 1948. Hal itu ditegaskan
kembali oleh Presiden Myanmar, Thein Sein, dalam Al Jazeera, 29
Juli 2012 bahwa Myanmar tak mungkin memberikan kewarganegaraan kepada
kelompok Rohingya yang dianggap imigran gelap dan pelintas batas dari
Bangladesh itu.
Akar konflik yang lain adalah adanya
kecemburuan terhadap etnis Rohingya. Populasi etnis Muslim Rohingya
dalam beberapa dasawarsa ini terus meningkat. Tentu saja, hal ini
menyebabkan kecurigaan dan kecemburuan pada etnis mayoritas Rakhine.
Bagi mereka, keberadaan etnis Rohingya pun sangat mungkin dianggap
kerikil dalam sepatu, yakni sesuatu yang terus mengganggu. Keberadaan
etnis Rohingya dianggap mengurangi hak atas lahan dan ekonomi, khususnya
di wilayah Arakan, Rakhine yang menjadi pusat kehidupan etnis Muslim
ini.
Sejatinya Rohingya tidak tepat disebut “etnis”
karena kata itu merupakan label politis yang digunakan untuk
memperjuangkan keberadaan kelompok tersebut di Myanmar. Beberapa
sejarawan Myanmar mengatakan bahwa nama Rohingya baru muncul pada tahun
1950-an, setelah kemerdekaan Myanmar. Lalu, siapa sebenarnya mereka?
Dalam
catatan PBB, Rohingya hanya disebut sebagai penduduk Muslim yang
tinggal di Arakan, Rakhine, Myanmar. Dari sudut kebahasaan, bahasa yang
diklaim sebagai bahasa Rohingya sebenarnya termasuk ke dalam rumpun
bahasa Indo-Eropa, khususnya kerabatb ahasa Indo-Arya. Lebih detail
lagi, bahasa Rohingya dikategorikan sebagai bahasa-bahasa Chittagonia
yang dituturkan oleh masyarakat di bagian tenggara Bangladesh. Sementara
itu, kebanyakan bahasa di Myanmar tergolong rumpun Tai Kadal,
Austroasiatik, atau Sino-Tibetan. Jadi, jelas bahwa kelompok etnis
Rohingya merupakan keturunan etnis Bengali, khususnya sub-etnis
Chittagonia yang tinggal di Bangladesh tenggara.
Kemunculan
pemukiman Muslim di Arakan sebagai cikal bakal kelompok Rohingya
terlacak sejak zaman Kerajaan Mrauk U, khususnya pada zaman Raja
Narameikhla (1430-1434). Setelah dibuang ke Bengal, Narameikhla lalu
menguasai kembali Mrauk U berkat bantuan Sultan Bengal. Seiring dengan
berkuasanya Narameikhla, masuk pula penduduk Muslim dari Bengal
kewilayah Arakan, Rakhine. Dalam perkembangannya, jumlah pemukim Muslim
dari Bengal terus bertambah, terutama ketika Inggris menguasai Rakhine.
Karena kurangnya populasi di Rakhine, Inggris memasukkan banyak orang
Bengali ke Rakhine untuk bekerja sebagai petani. Oleh karena itu, sampai
saat ini pula, kebanyakan orang Rohingya bekerja di sector agraris.
Ketika
Inggris melakukan sensus penduduk pada 1911, pemukim Muslim di Arakan
sudah berjumlah 58 ribu orang. Jumlah itu terus bertambah pada tahun
1920-an ketika Inggris menutup perbatasan India, sehingga orang Bengali
memilih masuk ke Rakhine. Sejak tahun-tahun ini pulalah mulai timbul
konflik dengan penduduk local yang mayoritas merupakan penganut Buddha.
Bertambahnya jumlah penduduk migrant membuat penduduk lokal khawatir. Istilah Rohingya, Kapan Muncul?
Lalu,
benarkah istilah Rohingya baru muncul pada tahun 1950-an? Sejarawan
Jacques P. Leider mengatakan bahwa pada abad ke-18 ada catatan seorang
Inggris yang bernama Francis Buchanan-Hamilton yang sudah menyebutkan
adanya masyarakat Muslim di Arakan. Mereka menyebut diri mereka
“Rooinga”. Ada yang mengatakan bahwa istilah ini berasal dari kata "rahma" (rahmat) dalam bahasa Arab atau "rogha"
(perdamaian) dalam bahasa Pashtun. Selain itu, ada pula yang
mengaitkannya dengan wilayah Ruhadi Afghanistan yang dianggap sebagai
tempat asal Rohingya.
Dengan demikian, lepas dari
apakah Rohingya merupakan sebuah etnis atau tidak, dan apakah termasuk
ke dalam etnisitas Myanmar atau tidak? Sudah jelas bahwa Rohingya
merupakan komunitas migrant dari Bangladesh yang sudah ratusan tahun
tinggal di Arakan, Rakhine, Myanmar. Sebagai komunitas yang sudah lama
menetap di sebuah wilayah yang kebetulan kini menjadi bagian dari negara
Myanmar, tentu saja sudah selayaknya mereka mendapatkan hak-hak dasar
mereka, terutama status kewarganegaraan. Meskipun demikian, sikap
pemerintah Myanmar sudah jelas seperti yang disampaikan Thein Sein bahwa
Myanmar tak mungkin memberikan kewarganegaraan kepada Rohingya. Namun,
Myanmar menawarkan solusi berupa pengiriman ribuan orang Rohingya ke
negara lain atau tetap tinggal di Arakan, tetapi berada di bawah
pengawasan PBB. Jadi, kelihatannya etnis Rohingya masih belum bisa
bernapas lega sampai beberapa tahun mendatang.
* Fakultas Ilmu Pengetahuan & Budaya, Universitas Indonesia
Al-Yafi‘i
menuturkan bahwa as-Syaikh al-Imam al-Kabir Abul Hasan ‘Ali bin
Harzaham al-Maghrabi seorang ahli fikih termasyhur adalah seorang yang
sangat ingkar terhadap kitab Ihya’ ‘Ulumiddin karya al-Ghazali. Ia
adalah seorang yang ditaati. Suatu ketika ia memerintahkan untuk
mengumpulkan semua naskah-naskah Ihya’dan berkehendak untuk membakarnya,
di depan masjd Jami’ di hari Jumat. Malam hari Jumat beliau bermimpi
seolah-olah masuk masjid dan melihat al-Imam al-Ghazali bersama
Rasulullah SAW, beserta Abu Bakar dan Umar.
Ketika
Ibnu Harzaham mendekat, al-Ghazali berkata kepada Rasulullah: “Ya
Rasulallah! Ini adalah lawanku. Jika apa yang terdapat dalam Ihya sesuai
dengan dugaannya, maka aku bertaubat kepada Allah. Jika Ihya’ adalah sesuatu yang aku hasilkan dari barakahmu dan karena mengikuti sunnahmu, maka ambilkan hakku dari lawanku”.
Lalu
Rasulullah mengambil kitab Ihya itu, membukanya selembar-selembar dari
awal hingga akhir, lalu bersabda: “Demi Allah! Ini adalah kitab yang
baik”. Lalu kitab diambil Abu Bakar lalu Umar. Kedua pembesar sahabat
ini berkata seperti sabda Rasulullah SAW.
Selanjutnya
Rasulullah memberi perintah untuk melepas gamis Ibnu Harzaham dan
menghukumnya seperti hukuman bagi orang yang mengada-ada. Ketika pukulan
mencapai lima kali Abu Bakar meminta syafaat Rasulullah dan berkata:
“Ya Rasulallah! Barang kali ia menyangka bahwa Ihya’ bertentangan dengan
sunnahmu, tetapi ia keliru”.
Ibnu
Harzaham terbangun dan merasakan ada bekas pukulan di tubuhnya. Ia pun
memberitahukan mimpi itu kepada murid-muridnya dan bertaubat kepada
Allah atas inkarnya kepada Ihya’ dan al-Ghazali.
Bekas
pukulan yang ia alami dalam mimpi masih dirasakannya dalam waktu yang
lama, hingga membuatnya selalu beribadah kepada Allah dengan kerendahan
hati, dan memohon syafaat dari Rasulullah, sampai akhirnya Rasulullah
datang dalam mimpinya, mengusap bekas pukulan ditubuhnya. Dengan izin
Allah bekas pukulan itu sembuh dan hilang. Ia pun melanggengkan
muthala’ah terhadap Ihya’, hingga Allah membuka pintu hatinya,
mendapatkan ma’rifah kepada Allah dan menjadi salah satu ulama besar
yang ahli ilmu dzahir dan batin.
Pada kesempatan kali ini, saya mengajak Anda sekalian untuk lebih jauh mengenal tentang dunia Islam. Dimana banyak keajaiban-keajaiban yang terus terjadi dengan tidak mempedulikan keadaan iklim, cuaca dan letak geografis. Dalam tulisan ini saya mengangkat tema tentang masjid yang di bangun oleh komunitas Muslim yang berada di belahan bumi Utara. Yang masuk dalam lingkaran Arctic (Artik) atau biasa di sebut dengan kutub Utara.
Untuk lebih mengetahuinya, berikut ini diberikan penjelasan mengenai keadaan masjid-masjid dan komunitas Muslim yang ada disana: 1. Masjid Nurd Kamal (Norlisk – Rusia)
Kota Norilsk (Нори́льск) berada di negara bagian Krasnoyarsk Krai, Federasi Rusia, terletak di antara sungai Yenisey dan semenanjung Taymyr. Norilsk adalah kota paling utara di Siberia dan kota terbesar kedua di dunia setelah Murmansk Rusia untuk wilayah di pesisir lingkaran Arctic (Antartika).
Sebagai kota yang berada di lungkaran kutub utara, maka wajar bila cuaca di kota ini bisa bisa sangat dingin, sampai 50 derajat Celcius di bawah nol. Namun, hal yang menarik dari kota Norilsk ini adalah adanya sebuah Masjid Nurd Kamal yang dibangun pertama kali oleh Mukhtad Mekmeyev pada tahun 1998. Hal ini menunjukkan adanya komunitas muslim di kota ini yang di antaranya membentuk Muslim Eskimos Community Center (beralamat di 3 Amundsen Scott Station South Pole, South Pole – Amundsen-Scott Station South Pole, Antartica) Kendati sepi jamaah, Masjid Nurd Kamal tetap buka (Catatan Majalah Gatra di Norilsk, 16 April 2007, 15:52)
Kakek Mukum Sidikov meninggalkan Norilsk setelah selamat dalam kamp perburuhan yang dibangun diktator Soviet Yosef Stalin. Sidikov adalah orang Rusia pengurus mesjid di Kutub Utara, yang mengikuti jejak kakeknya mencari penghidupan lebih layak di tempat paling utara di muka bumi ini. Menurutnya, diperkirakan kota itu dihuni sekitar 50 ribu Muslim, atau seperempat penduduk wilayah itu yang berjumlah 210 ribu jiwa. Mereka umumnya dari Azerbaijan dan Republik Dagestan, Rusia, dan bekerja sebagai pedagang atau pekerja bangunan.
“Namun, tingkat upah yang tidak sebanding dengan kota-kota Rusia lainnya dan sulitnya memasuki Nurislk bagi warga asing, membuat kaum Muslim tak lagi mendatangi kota ini,” kata Sidikov. “Penduduknya kian menyusut. Orang-orang meninggalkan kota ini,” ujar Sidikov, 40 tahun, yang dilahirkan di Uzbekistan dan besar di Kyrgizstan.
Masjid bernama Nurd Kamal itu terletak di pinggir kota modern Norislk, yang suhunya 50 derajat celsius di bawah nol. Angin kutub mendera atap emasnya dan tumpukan salju mengancam dinding batu pirusnya di musim dingin. “Orang-orang bekerja untuk sesuap nasi. Mereka datang ke sini dan hilang kesehatan mereka. Setiap detik ada orang sakit,” kata Sidikov.
Sebuah kota yang dibangun di atas sebuah area tambang logam terkaya dunia, pabrik peleburan logam pertama Norislk dibangun oleh para tahanan Gulag pada tahun 1930-an, dan kini tiga pabrik mengeluarkan asap tebal yang mengandung sulfur ke udara.
Kota ini pada tahun silam dimasukkan sebagai salah satu dari 10 kota paling tercemar di dunia oleh kelompok lingkungan hidup independen, Blacksmith Institut. Perusahaan induknya, Norislk Nickel, telah mengeluarkan banyak dana untuk mengurangi emisi.
Di Rusia terdapat 20 juta warga Muslim, sekitar 14 persen dari total 140 juta penduduk negeri itu. Warga Muslim Asia Tengah dan Dagastan umumnya penganut Sunni, sementara lainnya dari Azerbaijan umumnya Syi`ah.
Tidak ada permusuhan antara sekte sekte tersebut di Norislk dan Muslim Soviet tidak termasuk mereka yang rajin menjalankan ajaran Islam. “Di sana banyak Muslim, tapi hanya segelintir yang mendatangi masjid. Mereka bekerja seharian dan pada malamnya mereka capek,” papar Sidikov.
Masjid itu yang dibuka pada 1998 dibangun oleh Mukhtad Bekmeyev, seorang etnik Tartar, dan warga asli Norilsk kini bermukim di kota Laut Hitam, Sichi, sekitar 4.000 km dari tempat itu. Dia memberi nama masjid itu setelah orangtuanya membiayai pemugarannya pada tahun ini.
Sidikov, yang berkepala gundul dan mengenakan kopiah berwarna biru, meninggalkan kota Kyrtyz, Osh, untuk mencari kerja. Dia pernah menjalani dinas militer Soviet di Rusia dan tinggal di dua kota Siberia, sebelum menetap di Norilsk sejak tujuh tahun silam.
Gaji yang relatif tinggi dibanding kawasan lain di negara itu menarik minat para pekerja dari seantero Uni Soviet untuk ke Norilsk ketika usaha pertambangan dan peleburan logam tumbuh. Sidikov mengatakan, gaji rata-rata setiap bulan antara 25.000 – 30.000 roubel (962 dolar – 1.154 dolar) tidak cukup untuk hidup layak. Bukan hanya warga Muslim yang pergi meninggalkannya, penduduk tetap Norilsk berkurang sekitar 5.000 orang setiap tahun.
Warga non-Rusia, umumnya dari Azerbaijan dan bekas-bekas republik Soviet di Asia Tengah, telah merasakan lebih sulit memasuki Norilsk sejak 2002 setelah larangan perjalanan bagi warga asing diberlakukan. Mereka ini harus membutuhkan izin khusus untuk mengunjungi Norilsk. Meski Norilsk Nickel dan mantan pemimpin eksekutif Mikhael Prokhorov telah mengungkapkan rencana menahan para pekerja terlatih kota itu dan menarik wajah-wajah baru, Sidikov mengatakan, tidak ada tindakan khusus telah dilakukan untuk membantu warga Muslim.
Namun warga Muslim Norilsk, katanya, telah berbaur secara baik dengan komunitas luas dan tidak mengalami banyak diskriminasi. Selama beberapa generasi, sejumlah pendatang dari kawasan Kaukasus Rusia telah memeluk Kristen Ortodoks, kata warga setempat. Sidikov tetap membuka masjid itu hingga larut malam setiap hari untuk memberi kesempatan bagi mereka yang ingin belajar al-Quran. Sekitar 500-600 orang terlihat melakukan shalat Jumat. “Warga Muslim seharusnya mendatangi masjid setidaknya sekali sepekan. Kita tidak menemukan di sini,” kata seorang warga. [TMA, Ant] 2. Masjid An-Nuur Reykjavik Iceland (Islandia)
Iceland (Islandia) adalah sebuah negara pulau di belahan kutub utara yang tanahnya banyak dipenuhi vulkanik aktif dan suhunya relatif sangat dingin karena termasuk dalam lingkaran Antartika.
Komunitas muslim di Iceland lebih banyak terkonsentrasi di ibukota negara ini, Reykjavik. Terdapat dua organisasi muslim di Iceland yaitu Islamic Cultural Centre of Iceland (ICCI) dan Félag Múslima á Íslandi (Islamic Association of Iceland). Terdapat sebuah masjid yang dikelola oleh Félag Múslima á Íslandi di kota Reykjavik, An-Nuur Moskan í Reykjavík (Masjid An-Nuur Reykjavik).
Menurut informasi dari pengelola masjid ini, total komunitas muslim di Iceland berjumlah sekitar 1.200 orang, 300 di antaranya merupakan penduduk asli Iceland, sedangkan sisanya kebanyakan imigran atau warga asing yang jadi mualaf. Sebuah foto lain yang juga memperlihatkan sebuah masjid di kota Reykjavik namun tidak ada informasi detail mengenai masjid ini:
SEKRETARIAT DKM AN-NUUR REYKJAVIK DAN KOMUNITAS MUSLIM ICELAND:
Alamat: Ármúli 38, 3rd floor (entrance from Selmúli), 108 Reykjavik, Iceland
President/Imam: Salmann Tamimi (imigran dari Palestina)
Telepon: +354 895-1967
Email: salmannt@gmail.com, islam@islam.is
Website: www.islam.is 3. Masjid Tawheed (Greenland)
Greenland adalah sebuah pulau di Samudra Atlantik bagian utara di arah timur laut Kanada. Penduduk asli Tanah Hijau adalah orang Inuit atau Eskimo. Sementara ada pula orang Denmark dan campuran antara orang Inuit dan Denmark yang disebut sebagai Orang Tanah Hijau. Agama yang paling banyak dianut penduduknya adalah Kristen Protestan aliran Lutheran, sama seperti di Denmark.
Tapi tahukah anda bahwa terdapat sebuah Masjid di Kota Nuuk yang bernama Mosque of Tawheed, yang terletak di Denmark Street, Nuuk, Greenland, Phone: 0039-3476693003, di tempat ini selain untuk beribadah kaum muslim, juga terdapat madrasah untuk orang yang ingin mempelajari al-Qur’an. 4. Masjid Alnor Senter (Norwegia)
Tromsø termasuk kota paling utara di Norwegia yang merupakan ibukota distrik Troms. Kota ini termasuk kota kuno bahkan habitat di kota ini sudah ada sejak akhir jaman es. Peradaban pertama yang muncul di kota ini disebut Sámi. Sebagaimana diketahui, Norwegia termasuk negara-negara Skandinavia yang terkenal dengan kaum Viking.
Tak disangka di Tromsø terdapat sebuah Masjid yang semula bernama Masjid Al Noor kemudian pada tahun 2006 berganti nama menjadi Masjid Alnor Senter. Selain masjid, komunitas mulsim di kota tersebut membentuk pula Islamic Center yang bernama Tromsø Islamske Senter. Tromsø Islamske Senter kemudian bertransformasi menjadi sebuah Alnor Foundation (beralamat di Storgata 132, Postbox 3447, 9276 Tromsø)
Gedung Alnor Senter
Suasana Sholat Jum’at
Ruang Madrasah Laki-laki
Ruangan Khusus Wanita
Ruang Makan
Sebenarnya komunitas muslim tersebar di Norwegia di antaranya seperti di kota Oslo, Møhlenpris, Bergen, dll. Komunitas Islam di kota Bergen yang mencapai 2.500 orang. Salah satu masjid di kota Bergen, Norwegia, “Bergen Mosque” berada di Jekteviksbakken 27, Bergen, Hordaland 5006, Norway: 5. Masjid Alaska
Alaska adalah salah satu negara bagian Amerika Serikat. Menurut luas wilayah, Alaska adalah negara bagian AS yang terbesar, dan terkaya sumber alamnya.
Muslim di Alaska berjumlah sekitar 2.000 sampai 3.000 dan dalam waktu tidak lama lagi di Alaska akan dibangun sebuah Masjid pertama di Anchorage, Alaska. Selama ini umat muslim di Alaska beribadah di sebuah Mushola kecil di Anchorage. Selain Mushola,di Alaska terdapat restoran dan toko yang menjual makanan halal.
***
Sungguh menakjubkan bahwa di belahan bumi paling utara pun Masjid tetap ada sebagai tempat umat Islam melakukan ibadah shalatnya. Bahkan terdapat pula tempat belajar mengajar (Madrasah) bagi mereka yang berminat memperlajari Al-Qur`an dan Islam secara lebih mendalam.
Untuk itu saudaraku, tanyakan lagi pada diri kita (yang Islam) tentang sebatas mana tingkat kecintaan kita dalam memakmurkan masjid? Apa saja yang telah kita perbuat untuk menebarkan kebaikan cinta dengan memakmurkan masjid? Minimal dengan sering shalat berjamaah di masjid dan bukan hanya shalat Jum`atnya saja. Karena jika tidak, maka masjid pun tidak lebih hanya sebagai simbol yang tidak akan ada artinya.
Vietnam (Voa-Islam.com) - Vietnam merupakan negara yang berbentuk Republik Sosialis dan salah satu negara Asia Tenggara yang terletak di antara Kamboja dan Republik Laos di bagian barat dan China di bagian utara. Vietnam merupakan negeri animisme yang memiliki banyak sejarah yang berdiri sejak 4 ribu tahun lalu, terdiri dari lebih 50 suku, dan setiap suku memiliki dan berbicara dengan bahasa sendiri-sendiri, sementara bahasa Vietnam merupakan bahasa resmi mereka.
Jumlah penduduk Vietnam mencapai 85 Juta jiwa, dengan Ibu kota negaranya Hanoy, dan kota terbesarnya adalah Ho Chi Minh City atau Saigon (nama lama). Luas negara Vietnam 329,560 km2, dan terbagi pada 59 wilayah daerah dan 5 kota besar. Sejumlah provinsi diklasifikasi dalam delapan wilayah yaitu Northwest, Northeast, Red River Delta, North Central Coast, South Central Coast, Sentral Highland, Southeast, dan Mekong River Delta. Masuknya Islam ke Vietnam
Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang penentuan tahun masuknya Islam ke Vietnam, namun mereka sepakat bahwa Islam telah sampai ke negara ini pada adab ke 10 dan 11 Masehi melalui jamaah dari India, Persia dan pedagang Arab, dan menyebar antara jamaah Cham sejak adanya perkembangan kerajaan mereka di daerah tengah Vietnam hari saat ini, dan dikenal dengan nama kerajaan Cham.
..Islam telah sampai ke negara ini pada adab ke 10 dan 11 Masehi melalui jamaah dari India, Persia dan pedagang Arab..
Jumlah umat Islam dan daerah penyebarannya:
Menurut data statistik dari situs departemen luar negeri Vietnam jumlah umat Islam di Vietnam mencapai 70.700 ribu jiwa. Terdapat 100 masjid di beberapa bagian negeri, dan umat Islam tersebar pada daerah yang beragam, di antaranya: Binh Thuan, Ninh Thuan, An Giang, Tay Ninh, Dong Nai, dan Ho Chi Minh City, kelompok kecil di ibu kota Ha Noi.
Mazhab Yang Diikuti
Terdapat dua mazhab besar umat Islam di Vietnam: mazhab Sunni dan mazhab Bani. Adapun mazhab Sunni tersebar diseluruh penjuru negara kecuali dua tempat antara Tuan Han dan Ninh Thuan, dan mayoritas mereka menganut mazhab Syafi’i. Adapun mazhab Bani berada di daerah Ninh Thuan dan Binh Thuan, dan mazhab ini tidak banyak dikenal oleh umat Islam di dunia; karena memiliki ciri khusus domistik dan memiliki pengaruh kuat warisan dari India yang banyak bertentangan dengan ajaran Islam yang benar, seperti menjadikan pemimpin untuk shalat mewakili jamaah, tidak ada perhatian dari para pemimpin dengan jamaah mereka sehingga menyebar di tengah mereka ajaran-ajaran syirik, dan tersebar di tengah mereka aktivitas yang tidak sesuai dengan aqidah yang benar oleh karena kebodohan dan sedikitnya para ulama serta dai. Dan ketika datang bulan Ramadhan mereka memisahkan diri dari istri-istri mereka sejak awal bulan hingga akhir, karena mereka tinggal di masjid selama bulan Ramadhan, dan banyak lagi permasalahan lainnya yang ada di sana. Boleh jadi phenomena tersebut terjadi karena kebodohan mereka terhadap Islam dan ajaran-ajaran yang sebenarnya, dan terputusnya hubungan mereka dengan dunia Islam dalam waktu lama sehingga mereka memiliki keyakinan apa yang dalam Islam dan bahkan hingga mencapai pada tuduhan bahwa mazhab Sunni adalah bid’ah. Sebagaimana yang terjadi di sana adanya perselisihan dan perdebatan tentang tema antara mereka dan mazhab Sunni.
..mazhab Bani berada di daerah Ninh Thuan dan Binh Thuan, dan mazhab ini tidak banyak dikenal oleh umat Islam di dunia; karena memiliki ciri khusus domistik dan memiliki pengaruh kuat warisan dari India yang banyak bertentangan dengan ajaran Islam yang benar..
Pada tahun 1959 sebagian umat Islam bagian selatan, khususnya yang berada di kota Shai Ghon, melakukan perkenalan dan dialog di tengah mereka tentang Islam sehingga mereka memahami bahwa jamaah mereka jauh dari hakikat Islam, dan mereka mulai belajar dari mereka ajaran yang benar, dan juga memperbaharui keislaman mereka dan memperbaikinya. Kemudian kelompok ini pulang ke negeri mereka dan mengajak masyarakat pada ajaran Islam yang bersih dan benar, maka dakwah itupun berhadapan dengan berbagai bentuk penolakan, pendustaan dan tuduhan dari warga dan menganggapnya sebagai bid’ah dan khurafat. Namun berkat karunia Allah SWT, mampu memenangkan agama dari keyakinan yang menyimpang dan agama yang batil yang diacuhkan kecuali Allah mampu menyempurnakan cahaya-Nya sehingga sebagian mereka menerima dakwah ini dengan penuh kepuasan dan kerelaan, dan akhirnya mereka memperbaharui dan memperbaiki keislaman mereka.
Dan melalui ini terjadi titik tolak penting dalam sejarah berupa bersinar kembali cahaya Islam di tengah mereka setelah sebelumnya mengalami kejahilan di negeri mereka dalam waktu yang lama, dan akhirnya setiap hari terus bertambah orang-orang yang memperbaharui keislaman mereka. Dan bertambah pula 4 pembangunan masjid di daerah tersebut, karena keberadaan mereka dalam masjid-masjid yang ada dapat mengarah pada perbedaan dan perdebatan. Adapun masjid yang dimaksud adalah masjid Phuic Nhon, masjid An Xuan, masjid Van Lam, dan masjid Nho Lam, dan semuanya terdapat di propinsi Ninh Thuan.
Sementara itu gerakan pembaharuan tidak mencakup propinsi Ninh Thuan, sehingga penduduknya tetap berada pada keyakinan tersebut hingga datang pembaharuan yang dibawa oleh sebagian pemuda Islam mereka pada tahun 2006, sebagaimana sisa dari mereka menerima gerakan ini dan bertambah jumlah mereka, karena mereka betul-betul membutuhkan orang yang bisa mengajarkan Islam kepada mereka. Masjid Biru di Ho Chi Min Kelompok-kelompok klasik umat Islam
Umat Islam Vietnam banyak yang loyal pada suku-suku beragam, dan melalui tulisan dapat kita bagi pada 3 kelompok:
Kelompok pertama: Muslim Tcham, yang merupakan kelompok mayoritas.
Kelompok kedua: umat yang berasal dari suku-suku yang beragam, mereka adalah pedagang muslim yang datang dari negeri-negeri yang beragam kemudian menikah dari anak-anak negeri tersebut, seperti Arab, India, Indonesia, Malaysia dan Pakistan, dan jumlah mereka merupakan kelompok terbesar dari jumlah umat Islam secara keseluruhan.
Kelompok ketiga: muslim dari warga Vietnam asli, dan mereka adalah warga Vietnam yang masuk setelah berinteraksi dengan para pedagang muslim dan komunikasi secara baik, seperti kampng Tan Buu pada bagian kota Tan An, baik dengan masuknya warga kepada Islam atau mereka masuk Islam melalui pernikahan.
Kondisi umat Islam
Umat Islam adalah bagian dari penduduk negeri, maka dari itu kondisi mereka sangat berhubungan dengan pertumbuhan negara dan kemajuannya. Dan kondisi negara Vietnam sepanjang tahun terakhir ini mengalami kemajuan yang pesat dan prestasi yang banyak yang belum pernah dialami pada pemerintahan sebelumnya.
Pada tahun 2007, Vietnam resmi menjadi anggota organisasi negara perdagangan internasional, setelah mampu berpartisipasi melakukan perbaikan ekonomi dan meluas jaringannya pada beberapa tahun terakhir. Karena itulah Vietnam menjadi salah satu dari negara yang mampu membangun beberapa komponen perbaikan ekonomi dan membuka negara di hadapan investor asing dan perusahaan-perusahaan swasta dengan jumlah milyaran dollar untuk menanamkan investasinya di berbagai lini dan sektor yang beragam.
..jika dibandingkan dengan kondisi umat pada kurun sebelumnya, umat Islam saat ini mengalami perbaikan sehingga sebagian umat Islam mampu keluar dari sangkar kemiskinan dan ketiadaan, bahkan berubah kondisi hidup mereka..
Dan jika dibandingkan dengan kondisi umat pada kurun sebelumnya, umat Islam saat ini mengalami perbaikan sehingga sebagian umat Islam mampu keluar dari sangkar kemiskinan dan ketiadaan, bahkan berubah kondisi hidup mereka. Namun jumlahnya masih terbatas, karena masih banyak dari umat Islam bahkan dalam jumlah yang begitu besar menghadapi berbagai problema kemiskinan dan permasalahan materi khususnya yang tinggal di luar dari Ho Chi Minh City. Muslim Vietnam
Pelajar Islam Vietnam
Pada bidang pendidikan, para pelajar Islam mampu masuk pada sekolah-sekolah negeri, ma’had-ma’had (kejuruan) dan universitas-universitas baik yang ada di dalam negeri maupun di luar negeri. Dan di antara negara yang dijadikan tempat untuk belajar bagi pelajar Vietnam adalah Malaysia, Indonesia, Saudi, Libia dan Mesir. Mereka mempelajari berbagai bidang ilmu dan spesialis. Dan jumlah pelajar Vietnam yang berada di Malaysia berjumlah 50 orang, dan yang belajar di UII Kuala Lumpur berjumlah 30 orang dan sisanya di sekolah-sekolah umum dan ma’had-ma’had lainnya. Sementara di Saudi terdapat 15 orang, di Libia 5 orang, di Mesir 3 orang.
Dan sebagian mereka ada yang telah lulus dan kembali ke negara mereka, kemudian mendapatkan pekerjaan dan masih bisa melakukan pekerjaan di berbagai perusahaan yang beragam. Dan kelompok ini adalah yang berhasil meraih ilmu terapan, adapun yang berhasil mendapatkan ilmu-ilmu syariah seperti kuliah syariah dan kuliah ushuluddin tidak mendapatkan pekerjaan resmi dan tidak ada lembaga atau yayasan yang mau menampung mereka. Karena itu mereka sangat membutuhkan dukungan dari negara-negara Islam atau lembaga-lembaga sosial , seperti mengangkat mereka sebagai duat dan memberikan mereka bantuan materi atau gaji bulanan untuk dapat melakukan aktivitas dan agenda dakwah di tengah masyarakat mereka dan untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka.
Agenda-agenda dakwah
Muslim Vietnam telah ikut andil pada bidang dakwah ini dimana dakwah di Vietnam terbagi pada dua kelompok:
Dakwah yang dilakukan oleh muslim Vietnam di luar negeri dan duat dari berbagai macam lembaga dan yayasan dari luar negeri.
Dakwah yang dilakukan oleh muslim Vietnam dari dalam negeri.
Dan di antara agenda dakwah yang dilakukan pada kelompok pertama adalah:
Mendirikan perkumpulan kelompok muslim yang hijrah ke Amerika perpustakaan Islam atau TU SACH TIM HIEU ISLAM di Amerika. Dan pemiliknya telah banyak menulis buku-buku keagamaan, dan menerjemahkan berbagai macam buku dari bahasa Arab dan Inggris ke bahasa Vietnam. Terutama terjemah makna-makna Al-Qur’an ke bahasa Vietnam yang dilakukan oleh Sayyid Hasan Abdul Karim.
Muslim Vietnam yang hijrah ke Perancis menerbitkan majalah ” VE NGUON ” setiap 3 bulan sekali, sebagai majalah yang memberikan perhatian dengan makalah-makalah ke Islaman dan berbagai urusan agama dengan menggunakan bahasa Vietnam.
Menerbitkan Majalah berbahasa vietnam HAI DANG VA DOI SONG di Paris, yang memberikan perhatian pada penyebaran informasi terkini dan penting tentang Islam seperti penemuan-penemuan ilmiah dan lain-lainnya. Dan pemilik majalah tersebut telah mendirikan website khusus di internet untuk menyebarkan berbagai artikel yang ada di majalah yaitu www.haidang.org dan www.chanlyislam.net yang mana keduanya memiliki peranan penting dalam menyebarkan permasalahan yang berhubungan dengan agama Islam.
Usaha lembaga An-Nuur charity dalam mengurusi pelajar Vietnam dengan bentuk tarbiyah, sebagaimana berusaha mewujudkan adanya hubungan kerja sama dan saling kenal antar pelajar.
Dan di antara agenda dakwah yang dilakukan oleh muslim Vietnam di dalam negerinya adalah:
Mengajarkan Al-Qur’an dan berbagai permasalahan tentang agama yang sesuai kepada anak-anak mereka di sekolah-sekolah yang berdekatan dengan masjid pada waktu sore hari.
Peranan Jamaah Tabligh (JT) dalam mengingatkan manusia terhadap dan ajaran-ajarannya.
Kerja keras personal
Kebutuhan umat Islam di Vietnam
Mendapatkan dukungan dan support dari dunia Islam dengan mengangkat para duat, karena adanya peraturan negara melarang masuknya duat asing.
Memberikan dukungan untuk melakukan gerakan penerjemahan, karena mereka belum memiliki berbagai buku dengan bahasa Vietnam. Bahkan pada tingkat sebagian umat Islam yang tidak mengetahui prinsip-prinsip Islam dan pondasi-pondasinya, sehingga mereka hidup dalam kondisi bodoh dan tidak mengetahui prinsip dasar Islam.
Meningkatkan tingkat kehidupan umat Islam oleh karena kondisi ekonomi yang tidak menentu, yaitu dengan cara memberikan investasi di berbagai tempat umat Islam tinggal.
Lemahnya perekonomian yang menghambat proses pendidikan, karena anak-anak umat Islam di sana tidak mampu masuk dan melanjutkan pendidikan mereka di berbagai universitas karena kemiskinan dan kecilnya income untuk membayar cicilan universitas dan juga buku-buku diktatnya.
Membangun dan membuka sekolah yang mengajarkan manhaj pemerintahan dan tsaqafah islamiyah serta memberikan beasiswa pendidikan untuk pelajar Vietnam di berbagai universitas Islam.
Lembaga-lembaga dan yayasan-yayasan
Perwakilan muslim Ho Chi Minh City, atau yayasan Islam. Yayasan ini didirikan pada tahun 1991, dan pusatnya di Ho Chi Minh City, dan yayasan tersebut memberikan perhatian terhadap berbagai urusan umat Islam yang di temukan di kota tersebut.
Perwakilan muslim An Giang. Dan perwakilan ini di dirikan pada tahun 2004, dan pusatnya terletak di perbatasan An Giang. Dan perwakilan ini menjadi lembaga penting bagi warga muslim di perbatasan ini.
Unie Soviet melakukan invasi ke Afghanistan selama lebih satu dekade. Berakhir dengan kekalahan. Tentara Soviet harus meninggalkan Afghanistan. Meninggalkan sebagian besar peralatan militernya di Afghanistan. Satu dekade yang sia-sia.
Negeri Soviet yang dijuluki "Beruang Merah", yang menjadi imperium Komunisme itu, bukan hanya meninggalkan Afghanistan, tetapi akhirnya bubar. Imperium komunisme berakhir. Berakhir era "Perang Dingin", tidak ada lagi yang disebut dengan "bipolar" Timur (komunis) dan Barat (kapitalis). Imperium Soviet hanya menjadi sebuah kenangan sejarah. Pemimpin Soviet terakhir Mikhail Gorbachev mendeklarasikan akhir era Unie Soviet.
Soviet yang komunis itu, mengembangkan ideologi dengan sangat agresif, ingin menguasi dunia, melalui politik dan militer. Soviet melakukan ekspansi politik dan militer di berbagai belahan dunia, yang tujuannya memperluas pengaruhnya. Lebih separuh dunia dibawah pengaruh komunis. Soviet melakukan penetrasi politik-ideologi, yang diikuti dengan langkah militer, yang kemudian melakukan kudeta, dan mengganti rezim yang ada, kemudian lahir rezim komunis yang menjadi boneka Soviet.
Perluasan pengaruh Soviet dengan politik dan militer ini, yang menguras anggaran, dan menimbulkan beban ekonomi. Sistem ekonomi Soviet yang komunis dengan model sentralistis itu, sangat lemah, dan tidak mampu menopang kebijakan agresif para pemimpin komunis di Moskow, dan akhirnya Soviet bubar, imperium Soviet menjadi kepingan-kepingan kecil, yang tersisa salah satu negara yang ada sekarang ini, Rusia. Rusia sudah tidak mungkin lagi menjadi negara "Adi daya". Karena sampai sekarang, Rusia masih harus berkutat dengan krisis ekonomi.
Francis Fukuyama, merasa bangga Amerika Serikat berhasil mengakahiri emperium Komunis - Soviet, dan mengalahkannya di Afghanistan. Fukuyama setelah Soviet bubar, mengatakan, bahwa masa depan dunia berada di tangan kapitalisme dan demokrasi. Kapitalisme dan demokrasi, selalu identik dengan Amerika Serikat. Amerika Serikat dipandang sebagai "berhala" nya demokasi. Karena itu, banyak negara yang menjadikan Amerika Serikat sebagai kiblat dan sesembahannya.
Tetapi, Amerika Serikat mengulangi sejarah Unie Soviet, dan melakukan petualangan politik dan militer. Pasca Soviet yang sudah tenggelam dalam sejarah masa lalu itu, kemudian dilanjutkan oleh Amerika Serikat, dan menciptakan "monster" baru, musuhnya yang baru, kemudian yang dituduh menjadi ancaman masa depan, yaitu Islam.
Pasca peristiwa serangan Gedung WTC, 11 September 2001, Presiden Amerika Serikat George Bush, langsung menuduh Taliban dan Al-Qaidah, yang berada dibalik serangan Gedung WTC itu.
Presiden Bush secara unilateral (sepihak) tanpa mendapatkan persetujuan DK. PBB, melakukan invasi militer ke Afghanistan. Menggulingkan pemerintahan Taliban, yang dipimpin Mullah Omar. Taliban berhasil digulingkan dari Kabul, dan seluruh infrastruktur pemerintahannya ikut dihancurkan.
Tetapi, sesudah Amerika Serikat menguasai Kabul, dan menciptakan pemerintahan baru, yang dipimpin Presiden Hamid Karzai, tak mampu menciptakan stabilitas politik dan keamanan di seluruh negeri Afghanistan. Pemerintahan Hamid Karzai tidak efektif. Kekacauan terjadi di seluruh negeri, dan pemerintahannya semakin melemah.
Tokoh-tokoh kunci pemerintahan Hamid Karzai, satu-satu tewas. Pukulan yang paling telak, kematian Ahmed Wali Karzai, yang menjadi adik tirinya. Wali Karzai, orang kedua sesudah Hamid Karzai, yang menjad Gubernur di Kandahar, yang merupakan tempat kelahiran Mullah Omar. Disusul dengan kematian Muhammad Khan, yang menjadi penasihat utama Hamid Karzai.
Hari Minggu malam, sebuah halikopter CH-47 Chinook, yang mengangkut 38 pasukan elite Amerika Serikat, berhasil ditembak jatuh oleh Taliban, hanya dengan menggunakan RPG. Halikopter CH-47 Chinook itu, mengangkut dua lusin pasukan elite Angkatan Laut Amerika Serikat SEAL yang akan membantu pasukan Rangers Amerika Serikat dan ingin menangkap tokoh Taliban di Wardak.
Laporan Pentagon menunjukkan indikasi bahwa sebagian besar anggota SEAL yang tewas adalah anggota SEAL Team Elite 6. Mereka yang tewas termasuk anggota unit yang membunuh Osama bin Laden pada serangan malam hari di Abodtabad, Pakistan, 2 Mei lalu.
Reaksi publik Amerika Serikat sangat negatif. Publik Amerika Serikat menuntut pemerintahan Barack Obama, segera menarik pasukan Amerika Serikat segera keluar dari Afghanistan. Sudah terlalu banyak pasukan Amerika Serikat yang tewas di medan tempur di Afghanistan. Sekarang terdapat 100.000 pasukan Amerika Serikat yang ditempatkan di Afghanistan. Hanya bertujuan memerangi Taliban dan al-Qaidah. Kenyataannya Amerika Serikat sampai sekarang gagal mengalahkan Taliban dan al-Qaidah.
Dampak dari petualangan militer Amerika Serikat di Afghanistan dan Irak, menyedot anggaran yang sangat besar, dan menyengsarakan. Amerika Serikat harus memikul beban anggaran untuk membiayai pasukannya yang ada di luar negeri, yang jumlahnya mencapai triliunan dollar, dan terus menggerogoti anggaran negeri yang sekarang terancam bangkrut.
Amerika Serikat diambang resesi. Dengan utangnyag yang mencapai $ 14,3 triliun dollar atau setara dengan 100 persen dari PDB-nya. Persetujuan Kongres tentang kenaikan utang, yang menyelamatkan Amerika Serikat dari gagal bayar (default), tak mendapat sambutan positif di seluruh pasar bursa saham. Nilai perdagangan di bursa saham, semuanya rontok, dan berimbas ke seluruh dunia.
Lembaga S & P menurunkan rating Amerika Serikat dari AAA menjadi AA+, yang sejatinya secara pamor Amerika Serikat sebagai negara "Adi daya" sudah jatuh. Amerika menjadi negara gagal, dan tidak layak lagi menjadi negara yang menentukan perannya global.
Afghanistan benar-benar menjadi penentu nasib dua raksasa "Adi daya", Unie Soviet dan Amerika Serikat, yang keduanya runtuh, sesudah mengalami kekalahan dalam petualangan militer di negeri miskin, yang bernama Afghanistan. Wallahu'alam.