Tampilkan postingan dengan label KHAZANAH IPTEK ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KHAZANAH IPTEK ISLAM. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Agustus 2011

Ibn Juljul, Herbalis dari Cordoba

Abu Da’ud Sulayman bin Hassan atau yang dikenal dengan panggilan Ibn Juljul lahir di Cordoba, Spanyol pada tahun 944. Sejak kecil dia sangat tertarik dengan ilmu pengetahuan dan banyak menghabiskan waktu untuk belajar.
Pada usia 10 tahun, dia sudah belajar tentang tata bahasa dan tradisi masyarakatnya. Lalu pada usia 15 tahun, dia mulai mempelajari ilmu kedokteran. Padahal pada zaman modern ini, ilmu kedokteran baru dipelajari di bangku kuliah.
Pengalaman memelajari ilmu kedokteran pada usia sangat dini, membuat Ibn Juljul, pada usia yang relatif muda sudah sangat terampil dalam ilmu kedokteran dan pengunaan obat-obatan herbal. Menurut catatan sejarah yang dikutip Muslimheritage.com , dia pernah bekerja sebagai dokter pribadi Al-Mu’ayyad Billah Hisyam, seorang Kalifah yang berkuasa pada tahun 977-1009 Masehi. Selama masa pemerintahan Kalifah Al-Mu’ayyad, Ibn Juljul banyak menghabiskan waktu untuk mempraktekkan keahlian medisnya dan menulis karya-karya medis.
Ketertarikan Ibn Juljul dengan obat-obatan terutama herbal sebagai obat alami yang banyak diekstrak dari tumbuh-tumbuhan luar biasa besar. Selain mempelajari pengobatan herbal, dia juga mempelajari farmasi.
Saat mempelajari pengobatan dia banyak berbagi dan berlatih dengan Albucasis atau Abu al-Qasim Khalaf bin Abbas Al-Zahrawi. Albucasis sendiri merupakan seorang dokter bedah di Cordoba, Spanyol yang menemukan penyakit hemofilia di mana bila penderita mengalami luka, darahnya sulit membeku dan terus mengalir. Albucasis juga menuliskan buku yang sangat populer di dunia kedokteran berjudul At-Tasrif liman ‘Ajiza ‘an at-Ta’lif (Metode Pengobatan).
Baik Ibn Juljul dan Albucasis bekerja dan menulis selama hari-hari terakhir masa kekalifahan di Andalusia ( Spanyol). Menurut catatan seorang ahli sejarah kedokteran yang terkenal di Bagdad yakni Bin Abi Usaybi’a, Ibn Juljul menulis sebuah buku sejarah pengobatan yang berjudul Atibba’wa’l Tabaqat al-Hukama.
Menurut Bin Abi, buku tersebut telah diedit beberapa kali. Buku tersebut dimulai dengan tulisan riwayat ayah Ibn Juljul yang juga ahli obat-obatan. Setelah itu dilanjutkan uraian tentang para ahli obat-obatan yang sangat terkenal sebagai para pendahulunya di Andalusia.
Dia juga menuliskan tentang banyaknya hubungan maupun komunikasi yang baik antara kekalifahan Timur dan Andalusia. Selain itu dia juga menceritakan tentang banyaknya para mahasiswa yang melakukan perjalanan untuk mencari ilmu pengetahuan dan melakukan banyak pelatihan.
Ibn Juljul mempelajari ilmu pengobatan herbal yang dilakukan oleh Pedanius Dioscorides, seorang dokter Yunani kuno, ahli farmasi dan ahli botani. Dioscorides sering bepergian guna mencari bahan-bahan jamu dari seluruh wilayah Romawi dan Yunani. Dia juga menulis lima jilid buku dalam bahasa Yunani asli. Salah satu bukunya yang terkenal berjudul De Materia Medica (Masalah-masalah yang berhubungan dengan medis).
Berdasarkan ajaran dalam buku milik Dioscorides, Ibn Juljul membuat sebuah karya berjudul Maqalah. Dalam karyanya itu dia menuliskan berbagai macam tumbuhan yang penting bagi obat-obatan termasuk sifat tumbuh-tumbuhan tersebut. Dia juga menuliskan efek dari penggunaan tumbuh-tumbuhan tersebut bagi organ tubuh tertentu.
Tumbuh-tumbuhan untuk herbal yang ditulisnya sebanyak 28 jenis, berasal dari India atau tempat-tempat yang ia singgahi dalam perjalanannya melalui rute perdagangan India, 2 dari Yaman, 2 dari Mesir , 1 dari Ceylan, 1 dari Khwarizm, 2 dari kota yang dekat dengan Cordoba. Dalam Maqalah, Ibn Juljul kadang-kadang menuliskan nama orang yang pertama kali menggunakan tumbuhan tersebut untuk pengobatan atau orang yang menceritakan fungsi dan efek penggunaan tumbuhan tersebut.
Ibn Juljul juga pernah membahas tentang batu Bezoar yang dapat digunakan untuk melawan semua racun. Batu tersebut memiliki warna yang kekuning-kuningan dengan garis-garis putih.
Tak hanya itu, dia juga pernah membahas Ribas. Dia menuturkan bahwa menurut salah seorang pedagang kepercayaannya, ribas merupakan sejenis sayuran yang rasanya masam. Ribas dengan akar sangat masam dapat diperoleh di pegunungan yang tertutup dengan salju. Meskipun daftar pengobatan Ibn Juljul memiliki cerita yang eksotis, namun semuanya mengandung elemen medis.
Rupanya karya herbal Ibn Juljul banyak dipelajari oleh para ilmuwan lain. Beberapa ilmuwan lain yang mempelajari metode pengobatan Ibn Juljul diantaranya seorang ahli botani yang bernama Al-Ghafiqi. Dia mengoleksi beragam jenis tumbuh-tumbuhan yang diperolehnya baik dari wilayah Spanyol maupun Afrika. Selain itu, dia juga membuat catatan yang menggambarkan secara detil tentang jenis-jenis tumbuhan dikoleksinya itu. Bahkan seorang ahli sejarah dari Barat yang bernama George Sarton mengatakan, Al Ghafiqi merupakan ahli botani paling cerdas pada masanya.
Deskripsi tentang tumbuh-tumbuhan yang dibuat Al-Ghafiqi diakui sebagai karya yang paling membanggakan yang pernah dibuat seorang Muslim. Pasalnya karya fenomenal Al-Ghafiqi yang judulnya Al-Adwiyah al-Mufradah memberikan inspirasi kepada Ibnu Baytar untuk meneliti tumbuh-tumbuhan dengan cara sederhana seperti yang dilakukan Al-Ghafiqi.
Abdullah Ibnu Ahmad Ibnu Al-Baitar, salah satu ahli Botani sekaligus ahli obat-obatan di Spanyol pada abad pertengahan, juga mengutip empat belas obat-obatan herbal milik Ibn Juljul. Padahal Al-Baitar pun merupakan ahli botani hebat. Dia mengoleksi dan mencatat 1.400 jenis tanaman obat yang diperolehnya saat menjelajahi daerah pesisir Mediteranian dari Spanyol ke Suriah. Salah satu karya Al-Baitar yang paling termasyhur berjudul Al-Mughani-fi al Adwiyah al Mufradah.
Para ahli botani dan medis berjumlah banyak yang mengutip karya Ibnu Juljul menunjukkan bahwa karya Ibn Juljul tentang pengobatan herbal teruji oleh waktu. Selain teruji, karya-karya ia sangat berguna dan bernilai bagi para cendekiawan dan praktisi herbalis baik di wilayahnya sendiri, Andalusia maupun di luar negeri seperti di Maroko
Ibn Juljul menggunakan dan menghormati karya-karya herbal kuno dari Yunani. Namun dia membuat pengembangannya sendiri, bahkan yang sebelumnya tidak pernah ada di Yunani. Kontribusi terhadap dunia medis sangat berharga bagi penggunaan tanaman obat selanjutnya, bahkan di dunia modern ini. itz [republika]

Al-Zarqali: Astronom Legendaris dari Andalusia


Al-Zarqali: Astronom Legendaris dari Andalusia
MUSLIMHERITAGE.COM
Arzachel.? Begitulah masyarakat Barat biasa menyebut al-Zarqali, seorang? astronom Muslim? legendaris dari? Andalusia.? Kontribusinya bagi pengembangan astronomi modern sungguh sangat besar. Ia tak hanya menciptakan peralatan astronomi berteknologi, namun juga sederet terori penting.
Tak heran jika kemudian, masyarakat astronomi modern mengabadikan namanya di salah satu kawah bulan. Ia tercatat sebagai satu dari 24 ilmuwan Muslim yang diakui dunia sains modern. Al-Zarqali merupakan salah satu ilmuwan yang lahir dari era kejayaan Islam di Spanyol Muslim alias Andalusia.
Sejatinya, ia bernama lengkap Abu Ishaq Ibrahim Ibnu Yahya al-Zarqali. Di dunia Islam, ia juga dikenal dengan nama? al-Zarqalluh atau al-Zarqallah. Dia terlahir di Toledo, Andalusia pada tahun 1029 M. Al-Zarqali tumbuh besar ketika kejayaam? peradaban Islam di Andalusia berada di tubir kehancuran.
Saat itu, Andalusia diserang pasukan Kristen dari berbagai penjuru.? Pada akhir abad ke-11 M, pusat peradaban Islam di Eropa itu nyaris jatuh dikuasai pasukan Kristen. Untunglah, pasukan tentara Dinasti Murabbitun dari Maroko berhasil mematahkan serangan pasukan musuh.
Setelah kekuasaan Dinasti Murabbitun berakhir, peradaban Islam di Andalusia masih sempat bersinar selama dua abad hingga pertengahan abad ke-13 M. Jauh sebelum al-Zarqali menjelma menjadi seorang ilmuwan terpandang di Andalusia, peradaban Islam di wilayah itu telah memiliki sederet saintis fenomenal seperti: Ibnu Firnas (wafat 887), penemu presawat terbang; al-Zahrawi (936-1013 M), seorang dokter bedah; al-Dinawari? seorang ahli botani; serta al-Majriti (wafat 1007 M) yang juga seorang ilmuwan serbabisa.
Ilmu pengetahuan berkembang pesat di Andalusia, karena mendapat dukungan dari para penguasa.? Pada masa kekuasaan Khalifah al-Hakam II, Andalusia memiliki sekitar 70 perpustakaan umum. Tak hanya sains yang berkembang, kota-kota di Andalusia pun menjelma menjadi metropolitan terkemuka.
”Saat itu, Andalusia merupakan kota yang paling berperadaban di Eropa.” ujar T Burckhardt (1972) dalam bukunya Moorish Culture in Spain. Perkembangan ilmu astronomi di? era Kekhalifahan Umayyah Spanyol mencapai puncaknya pada abad ke-11 dan 12 M. Ibnu Haitham menjadi salah seorang astronom asal Andalusia yang pertama kali mengubah konfigurasi Ptolemeus.
Pada akhir abad ke-11 M, al-Zarqali alias Arzachel menjadi astronom kebanggaan peradaban Muslim di Andalusia. Ia menemukan bahwa orbit planet itu adalah edaran eliptik bukan edaran sirkular. Selain itu, ada pula astronom lainnya seperti Ibnu Bajjah serta? Nur Ed-Din Al Betrugi alias Alpetragius yang mengusulkan model-model planet baru.
Kehidupan al-Zarqali
Barron Carra de Vaux (1921) dalam? bukunya bertajuk Les Penseurs de l’Islam menyebut al-Zarqali dengan panggilan ‘al-Nekkach’ – pemahat logam. Sebelum dikenal sebagai seorang astronom, al-Zarqali memulai karirnya sebagai seorang mekanik dan pembuat kerajinan dari logam. Kemahirannya sebagai seorang mekanik membuatnya dipercaya untuk menjadi pegawai Ibnu Said di Toledo.
Pada 1060 M, al-Zarqali membuat peralatan observatorium astronomi yang didedikasikan untuk Yahya Ibnu Abi Mansur. Awalnya, al-Zarqali memang menciptakan peralatan untuk para ilmuwan lain. Karya ciptanya yang luar biasa akhirnya mengundang? ketertarikan dari ilmuwan lain.
”Para ilmuwan lain akhirnya mengakui kehebatan intelektualitas al-Zarqali,” papar? Barron carra de Vaux. Al-Zarqali terbilang unik. Dia adalah seorang saintis Muslim legendaris yang tak pernah belajar secara formal. Bahkan, pada awalnya, al-Zarqali nyaris tak pernah membaca bahkan memegang buku sekalipun.
Kalangan ilmuwan yang kagum dengan karya-karya al-Zarqali kemudian mendorongnya untuk belajar. Mereka memberinya banyak buku. Al-Zarqali pun kemudian belajar secara otodidak. ” Dua tahun kemudian, tepatnya? pada 1062 M, dia menjadi anggota kumpulan para ilmuwan di Andalusia,”? Juan Vernet dalam Dictionary of Scientific Biography.
Setelah mensejajarkan dirinya dengan para ilmuwan lainnya, al-Zarqali tak lagi menciptakan peralatan untuk saintis lain. Sang saintis mulai menciptakan penemuannya sendiri. Bahkan, al-Zarqali pun mengajarkan ilmu otoddak yang dikuasainya. Sejak saat itulah, dia dikenal sebagai ilmuwan terkemuka di Andalusia.
Salah satu penemuan al-Zarqali yang paling fenomenal adalah pembuatan jam di Toledo. Jam yang diciptakannya itu masih bisa digunakan hingga tahun 1135 M. Penemuannya itu menarik perhatian Raja Alphonso IV. Secara khusus Raja Alphonso mencari tahu bagaiama jam yang diciptakan al-Zarqali itu bekerja.
Selain berhasil menciptakan jam air yang sangat mengagumkan, al-Zarqali juga mampu membuat astrolab paling canggih dan akurat.? Atrolab yang ciptakannya tergolong paling bagus di antara astrolab lain yang dibuat sebelumnya serta pada masa itu. Astrolab itu bisa digunakan untuk beragam keperluan.
Astrolab ciptaannya bisa digunakan untuk mengamati siklus zodiak.? Selain itu juga bisa didesain secara khusus untuk mengukur garis lintang dan memproyeksikan letak ekuator. Teknologi astrolab yang dibuatnya juga bisa menentukan jam atau waktu.
Al-Zarqali begitu populer di dunia Barat. Selama berabad-abad, karyanya yang fenomenal, yakni Tabel Toledo? begitu dikagumi Masyarakat Kristen Barat. Hasil buha pikirnya itu begitu berpengaruh bagi masyarakat Barat.? Karyanya itu kemudian diterjemhakan ke dalam bahasa? Latin oleh Gerard of Cremona.? Karyanya al-Zarqali itu mampu bertahan selama lebih dari dua abad.
Pengaruh al-Zarqali yang begitu kuat itu membuat table-table astronomi lainnya di Eropa didasarkan pada hasil pengukuran al-Zarqali.? Tabel Marseilles yang didasarkan pada Tabel Toledan buatan al-Zarqali juga diadaptasi? ke meridian London, Paris dan? Pisa.
Raymond dari? Marseilles merupakan salah seorang yang pertama kali mengadaptasi tabel al-Zarqali di Eropa yakni kota? Marseilles. Leopold dari Austria, juga tercatat sebagai astronom Austria yang juga terpengaruh dengan pemikiran al-Zarqali. Tak cuma itu, Tablas Alfonsinas yang dibuat? Alfonso juga didasarkan pada hasil kerja al-Zarqali.
Al-Zarqali tutup usia pada tahun 1087 M. Meski begitu, buah pikir dan karya-karyanya telah memberi inspirasi bagi ilmuwan lain terutama di Eropa. Peradaban Islam masa kini sudah seharusnya menumbuhkan kembali semangat dan perjuangan hidup seorang al-Zarqali. N heri ruslan

Kontribusi Sang Astronom

Selain berhasil menemukan fakta bahawa orbit planet itu adalah edaran eliptik bukan edaran sirkular, al-Zarqali juga mampu mengoreksi data geografis yang dibuat Ptolemeus. Secara khusus, dia mengoreksi panjang Laut Mediterania. Al-Zarqali juga mampu menemukan sejumlah fakta penting terkait rahasia langit, seperti planet, bintang, bulan dan matahari.
Penemuan-penemuan yang diciptakannya ditulis dalam kitab berjudul al-Safiha al-Zarqaliya alias? Azafea. Dalam risalah itu tercatat sejumlah penemuannya seperti, astrolab universal, tabel 29 bintang serta yang lainnya. Al-Zarqali dikenal sebagai seorang ilmuwan yang mampu menggabungkan kemampuan teknik dengan teoritik.
Dalam catatannya, al-Zarqali mengungkapkan adanya observatorium juga dibangun peradaban Islam di Toledo serta Cordoba. Observatorium yang dibangun di bawah kekuasaan Dinasti Umayyah Spanyol itu diyakini keduanya telah menggunakan peralatan astronomi yang tercanggih di zamannya.? Beberapa diantaranya merupakan ciptaan al-Zarqali.
Ia juga tercatat telah menemukan salah satu peralatan komputer analog di era kejayaan Islam. Arzachel, demikian orang Barat biasa menyebut Al-Zarqali, berhasil menemukan Equatorium alat penghitung bintang. Peralatan komputer analog lainnya yang dikembangkan A-Zarqali bernama Saphaea. Inilah astrolabe pertama universal latitude-independent. Astrolabe itu tak bergantung pada garis lintang pengamatnya dan bisa digunakan di manapun di seluruh dunia.? hri/republika

Abu Nasr Mansur, Sang Penemu Hukum Sinus

Saat masih sekolah di bangku sekolah menengah, tentu Anda pernah mempelajari istilah sinus dalam mata pelajara matematika. Sinus adalah perbandingan sisi segitiga yang ada di depan sudut dengan sisi miring.? Hukum sinus itu ternyata dicetuskan seorang matematikus Muslim pada awal abad ke-11 M.
Ahli matematika itu bernama Abu Nasr Mansur ibnu Ali ibnu Iraq atau akrab disapa Abu Nasr Mansur (960 M – 1036 M).? Bill Scheppler dalam karyanya bertajuk al-Biruni: Master Astronomer and Muslim Scholar of the Eleventh Century, mengungkapkan, bahwa? Abu Nasr Mansur merupakan seorang ahli matematika Muslim dari Persia.
“Dia dikenal sebagai penemuan hukum sinus,” ungkap Scheppler.? Ahli sejarah Matematika John Joseph O’Connor dan Edmund Frederick Robertson menjelaskan bahwa Abu Nasr Mansur? terlahir di kawasan? Gilan, Persia pada tahun 960 M. Hal itu tercatat dalam The Regions of the World, sebuah buku geografi Persia bertarikh 982 M.
Keluarganya “Banu Iraq” menguasai wilayah Khawarizm (sekarang, Kara-Kalpakskaya, Uzbekistan). Khawarizm merupakan wilayah yang berdampingan dengan Laut Aral. “Dia menjadi seorang pangeran dalam bidang politik,” tutur O’Cornor dan Robertson.
Di Khawarizm itu pula, Abu Nasr Mansur menuntut ilmu dan berguru pada seorang astronom dan ahli matematika Muslim terkenal Abu’l-Wafa (940 M – 998 M). Otaknya yang encer membuat Abu Nasr dengan mudah menguasai matematika dan astronomi. Kehebatannya itu pun menurun pada muridnya, yakni? Al-Biruni (973 M – 1048 M).
Kala itu, Al-Biruni tak hanya menjadi muridnya saja, tapi juga menjadi koleganya yang sangat penting dalam bidang matematika. Mereka bekerja sama menemukan rumus-rumus serta hukum-hukum yang sangat luar biasa dalam matematika. Kolaborasi kedua ilmuwan itu telah melahirkan sederet penemuan yang sangat hebat dan bermanfaat bagi peradaban manusia.
Perjalanan kehidupan Abu Nasr dipengaruhi oleh situasi politik yang kurang stabil. Akhir abad ke-10 M hingga awal abad ke-11 M merupakan periode kerusuhan hebat di dunia Islam. Saat itu, terjadi perang saudara di kota sang ilmuwan menetap. Pada era itu, Khawarizm menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Dinasti Samaniyah.
Perebutan kekuasaan di antara dinasti-dinasti kecil di wilayah Asia Tengah itu membuat situasi politik menjadi kurang menentu. Pada 995 M, kekuasaan Banu Iraq digulingkan. Saat itu, Abu Nasr Mansur menjadi pangeran. Tidak jelas apa yang terjadi pada Abu Nasr Mansur di negara itu, namun yang pasti muridnya al-Biruni berhasil melarikan diri dari ancaman perang saudara itu.
Setelah peristiwa itu, Abu Nasr Mansur bekerja di istana Ali ibnu Ma’mun dan menjadi penasihat Abu’l Abbas Ma’mun. Kehadiran Abu Nasr membuat kedua penguasa itu menjadi sukses.
Ali ibnu Ma’mun dan Abu’l Abbas Ma’mun merupakan pendukung ilmu pengetahuan. Keduanya mendorong dan mendukung Abu Nasr mengembangkan ilmu pengetahuan. Tak heran jika ia menjadi ilmuwan paling top di istana itu.? Karya-karyanya sangat dihormati dan dikagumi.
Abu Nasr Mansur menghabiskan sisa hidupnya di istana Mahmud di Ghazna. Ia wafat pada 1036 M di Ghazni, sekarang Afghanistan.? Meski begitu, karya dan kontribusianya bagi pengembangan sains tetap dikenang sepanjang masa. Dunia Islam modern tak boleh melupakan sosok ilmuwan Muslim yang satu ini.
Kontribusi Sang Ilmuwan
Abu Nasr Mansur telah memberikan kontribusi yang penting dalam dunia ilmu pengetahuan. Sebagian Karya Abu Nasr fokus pada bidang matematika, tapi beberapa tulisannya juga membahas masalah astronomi.
Dalam bidang matematika, dia memiliki begitu banyak karya yang sangat penting dalam trigonometri.? Abu Nasr berhasil mengembangkan karya-karya ahli matematika, astronomi, geografi dan astrologi? Romawi bernama? Claudius Ptolemaeus (90 SM – 168 SM).
Dia juga mempelajari karya ahli matematika dan astronom Yunani, Menelaus of Alexandria (70 SM – 140 SM). Abu Nasr mengkritisi dan mengembangkan teori-teori serta hukum-hukum yang telah dikembangkan ilmuwan Yunani itu.
Kolaborasi Abu Nasr dengan al-Biruni begitu terkenal. Abu Nasr berhasil menyelesaikan sekitar 25 karya besar bersama? al-Biruni. ” Sekitar 17 karyanya hingga kini masih bertahan.?? Ini menunjukkan bahwa Abu Nasr Mansur adalah seorang astronom dan ahli matematika yang luar biasa,”? papar? ahli sejarah Matematika John Joseph O’Connor dan Edmund Frederick Robertson
Dalam bidang Matematika, Abu Nasr memiliki tujuh karya, sedangkan sisanya? dalam bidang astronomi. Semua karya yang masih bertahan telah dipublikaskan, telah dialihbahasakan kedalam bahasa Eropa, dan ini memberikan beberapa indikasi betapa sangat pentingnya karya sang ilmuwan Muslim itu.
Secara khusus Abu Nasr mempersembahkan sebanyak 20 karya kepada muridnya al-Biruni. Salah satu adikarya sang saintis Muslim ini adalah komentarnya dalam The Spherics of Menelaus.
Perannya sungguh besar dalam pengembangan trigonometri dari perhitungan Ptolemy dengan penghubung dua titik fungsi trigonometri yang hingga kini masih tetap digunakan. Selain itu, dia juga berjasa dalam mengembangkan dan mengumpulkan tabel yang? mampu memberi solusi angka yang mudah untuk masalah khas spherical astronomy (bentuk astronomi).
Abu Nasr juga mengembangkan The Spherics of Menelaus yang merupakan bagian penting, sejak karya asli Menelaus Yunani punah. Karya Menelaus berasal dari dasar solusi angka Ptolemy dalam masalah bentuk astronomi yang tercantum dalam risalah Ptolemy bertajuk Almagest.
“Karyanya di dalam tiga buku: buku pertama mempelajari kandungan/kekayaan bentuk segitiga, buku kedua meneliti kandungan sistem paralel lingkaran dalam sebuah bola/bentuk mereka memotong lingkaran besar, buku ketiga memberikan bukti dalil Menelaus,” jelas O’Cornor dan Robertson.
Pada karya trigonometrinya, Abu Nasr Mansur menemukan hukum sinus sebagai berikut:
a/sin A = b/sin B = c/sin C.
“Abu’l-Wafa mungkin menemukan hukum ini pertama dan Abu Nasr Mansur mungkin belajar dari dia. Pastinya keduanya memiliki prioritas kuat untuk menentukan dan akan hampir pasti tidak pernah diketahui dengan kepastian,” ungkap O’Cornor dan Robertson.
O’Cornor dan Robertson juga menyebutkan satu nama lain, yang disebut sebagai orang ketiga yang kadang-kadang disebut sebagai penemu hukum yang sama, seorang astronom dan ahli matematika Muslim dari Persia, al-Khujandi (940 M – 1000 M).
Namun, kurang beralasan jika al-Khujandi dsebut sebagai penemu hukum sinus, seperti yang ditulis Samso dalam bukunya Biography in Dictionary of Scientific Biography (New York 1970-1990). “Dia adalah seorang ahli astronomi praktis yang paling utama, yang tidak peduli dengan masalah teoritis,” katanya.
Risalah Abu Nasr membahas lima fungsi trigonometri yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dalam bentuk astronomi. Artikel menunjukkan perbaikan yang diperoleh Abu Nasr Mansur dalam penggunan pertama sebagai nilai radius. Karya lain Abu Nasr Mansur dalam bidang astronomi meliputi empat karya dalam menyusun dan mengaplikasi astrolab.
Al-Biruni, Saksi Kehebatan Abu Nasr
Sejatinya, dia adalah murid sekaligus kawan bagi Abu Nasr Mansur. Namun, dia lebih terkenal dibandingkan sang guru.
Meski begitu, al-Biruni tak pernah melupakan jasa Abu Nasr dalam mendidiknya. Kolaborasi kedua ilmuwan dari abad ke-11 M itu sangat dihormati dan dikagumi.
Abu Nasr telah ‘melahirkan’ seorang ilmuwan yang sangat hebat. Sejarawan Sains Barat, George Sarton begitu mengagumi kiprah dan pencapaian al-Biruni dalam beragam disiplin ilmu. “Semua pasti sepakat bahwa Al-Biruni adalah salah seorang ilmuwan yang sangat hebat sepanjang zaman,” cetus Sarton.
Bukan tanpa alasan bila Sarton dan Sabra mendapuknya sebagai seorang ilmuwan yang agung. Sejatinya, al-Biruni memang seorang saintis yang sangat fenomenal. Sejarah mencatat, al-Biruni sebagai sarjana Muslim pertama yang mengkaji dan mempelajari tentang seluk beluk India dan tradisi Brahminical. Dia sangat intens mempelajari bahasa, teks, sejarah, dan kebudayaan India.
Kerja keras dan keseriusannya dalam mengkaji dan mengeksplorasi beragam aspek tentang India, al-Biruni pun dinobatkan sebagai ‘Bapak Indologi’ – studi tentang India. Tak cuma itu, ilmuwan dari Khawarizm, Persia itu juga dinobatkan sebagai ‘Bapak Geodesi’.
Di era keemasan Islam, al-Biruni ternyata telah meletakkan dasar-dasar satu cabang keilmuan tertua yang berhubungan dengan lingkungan fisik bumi. Selain itu, al-Biruni juga dinobatkan sebagai ‘antropolog pertama’ di seantero jagad. Sebagai ilmuwan yang menguasai beragam ilmu, al-Biruni juga menjadi pelopor dalam berbagai metode pengembangan sains.
Sejarah sains mencatat, ilmuwan yang hidup di era kekuasaan Dinasti Samaniyah itu merupakan salah satu pencetus metode saintifik eksperimental. Al-Biruni pun tak hanya menguasai beragam ilmu seperti; fisika, antropologi, psikologi, kimia, astrologi, sejarah, geografi, geodesi, matematika, farmasi, kedokteran, serta filsafat. Dia juga turun memberikan kontrbusi yang begitu besar bagi setiap ilmu yang dikuasainya itu. hri/ des/she [REPUBLIKA]

Al-Nasawi Ahli Matematika dari Khurasan

Ali bin Ahmad Al-Nasawi, merupakan ilmuwan di bidang matematika yang lahir di Khurasan, Iran. Ia mendapatkan perlindungan dari penguasa dinasti Buwayhid, bernama Majd Al Dawlah, yang meninggal dunia pada 1029. Penguasa berikutnya, juga memberikan perlindungan pada dirinya.
Al-Nasawi, banyak menulis buku mengenai aritmetika baik dalam bahasa Persia maupun bahasa Arab. Salah satu bukunya berjudul Al-Muqni fi-l-Hisab al Hindi. Ia juga menulis sejumlah buku terkenal lainnya, salah satunya tentang lemmata.
Kajian lemmata dalam buku, semacam teorema dalam dunia mate matika, juga pernah dikemukakan oleh Archimedes seorang ilmuwan dari Sirakusa, Yunani yang hidup sekitar tahun 287 SM – 212 SM. Archimedes sendiri belajar di Kota Alexandria, Mesir. Ia merupakan ahli matematika, astronomi, filsafat, dan fisika. Ia juga bersahabat dengan Raja Sirakusa Hieron II. Ia meninggal karena dibunuh seorang prajurit Romawi saat terjadi serangan terhadap Sirakusa.
Buku tentang lemmata Archimedes yang ditulis Al Nasawi sebenarnya mengoreksi buku berjudul The Lemmata yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Thabit ibn Qurra seorang ilmuwan dari Harran, Mesopotamia yang belajar di Bait al Hikmah di Baghdad. Thabit merupakan ilmuwan jenius yang ahli dalam bidang geometri, astronomi, astrologi, mekanik, pengobatan, juga filsafat. Buku tentang lemmata, terakhir kali direvisi oleh Nasir Al-Din Al-Tusi seorang ilmuwan dari Persia.
Dalam bidang aritmatika, Al-Nasawi menjelaskan pembagian pecahan dan ekstraksi kuadrat dan akar kubik, di mana akar kuadrat dari 57.342; kubik akar dari 3, 652, 296 hampir sama dengan yang ada di masa modern. Al-Nasawi juga menggantikan sexagesimal dengan pecahan desimal. Hal itu sungguh tindakan yang luar biasa. Selain itu, dia juga membuat ringkasan mengenai Euclid’s Elements.
Al-Nasawi memiliki dua alasan dalam menulis karyanya tentang Euclid’s Element. Ia ingin menjelaskan tentang Element. Selain itu, ia ingin pula memberikan semua latar belakang yang diperlukan dalam memahami geometri bagi siapa pun yang ingin membaca Ptolemy’s Almagest.
Dalam karyanya itu, Al-Nasawi tampak menghilangkan beberapa konstruksi dan mengubah beberapa bukti. Secara historis, pekerjaan ini sangat menarik sebab pengetahuan tentang Element ditularkan ke negara-negara Arab.
Seperti diketahui, ada tiga jenis aritmatika yang digunakan di negaranegara Arab pada masa Al-Nasawi , antara lain sistem penghitungan dengan menggunakan jari-jari tangan di mana angka seluruhnya ditulis dengan katakata. Aritmatika yang menggunakan sistem perhitungan dengan jari, merupakan sistem yang kala itu biasanya digunakan oleh komunitas bisnis. Selain itu, ada sistem penghitungan dengan angka sexagesimal dilambangkan dengan hurufhuruf Arab.
Sedangkan jenis lainnya, adalah aritmatika dari angka-angka India dan pecahan desimal yang menempati sistem nilai. Buku aritmetika karya Al-Nasawi termasuk dalam tipe ketiga, yaitu aritmatika yang menggunakan angka-angka India. Karya aritmatika Al-Nasawi terdiri dari empat risalah terpisah, masingmasing berhubungan dengan golongan dari angka-angka tertentu. Risalah pertama berkaitan dengan bilangan bulat dan , risalah kedua berkaitan dengan pecahan umum tepat.
Sementara, risalah ketiga berkaitan dengan pecahan yang tidak tepat dan risalah keempat berkaitan dengan sexagesimal. Dalam risalah aritmatika yang dibuatnya itu, Al-Nasawi juga menjelaskan empat operasi aritmatika dasar. Al-Nasawi, menjelaskan pengalian pengalian dua kali lipat, pengurangan separuh, operasi akar kuadrat, dan operasi akar kubus. Ia menjelaskan masingmasing metode tersebut, dan membuat ilustrasinya dengan sejumlah contoh.
Sejumlah karya Al-Nasawi dalam matematika terutama aritmatika berisi kritikan terhadap karya-karya aritmatika yang dihasilkan oleh para ilmuwan ahli matematika sebelumnya. Namun, ada sejumlah kritik tersebut yang dianggap para sejarawan tak valid.
Terbukti, meski Al-Nasawi merupakan ilmuwan gemilang namun ia pun per nah mengalami kegagalan. Misalnya, ia pernah gagal memahami prinsip meminjam saat melakukan operasi pengurang an. Namun, harus diakui pula bahwa sejumlah karyanya memang fenomenal. Terungkap bahwa Al-Nasawi pernah pula menulis sebuah buku berjudul Kitab al-Ishba yang berisi tentang teorema Menelaus yang cukup termasyhur pada masanya.

Riwayat Al-Nasawi

Sebenarnya, riwayat hidup Al-Nasawi tak banyak diketahui di Eropa hingga pada 1863 Franz Woepcke, orientalis dan ahli matematika dari Dessau, Jerman yang hidup antara tahun 1826-1864, mengungkapkan sebuah naskah yang berisi karya Al-Nasawi tentang aritmatika dasar.
Di sisi lain, hampir sepanjang kariernya, Al-Nasawi sering menuliskan karyanya dalam bahasa Persia untuk Sultan Majd Al-Dawlah. Saat Al-Dawlah digulingkan, ia sedang mengerjakan salah satu buku karyanya dan belum selesai.
Al-Nasawi kemudian mempersembahkan karyanya itu kepada Sharaf Al-Muluk yang merupakan wazir dari Jalal Ad Dawlah seorang penguasa Baghdad pada tahun 1025-1044. Sharaf Al-Muluk, kemudian memerintahkan Al-Nasawi menulis ulang karya-karyanya.
Penguasa tersebut meminta agar karya Al-Nasawi yang semula ditulis dalam bahasa Persia kemudian ditulis ulang ke dalam bahasa Arab. Al-Nasawi, melaksanakan perintah tersebut dengan baik. Karya Al Nasawi dalam versi bahasa Arab itulah yang bertahan selama beberapa abad.
Dan pada akhirnya, karya itu ditemukan dan dipelajari oleh Woepcke pada ta hun 1863. Menurut sejumlah catatan se jarah, Al-Nasawi pernah pula tinggal di Baghdad. Ilmuwan gemilang, Ibnu Sina, diketahui pula pernah berkunjung ke tempat tinggal Al-Nasawi. ed: ferry
Kitab Al-Ishba
Kitab Al-Ishba yang ditulis Al-Nasawi, merupakan kitab yang berisi tentang teorema Menelaus, karya Menelaus dari Alexandria yang hidup sekitar tahun 70 hingga 140 Masehi. Penulisan ini, bertujuan untuk memudahkan para pelajar atau masyarakat umum mempelajari teorema Menalaus.
Selain itu, buku ini juga dipersembahkan oleh Al-Nasawi untuk penguasa yang memberikan perlindungan pada dirinya. Dalam Kitab Al-Ishba, Al Nasawi menjelaskan teorema Menelaus yang membahas sebuah teorema mengenai segitiga dalam bidang geometri.
Gambar (1) Dengan melihat titik A, B, C yang membentuk segitiga ABC, dan titik-titik D, E, F yang terletak pada garis BC, AC, AB, maka teorema menyatakan bahwa D, E, F adalah collinear jika dan hanya jika: AF/BF.BD/DC.CE/EA=-1 Dalam persamaan ini, AB, dan sebagainya, mewakili segmen garis pengukuran yang nilainya negatif. Sebagai contoh, fraksi AF / FB didefinisikan memiliki nilai positif hanya bila garis DEF memotong sisi AB, hal ini juga berlaku untuk pecahan lainnya.
Gambar (2)Baris DEF sepenuhnya di luar segitiga ABC.Ini adalah salah satu dari banyak bukti un tuk teorema Menelaus. Seharusnya garis DEF memotong sisisisi segitiga ABC beberapa kali, mungkin juga dua kali. Jika garis DEF melewati segitiga dan keluar lagi atau tidak melewati segitiga sama sekali, maka terdapat angka ganjil negatif dan hasilnya semua negatif.
Selanjutnya, segmen garis yang meng hubungkan DEF tegak lurus de ngan simpul A, B, dan C. Dengan DEF sebagai dasar, maka ketinggian dari A, B, dan C menjadi a, b, dan c. Dengan menggunakan segitiga yang mirip, nilai absolut dari sisi kiri teorema disederhanakan menjadi : a/b.b/c.c/a=1 Penjelasan tersebut merupakan sebagian isi dari Kitab Al-Ishba yang cukup termasyhur pada masanya. meta [republika]

Jabir Ibnu Hayyan Peletak Dasar Kimia Modern

Tak salah bila dunia mendapuknya sebagai bapak ki mia modern. Ahli kimia Mus lim terkemuka di era kekhalifahan yang dikenal di dunia Barat dengan pang gilan Geber itu memang sangat fenomenal. Betapa tidak, 10 abad se be lum ahli kimia Barat bernama John Dal ton (1766-1844)? mencetuskan teori mo lekul kimia, Jabir Ibnu Hayyan (721M – 815 M) telah menemukannya di abad ke-8 M.Hebatnya lagi, penemuan dan eksperimennya yang telah berumur 13 abad itu ternyata hingga kini masih tetap dijadikan rujukan.?? Dedikasinya dalam pengembangan ilmu kimia sungguh tak ternilai harganya. Tak heran, jika ilmuwan yang juga ahli farmasi itu dinobatkan sebagai renaissance man (manusia yang mencerahkan).
Tanpa kontribusinya, boleh jadi ilmu kimia tak berkembang pesat seperti saat ini. Ilmu pengetahuan modern sungguh telah berutang budi kepada Jabir yang dikenal sebagai seorang sufi itu. Jabir telah menorehkan sederet karyanya dalam 200 kitab. Sebanyak 80 kitab yang ditulisnya itu mengkaji dan mengupas seluk-beluk ilmu kimia. Sebuah pencapaian yang terbilang amat prestisius.
Itulah sebabnya, ahli sejarah Barat, Philip K Hitti dalam History of the Arabs berujar, ?’Sesudah ilmu kedokteran, astronomi, dan matematika, bangsa Arab juga memberikan sumbangan yang begitu besar di bidang kimia.’? Penyataan Hitti itu merupakan sebuah pengakuan Barat terhadap pencapaian yang telah ditorehkan umat Islam di era keemasan.
Sejatinya, ilmuwan kebanggaan umat Islam itu bernama lengkap Abu Musa Jabir Ibnu Hayyan. Asal-usul kesukuan Jabir memang tak terungkap secara jelas. Satu versi menyebutkan, Jabir adalah seorang Arab. Namun, versi lain menyebutkan ahli kimia kesohor itu adalah orang Persia.? Kebanyakan literatur menulis bahwa Jabir terlahir di Tus, Khurasan, Iran pada 721 M.
Saat terlahir, wilayah Iran berada dalam kekuasaan Dinasti Umayyah. Sang ayah bernama Hayyan Al-Azdi, seorang ahli farmasi berasal dari suku Arab Azd. Pada era kekuasaan Daulah Umayyah, sang ayah hijrah dari Yaman ke Kufah, salah satu kota pusat gerakan Syiah di Irak. Sang ayah merupakan pendukung Abbasiyah yang turut serta menggulingkan Dinasti Umayyah.
Ketika melakukan pemberontakan, Hayyan tertangkap di Khurasan dan dihukum mati. Sepeninggal sang ayah, Jabir dan keluarganya kembali ke Yaman. Jabir kecil pun mulai mempelajari Alquran, matematika, serta ilmu lainnya dari seorang ilmuwan bernama Harbi Al-Himyari.
Setelah Abbasiyah menggulingkan kekuasaan Umayyah, Jabir memutuskan untuk kembali ke Kufah. Di kota Syiah itulah, Jabir belajar dan merintis karier. Ketertarikannya pada bidang kimia, boleh jadi lantaran profesi sang ayah sebagai peracik obat. Jabir pun memutuskan untuk terjun di bidang kimia.
Jabir yang tumbuh besar di pusat peradaban Islam klasik itu menimba ilmu dari seorang imam termasyhur bernama Imam Ja’far Shadiq. Selain itu, ia juga sempat belajar dari Pangeran Khalin Ibnu Yazid. Jabir memulai kariernya di bidang kedokteran setelah berguru pada Barmaki Vizier? pada masa kekhalifahan Abbasiyah berada dibawah kepemimpinan Harun Ar-Rasyid.
Sejak saat itulah, Jabir bekerja keras mengelaborasi kimia di sebuah laboratorium dengan serangkaian eksperimen. Dalam karirnya, ia pernah bekerja di laboratorium dekat Bawwabah di Damaskus. Salah satu ciri khasnya, ia mendasari? eksperimen-eksperimen yang dilakukannya secara kuantitatif. Selain itu, instrumen yang digunakan dibuat sendiri, menggunakan bahan berasal dari logam, tumbuhan, dan hewani. ?’Saya pertama kali mengetahuinya? dengan melalui tangan dan otak saya, dan saya menelitinya hingga sebenar
mungkin, dan saya mencari kesalahan yang mungkin masih terpendam.’? Kalimat itu kerap dituliskan Jabir saat mengakhiri uraian suatu eksperimen yang telah dilakukannya.
Setelah sempat berkarier di Damas – kus, Jabir pun dikabarkan kembali ke Kufah. Dua abad pasca-berpulangnya Jabir, dalam sebuah penggalian jalan telah ditemukan bekas laboratorium tempat sang ilmuwan berkarya. Dari tempat itu ditemukan peralatan kimianya yang hingga kini masih mempesona serta sebatang emas yang cukup berat.
Begitu banyak sumbangan yang telah dihasilkan Jabir bagi pengembangan kimia. Berkat jasa Jabir-lah, ilmu pengetahuan modern bisa mengenal asam klorida, asam nitrat, asam sitrat, asam asetat, tehnik distilasi, dan tehnik kristalisasi. Jabir pulalah yang menemukan larutan aqua regia (dengan menggabungkan asam klorida dan asam nitrat) untuk melarutkan emas.
Keberhasilan penting lainnya yang dicapai Jabir adalah kemampuannya mengapli kasi kan pengetahuan me? ngenai kimia ke dalam proses pembuatan besi dan logam lainnya, serta pencegahan karat. Ter nyata, Jabir jugalah yang kali pertama mengaplikasikan penggunaan mangan dioksida pada pembuatan gelas kaca.
Adalah Jabir pula yang pertama kali mencatat tentang? pemanasan anggur akan menimbulkan gas yang mudah terbakar. Hal inilah yang kemudian memberikan jalan bagi Al-Razi untuk menemukan etanol.
Selain itu, Jabir pun berhasil menyempurnakan proses dasar sublimasi, peng uapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan
kapur, penyulingan, pencelupan, pemurnian, sematan (fixation), amalgamasi, dan oksidasi-reduksi. Apa yang dihasilkannya itu merupakan teknikteknik kimia modern.
Tak heran, bila sosok dan pemikiran Jabir begitu berpengaruh bagi para ahli kimia Muslim lainnya seperti Al-Razi (9 M), Tughrai (12 M) dan Al-Iraqi (13 M). Tak cuma itu, buku-buku yang ditulisnya juga begitu besar pengaruhnya terhadap pengembangan ilmu kimia di Eropa. Jabir tutup usia pada tahun 815 M di Kufah.? heri ruslan (Republika)
===

Adikarya Sang Ilmuwan Besar

Dedikasi dan prestasi yang dicapai Jabir Ibnu Hayyan dalam bidang kimia terekam dengan baik lewat buku-buku yang ditulisnya. Tak kurang dari 200 buku berhasil ditulisnya.? Sebanyak 80 judul buku di antaranya mengupas hasil-hasil eksperimen kimia yang dilakukannya. Buku-buku itu sungguh amat berpengaruh hingga sekarang.Sebanyak 112 buku karya Jabir secara khusus ditulis untuk dipersembahkan kepada Barmakid?sang guru?yang juga pembantu atau wazir Khalifah Harun Ar- Rasyid. Buku-buku itu ditulis dalam bahasa Arab. Pada abad pertengahan, orang-orang Barat mulai menerjemahkan karya-karya Jabir itu ke dalam bahasa Latin (Tabula Smaragdina).Buku-buku itu lalu menjadi rujukan pada ahli kimia di Eropa.
Selain itu, sebanyak 70 buku karya Jabir lainnya juga? dialihbahasakan ke dalam bahasa Latin pada abad pertengahan. Dari ke-70 kitab berpengaruh itu, salah satu yang terkenal adalah Kitab Al-Zuhra yang diterjemakan menjadi Book of Venus, serta Kitab Al-Ahjar yang dialihbahasakan menjadi Book of Stones.
Sebanyak 10 buku yang ditulis Jabir lainnya adalah kitab pembetulan yang berisi penjelasan mengenai ahli kimia Yunani seperti Pythagoras, Socrates, Plato dan Aristoteles. Sisanya, kitab yang ditulis Jabir merupakan buku-buku keseimbangan. Dalam buku kelompok ini, Jabir melahirkan teori yang begitu terkenal, yakni ?teori keseimbangan alam.?
Risalat-risalat karya Jabir yang secara khusus membedah ilmu kimia antara lain? Kitab Al-Kimya dan Kitab Al-Sab?een. Kitab penting itu juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin di abad pertengahan. Kitab Al-Kimya menjadi sangat populer di Barat setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Ingris oleh orang Inggris Robert of Chester pada 1144 M.
Al-Kimya versi alih bahasa berjudul ?The Book of Composition of Alchemy?. Sedangkan, Kitab Al-Sab?een diterjemahkan oleh Gerard of Cremona. Beberapa karya Jabir lainnya juga dialihbahasakan oleh Berthelot ke dalam bahasa Inggris antara lain; ?Book of Kingdom?, ?Book of the Balances?, serta ?Book of Eastern Mercur.?
Buku karya Jabir lainnya juga mendapat perhatian dari ilmuwan Inggris bernama Richard Russel. Pada abad ke-17 M, Russel menerjemahkan buku yang ditulis Jabir ke dalam bahasa Ingris berjudul ?Sum of Perfection?.
Dalam buku itu, Russel memperkenalkan Jabir dengan nama Geber?seorang pange? ran Arab terkenal yang juga seorang filsuf. ?Sum of Perfection? selama beberapa abad begitu populer dan berpengaruh. Buku itu telah mendorong terjadinya evolusi kimia modern. Begitu berpengaruhnya buku-buku karya Jabir di Eropa dan Barat umumnya telah dibuktikan dengan munculnya beberapa istilah teknis yang ditemukan dalam kamus kimia Barat dan menjadi kosa kata ilmia yang sebelumnya digunakan Jabir seperti istilah “alkali.” hri (Republika)