Tampilkan postingan dengan label MUALLAF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MUALLAF. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Agustus 2011

Nicolas Anelka: Islam Memberikan Kedamaian dan Ketenangan Hidup

Bagi penggemar sepak bola dunia, terutama pendukung klub Inggris, Chelsea Football Club, tentu tak asing dengan nama Nicolas Anelka. Anelka adalah salah satu striker paling berbahaya apabila berada di depan mulut gawang lawan.
Anelka dikenal sebagai  striker yang sangat produktif dalam menciptakan peluang dan menjebloskan si kulit bundar ke gawang lawan. Pada Liga Primer Inggris ( England Primiership League /EPL) 2008-2009 lalu, Nicolas Anelka menjadi pencetak gol terbanyak ( top score ) dengan 22 gol. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan kompatriotnya, Didier Drogba, penyerang Chelsea asal Pantai Gading.
Nicolas Anelka dan Didier Drogba, adalah salah satu duet  striker yang sangat ditakuti di liga Inggris. Keduanya dikenal sebagai  striker yang haus gol.Anelka termasuk sebagai pesepak bola papan atas dunia. Di klub yang dibelanya saat ini, Chelsea, Anelka menjadi salah satu pemain utama jika tidak sedang dibebat cedera.
Di balik kegarangannya dalam menceploskan si kulit bundar ke gawang lawan, Nicolas Anelka memiliki sikap yang sangat dingin. Ia sangat jarang tersenyum ketika sudah berada di lapangan. Terkadang, rekan-rekannya sering merasa serbasalah ketika berbicara dengannya. Dirinya sangat fokus pada permainan.
Di lini depan  The Blues, Chelsea, Anelka dikenal sebagai pemain yang kalem dalam bersikap, namun garang di depan lawan. Ia juga terbilang pemain yang tenang dan tidak emosional.
Kondisi ini bertolak belakang saat ia masih memperkuat Real Madrid, Liverpool, Manchester City, dan Arsenal. Ketika itu, pria kelahiran Versailles, Prancis, ini dikenal sebagai pria yang suka  ngambek dan emosional.
|
Memeluk Islam

Kini, Anelka di kenal dingin, tidak meledak-ledak, dan tidak suka  ngambek lagi sejak bermain di Chelsea. Apa gerangan yang terjadi dengan Anelka? Apa yang menyebabkan dirinya makin bijak dan tenang itu?Dalam wawancara dengan sebuah media di Inggris, ketika ditanyakan tentang sikapnya yang kini dingin dan lebih dewasa itu, Anelka menjawab ringan.
”Islam banyak membantu saya untuk bisa bersikap tenang dan berkonsentrasi dan memiliki semangat tinggi. Saya senang menjadi seorang Muslim, sebuah agama yang tenang dan saya banyak belajar dari Islam,” tutur Abdul Salam Bilal Anelka, nama Muslimnya.
Sebelumnya, Anelka sempat menyembunyikan identitas keislamannya dari hadapan publik. Bahkan, tak seperti rekannya Franck Ribery, pemain FC Bayern Muenchen, Jerman, asal dari Prancis, yang selalu berdoa ketika pertandingan akan dimulai. Anelka justru diam saja dan benar-benar menyembunyikan identitas Muslimnya.”Bagi saya, agama adalah masalah pribadi, tak perlu diungkapkan ke publik,” terangnya.
Namun belakangan, ketika publik sudah mengetahui identitasnya sebagai pemeluk agama Muhammad SAW, Nicolas Anelka justru makin terlihat arif dan bijaksana.Sejak kapan Anelka memeluk Islam? Ternyata, kepindahannya ke klub asal Turki, Fenerbahce, selepas bermain di Manchester City selama tiga musim, pada tahun 2004 Anelka mendapatkan hidayah untuk memeluk Islam. Karena itu, pemilik nama lengkap Nicolas Sebastien Anelka ini mengumumkan secara resmi perihal perpindahan dirinya menjadi seorang Muslim.
Dilahirkan di Versailles, Prancis, pada 14 Maret 1979, Anelka menghabiskan masa kecilnya di Trappes, sebuah kota kecil yang berada di pinggiran barat Paris.Sebelum menjadi seorang Muslim, Anelka adalah seorang ateis (tak beragama). Ia juga bukan pemeluk agama Kristen seperti yang diperkirakan oleh sebagian orang. Ia dulunya benar-benar tak memiliki Tuhan.
Namun demikian, di saat dirinya tak beragama itu, Anelka banyak bergaul dan menjalin persahabatan dengan keluarga Muslim. Dan, dari situlah Anelka mulai tertarik dengan Islam. ”Saya menjadi seorang Muslim sejak saya berusia 16 tahun,” curhatnya dalam wawancara dengan majalah Arab, Super Magazine .
Kepada para pembaca majalah FourFourTwo, pemain asal Prancis ini mengungkapkan alasannya mengapa memilih Islam. Islam, kata dia, adalah cara hidup yang cocok dengan dirinya. ”Saya merasa nyaman dan tenang dengan agama dan hidup saya saat ini. Tapi, ini masalah pribadi dan itu mengapa saya tidak membicarakan hal itu selalu sering. Itu adalah sisi pribadi saya.”
Menganut Islam, diakui striker Chelsea ini banyak membawa perubahan positif dalam hidupnya. Menurutnya, agama Islam menuntunnya untuk tetap bersikap arif. Dan, hal inilah yang melatarbelakangi sikap tenangnya saat berlaga di lapangan.”Islam banyak membantu saya untuk bisa bersikap tenang dan berkonsentrasi dan memiliki semangat tinggi,” tuturnya.
”Saya senang menjadi seorang Muslim, sebuah agama yang tenang dan saya banyak belajar dari Islam,” tambahnya. Dalam wawancara yang dimuat di Match, majalah terbitan Prancis, Anelka mengungkapkan bahwa Islam adalah sumber kekuatannya di dalam maupun di luar lapangan. ”Saya menjalani karier yang berat. Saya kemudian berketetapan hati untuk menemukan kedamaian. Dan, akhirnya saya menemukan Islam.”
Di kehidupan pribadi, Anelka menikah dengan seorang perempuan berkebangsaan Belgia, Barbara Tausia, pada 9 Juni 2007 di Marrakesh, Maroko. Pernikahannya dengan wanita yang berprofesi sebagai seorang koreografer ini tidak membuat Anelka memilih meninggalkan keyakinan barunya tersebut. Bahkan, Anelka berencana untuk tinggal di Uni Emirates Arab setelah pensiun nanti. Dan, di sela-sela bermain sepak bola, Anelka kerap bermain tenis dan pernah bermain untuk satu film berjudul ”Le Boulet” sebagai pemain sepak bola bernama Nicolas.
Tetap berpuasa
Sebagai seorang pemain sepak bola profesional dan penganut Islam yang taat, kewajiban berpuasa selama bulan Ramadhan tidak membuat Anelka kesulitan untuk tetap menjalankan aktivitasnya di lapangan hijau. Seperti kebanyakan pemain sepak bola Muslim lainnya di Liga Premier, Anelka berusaha tetap menjalankan ibadah puasa.
Dalam sebuah wawancara dengan majalah FourFourTwo, peraih Golden Boot Premiership musim kompetisi 2008/2009 ini mengungkapkan bahwa sebagai seorang Muslim yang taat, ia wajib menghormati bulan Ramadhan dengan menjalankan kewajiban puasa.”Sebetulnya puasa bukan suatu hal yang sulit untuk dijalankan. Saya pernah melakukannya beberapa kali. Namun, dalam beberapa kali Ramadhan saya mengalami dua atau tiga cedera. Sehingga, hal itu membuat saya tidak bisa berpuasa.”
Ucapkan Syahadat di Fenerbache
Musim lalu,  striker Chelsea Nicolas Anelka menjadi pencetak gol terbanyak Liga Premier.  Striker Prancis ini memang berambisi untuk kembali menjadi top skor bersama rekan satu timnya, Didier Drogba.
Sejak menyatakan diri pindah memeluk agama Islam tahun 2004 lalu, Anelka juga menyandang nama Islam, yakni Abdul Salam Bilal Anelka. Diyakini kepindahan Anelka memeluk agama Islam ini ketika dia membela raksasa Turki, Fenerbahce, setelah tiga musim bermain untuk Manchester City, Inggris. Memulai karier di Paris Saint-Germain, namun setelah itu pindah ke Arsenal, Anelka langsung menjadi pemain utama dan meraih gelar pemain muda terbaik versi PFA.
Usai bermain untuk  The Gunners , julukan Arsenal, Anelka pindah ke Real Madrid tahun 1999 dengan nilai transfer 22,3 juta pound. Sayangnya ia tak betah dan kembali lagi ke klub lamanya, Paris Saint-Germain, dengan nilai transfer lebih rendah, yakni sebesar 20 juta pound.
Meski sudah nyaman di Paris, Anelka kembali mengincar Liga Premier dan bermain untuk Liverpool pada Januari 2002 dengan status pinjaman. Setelah itu, dia bergabung dengan Manchester City dengan transfer senilai 13 juta pound di awal musim 2002-2003. Setelah merumput selama tiga musim bersama Manchester City, kemudian dia pindah ke Fenerbahce.
Di klub Turki inilah, Anelka diyakini mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah dari Fenerbahce, Anelka kembali Lige Premier Inggris. Di benua biru ini, Anelka bergabung dengan Bolton Wanderers yang memboyongnya dari Fenerbache dengan nilai transfer 7-8 juta pound.Kemudian, pada musim kompetisi 2008/2009, Anelka pindah ke Chelsea dengan nilai transfer 15 juta pound. Ia mulai bergabung dengan  The Blues pada Januari 2008 silam, dan menjadi pencetak gol terbanyak dengan 22 gol. dia/sya/berbagai sumber [republika]

Maurice Bucaille tak Ragu dengan Kebenaran Alquran

Penelitiannya tentang Mumi Firaun membawanya pada kebenaran Alquran
Suatu hari di pertengahan tahun 1975, sebuah tawaran dari pemerintah Prancis datang kepada pemerintah Mesir. Negara Eropa tersebut menawarkan bantuan untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun. Tawaran tersebut disambut baik oleh Mesir. Setelah mendapat restu dari pemerintah Mesir, mumi Firaun tersebut kemudian digotong ke Prancis. Bahkan, pihak Prancis membuat pesta penyambutan kedatangan mumi Firaun dengan pesta yang sangat meriah.
Mumi itu pun dibawa ke ruang khusus di Pusat Purbakala Prancis, yang selanjutnya dilakukan penelitian sekaligus mengungkap rahasia di baliknya oleh para ilmuwan terkemuka dan para pakar dokter bedah dan otopsi di Prancis. Pemimpin ahli bedah sekaligus penanggung jawab utama dalam penelitian mumi ini adalah Prof Dr Maurice Bucaille.
Bucaille adalah ahli bedah kenamaan Prancis dan pernah mengepalai klinik bedah di Universitas Paris. Ia dilahirkan di Pont-L’Eveque, Prancis, pada 19 Juli 1920. Bucaille memulai kariernya di bidang kedokteran pada 1945 sebagai ahli gastroenterology. Dan, pada 1973, ia ditunjuk menjadi dokter keluarga oleh Raja Faisal dari Arab Saudi.
Tidak hanya anggota keluarga Raja Faisal yang menjadi pasiennya. Anggota keluarga Presiden Mesir kala itu, Anwar Sadat, diketahui juga termasuk dalam daftar pasien yang pernah menggunakan jasanya.
Namanya mulai terkenal ketika ia menulis buku tentang Bibel, Alquran, dan ilmu pengetahuan modern atau judul aslinya dalam bahasa Prancis yaitu La Bible, le Coran et la Science di tahun 1976.
Ketertarikan Bucaille terhadap Islam mulai muncul ketika secara intens dia mendalami kajian biologi dan hubungannya dengan beberapa doktrin agama. Karenanya, ketika datang kesempatan kepada Bucaille untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun, ia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menguak misteri di balik penyebab kematian sang raja Mesir kuno tersebut.
Ternyata, hasil akhir yang ia peroleh sangat mengejutkan! Sisa-sisa garam yang melekat pada tubuh sang mumi adalah bukti terbesar bahwa dia telah mati karena tenggelam. Jasadnya segera dikeluarkan dari laut dan kemudian dibalsem untuk segera dijadikan mumi agar awet.
Penemuan tersebut masih menyisakan sebuah pertanyaan dalam kepala sang profesor. Bagaimana jasad tersebut bisa lebih baik dari jasad-jasad yang lain, padahal dia dikeluarkan dari laut?
Prof Bucaille lantas menyiapkan laporan akhir tentang sesuatu yang diyakininya sebagai penemuan baru, yaitu tentang penyelamatan mayat Firaun dari laut dan pengawetannya. Laporan akhirnya ini dia terbitkan dengan judul Mumi Firaun; Sebuah Penelitian Medis Modern, dengan judul aslinya, Les momies des Pharaons et la midecine. Berkat buku ini, dia menerima penghargaan Le prix Diane-Potier-Boes (penghargaan dalam sejarah) dari Academie Frantaise dan Prix General (Penghargaan umum) dari Academie Nationale de Medicine, Prancis.
Terkait dengan laporan akhir yang disusunnya, salah seorang di antara rekannya membisikkan sesuatu di telinganya seraya berkata: ”Jangan tergesa-gesa karena sesungguhnya kaum Muslimin telah berbicara tentang tenggelamnya mumi ini”. Bucaille awalnya mengingkari kabar ini dengan keras sekaligus menganggapnya mustahil.
Menurutnya, pengungkapan rahasia seperti ini tidak mungkin diketahui kecuali dengan perkembangan ilmu modern, melalui peralatan canggih yang mutakhir dan akurat.
Hingga salah seorang di antara mereka berkata bahwa Alquran yang diyakini umat Islam telah meriwayatkan kisah tenggelamnya Firaun dan kemudian diselamatkannya mayatnya.
Ungkapan itu makin membingungkan Bucaille. Lalu, dia mulai berpikir dan bertanya-tanya. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Bahkan, mumi tersebut baru ditemukan sekitar tahun 1898 M, sementara Alquran telah ada ribuan tahun sebelumnya.
Ia duduk semalaman memandang mayat Firaun dan terus memikirkan hal tersebut. Ucapan rekannya masih terngiang-ngiang dibenaknya, bahwa Alquran–kitab suci umat Islam–telah membicarakan kisah Firaun yang jasadnya diselamatkan dari kehancuran sejak ribuan tahun lalu.
Sementara itu, dalam kitab suci agama lain, hanya membicarakan tenggelamnya Firaun di tengah lautan saat mengejar Musa, dan tidak membicarakan tentang mayat Firaun. Bucaille pun makin bingung dan terus memikirkan hal itu.
Ia berkata pada dirinya sendiri. ”Apakah masuk akal mumi di depanku ini adalah Firaun yang akan menangkap Musa? Apakah masuk akal, Muhammad mengetahui hal itu, padahal kejadiannya ada sebelum Alquran diturunkan?”
Prof Bucaille tidak bisa tidur, dia meminta untuk didatangkan Kitab Taurat (Perjanjian Lama). Diapun membaca Taurat yang menceritakan: ”Airpun kembali (seperti semula), menutupi kereta, pasukan berkuda, dan seluruh tentara Firaun yang masuk ke dalam laut di belakang mereka, tidak tertinggal satu pun di antara mereka”.
Kemudian dia membandingkan dengan Injil. Ternyata, Injil juga tidak membicarakan tentang diselamatkannya jasad Firaun dan masih tetap utuh. Karena itu, ia semakin bingung.
Berikrar Islam
Setelah perbaikan terhadap mayat Firaun dan pemumiannya, Prancis mengembalikan mumi tersebut ke Mesir. Akan tetapi, tidak ada keputusan yang mengembirakannya, tidak ada pikiran yang membuatnya tenang semenjak ia mendapatkan temuan dan kabar dari rekannya tersebut, yakni kabar bahwa kaum Muslimin telah saling menceritakan tentang penyelamatan mayat tersebut. Dia pun memutuskan untuk menemui sejumlah ilmuwan otopsi dari kaum Muslimin.
Dari sini kemudian terjadilah perbincangan untuk pertama kalinya dengan peneliti dan ilmuwan Muslim. Ia bertanya tentang kehidupan Musa, perbuatan yang dilakukan Firaun, dan pengejarannya pada Musa hingga dia tenggelam dan bagaimana jasad Firaun diselamatkan dari laut.
Maka, berdirilah salah satu di antara ilmuwan Muslim tersebut seraya membuka mushaf Alquran dan membacakan untuk Bucaille firman Allah SWT yang artinya: ”Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS Yunus: 92).
Ayat ini sangat menyentuh hati Bucaille. Ia mengatakan bahwa ayat Alquran tersebut masuk akal dan mendorong sains untuk maju. Hatinya bergetar, dan getaran itu membuatnya berdiri di hadapan orang-orang yang hadir seraya menyeru dengan lantang: ”Sungguh aku masuk Islam dan aku beriman dengan Alquran ini”.
Ia pun kembali ke Prancis dengan wajah baru, berbeda dengan wajah pada saat dia pergi dulu. Sejak memeluk Islam, ia menghabiskan waktunya untuk meneliti tingkat kesesuaian hakikat ilmiah dan penemuan-penemuan modern dengan Alquran, serta mencari satu pertentangan ilmiah yang dibicarakan Alquran.
Semua hasil penelitiannya tersebut kemudian ia bukukan dengan judul Bibel, Alquran dan Ilmu Pengetahuan Modern, judul asli dalam bahasa Prancis, La Bible, le Coran et la Science. Buku yang dirilis tahun 1976 ini menjadi best-seller internasional (laris) di dunia Muslim dan telah diterjemahkan ke hampir semua bahasa utama umat Muslim di dunia.
Karyanya ini menerangkan bahwa Alquran sangat konsisten dengan ilmu pengetahuan dan sains, sedangkan Al-Kitab atau Bibel tidak demikian. Bucaille dalam bukunya mengkritik Bibel yang ia anggap tidak konsisten dan penurunannya diragukan. dia/sya/berbagai sumber [republika]

Mantan Pendeta Itu Menjadi Muslim

AYAH saya seorang pastor atau pendeta dalam agama Kristen Katolik. Beliau mengajarkan Alkitab (Injil) pada saya sejak saya masih kecil dengan harapan agar saya menjadi penerus cita-citanya di kemudian hari. Saya belajar Alkitab pasal demi pasal dan ayat demi ayat dengan seksama. Berkat bimbingannya, saya betul-betul memahami kandungan dan tafsiran Alkitab. Sejak saya berumur empat belas tahun, saya diberi kepercayaan berceramah di gereja pada setiap hari Minggu dan hari-hari keagamaan Kristen lainnya. Setelah saya banyak membaca Alkitab, banyak saya dapatkan kejanggalan-kejanggalan di dalamnya. Dalam Alkitab, antara pasal satu dan pasal lainnya banyak terjadi pertentangan, dan banyak ajaran gereja yang bertentangan dengan isi Alkitab.
Misalnya, Yohanes pasal 10 ayat 30, menerangkan bahwa Allah dan Yesus (Isa) bersatu, yaitu, “Aku dan Bapa adalah satu.” Sedangkan, pada Matius pasal 27 ayat 46 menjelaskan bahwa Yesus dan Allah berpisah, yaitu, “Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” ‘Artinya, “Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”
Dalam ajaran gereja, seorang bayi yang lahir akan membawa dosa warisan dari Nabi Adam dan 1bu Hawa. Juga, bayi yang mati sebelum dibaptis tidak akan masuk surga. Ajaran ini bertentangan dengan Alkitab Yehezkiel pasal 18 ayat 20 dan Matius pasal 19 ayat 14 menerangkan bahwa manusia hanya menanggung dosanya sendiri, tidak menanggung dosa orang lain. Bayi yang meninggal sebelum dibaptis akan masuk surga, karena anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang yang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan orang yang fasik akan menanggung akibat kefasikannya.
Sementara, pada Matius 19 ayat 14 Yesus berkata, “Biarlah anak-anak itu, jangan menghalang-halangi mereka datang padaku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang mempunyai Kerajaan Surga.”
Dengan semua itu saya merasa bimbang. Injil mana yang harus saya ikuti, sedangkan semuanya kitab suci? Dan apakah ajaran gereja yang harus saya ikuti, sedangkan ajarannya bertentangan dengan Alkitab ?
Saya ragu dengan keautentikan Alkitab, karena kalau Injil yang ada sekarang ini asli, tidak mungkin satu sama lain saling bertentangan. Saya juga ragu dengan kebenaran ajaran gereja karena kalau ajaran gereja itu benar, tidak mungkin bertentangan dengan kitab sucinya.
Karena mendapatkan kejanggalan dalam Alkitab dan pertentangan ajaran gereja dengan kitab sucinya, saya menjadi enggan membaca Injil dan buku buku agama (Kristen), karena saya yakin tidak akan mendapat kebenaran dalam Kristen.
Mendengar Bacaan Al-Qur’an
Pada suatu hari saya berjalan di dekat masjid. Tiba-tiba saya gemetar dan tidak bisa berjalan disebabkan mendengar suara dari dalam masjid. Setelah saya pulang ke rumah, saya bertanya pada teman-teman tentang suara yang saya dengar itu. Tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang tahu tentang suara itu.
Setelah keesokan harinya saya bertanya pada teman sekolah yang beragama Islam, dia menjelaskanbahwa “suara” yang saya dengar di dalam masjid adalah suara orang membaca A1-Qur’an. Kemudian saya bertanya, “Apa sih, Al-Qur’an itu?” Dia menjawab, “Al-Quran itu kitab suci umat Islam.” Kemudian saya meminta Al-Qur’an padanya. Tetapi dia tidak memberikan dengan alasan saya tidak punya wudhu.
Setelah saya pulang dari sekolah, saya langsung mencari orang yang beragama Islam untuk meminjam A1-Qur’an. Akhirnya saya berjumpa dengan orang Islam yang bernama Abdullah. Ia keturunan Arab. Lalu saya pinjam Al-Qur’an padanya dan saya jelaskan padanya bahwa saya beragama Katolik dan ingin mempelajari Al-Qur’an. Dengan senang hati ia meminjamkan saya terjemahan Al-Qur’an dan riwayat hidup Nabi Muhammad saw..
Saya baca Al-Qur’an ayat demi ayat dan surat demi surat. Saya pahami kalimat demi kalimat dengan seksama. Akhirnya saya berkesimpulan, hanya Al-Qur’anlah satu-satunya kitab suci yang asli dan hanya Islamlah satu-satunya agama yang benar.
Al-Qur’an membahas persoalan ketuhanan dengan tuntas, bahasanya mudah dipaharni, dan argumentasinya rasional. Di samping itu, Al-Qur’an juga membahas tentang Nabi Isa (Yesus) sejak sebelum dikandung, dalamn kandungan, waktu dilahirkan, masa kanak-kanak dan remaja, mukjizatnya, dan kedudukannya sebagai Rasul Allah, bukan anak Allah.
Sejak mendapatkan kebenaran Islam, saya mempunyai keinginan yang kuat untuk memeluk agama Islam. Singkat cerita, kemudian saya datang menjumpai Abdullah dan saga jelaskan keinginan saga padanya.
la menyambut hasrat saya itu dengan hati ikhlas, dan ia membimbing saya membaca dua kalimat syahadat. Setelah menjadi seorang muslim, nama saya diganti menjadi Dzulfikri. Kemudian saya belajar pada Abdullah tentang hal-hal yang diwajibkan dan yang dilarang dalam Islam.
Setelah itu saya mondok di sebuah pesantren. Di situ saya belajar agama selama satu tahun. Kemudian saya pindah ke kota Malang, Jawa Timur. Di kota ini saya terus menuntut ilmu agama sambil kuliah.
Oleh A. Wadud N./Albaz – dari Buku “Saya memilih Islam” Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press,

Menikmati Menjadi Muslim

Suatu hari ketika Idris Tawfiq sedang memberikan kuliah di Konsulat Inggris di Kairo, ia menyatakan dengan jelas bahwa dirinya tidak menyesali masa lalunya; tentang hal-hal yang dilakukannya sebagai seorang penganut ajaran Kristiani dan kehidupannya di Vatikan selama lima tahun.
“Saya menikmati saat menjadi pendeta, menolong orang selama beberapa tahun. Namun jauh di dalam hati saya tidak bahagia, saya merasa ada sesuatu yang salah. Untungnya, dengan izin Allah, beberapa peristiwa dan kebetulan terjadi dalam hidup yang membawa saya kepada Islam,” katanya kepada para hadirin yang memenuhi ruang pertemuan di Konsulat Inggris.
Tawfiq kemudian memutuskan berheni menjadi pendeta di Vatikan. Ia lalu melakukan petualangan ke Mesir.
“Saya dulu mengira Mesir itu sebuah negeri yang banyak piramidnya, unta, pasir, dan pohon palem. Saya menyewa pesawat untuk pergi ke Hurghada.”
“Terkejut karena keadaan di sana sama seperti pantai-pantai  Eropa, saya lantas segera mencari bis menuju ke Kairo, di mana saya mendapatkan pengalaman yang mengesankan seumur hidup”
“Itu pertama kali saya berkenalan dengan Muslim dan Islam. Saya memperhatikan orang Mesir begitu ramah, baik, tapi juga sangat kuat.”
“Seperti halnya semua orang Inggris, pengetahuan saya tentang Muslim hingga saat  itu tidak melebihi dari apa yang saya dengar di TV tentang bom bunuh diri dan pasukan perlawanan, yang memberikan kesan bahwa Islam adalah agama yang sering membuat masalah. Namun, ketika mengunjungi Kairo, saya menemukan betapa indahnya agama Islam ini. Orang-orang yang sangat sederhana yang berjualan di pinggir jalan, akan segera meninggalkan dagangan mereka begitu mendengar suara panggilan untuk shalat. Mereka memiliki keyakinan yang kuat terhadap keberadaan dan takdir Allah. Mereka puasa, shalat, membantu orang miskin, dan bercita-cita untuk pergi ke Makkah dengan harapan bisa mendapatkan surga di akhirat nanti,” cerita Tawfiq tentang pengalamannya di Mesir.
Tawfiq melanjutkan dengan cerita sekembalinya dari Kairo.
“Ketika saya kembali dari sana, saya melanjutkan pekerjaan sebagai guru agama. Mata pelajaran yang wajib dalam pendidikan di Inggris hanyalah kajian tentang agama. Saya mengajarkan tentang agama Kristen, Yahudi, Budha, dan lainnnya. Sehingga setiap hari saya harus selalu membaca tentang agama-agama itu, agar bisa menyampaikan pelajaran kepada murid-murid, yang kebanyakan adalah pengungsi Muslim. Dengan kata lain, memberikan mata pelajaran tentang Islam, mengajarkan saya banyak hal.”
Anak-anak muridnya secara tidak langsung lebih mengenalkan dirinya dengan kehidupan Muslim.
“Tidak seperti kebanyakan remaja yang membuat ulah, murid-murid itu merupakan contoh yang baik seperti apa Muslim itu. Mereka sopan dan baik, sehingga persahabatan terbangun di antara kami, dan mereka meminta izin apakah dapat menggunakan ruang kelas saya untuk shalat selama bulan Ramadhan.”
“Beruntungnya, kelas saya adalah satu-satunya ruangan yang berkarpet. Jadilah saya terbiasa duduk di belakang, melihat mereka shalat selama satu bulan. Saya mencoba menyemangati dengan ikut berpuasa selama bulan Ramadhan bersama mereka, meskipun ketika itu saya belum menjadi seorang Muslim.”
“Satu hari ketika saya membaca terjemahan Al-Qur’an di dalam kelas, saya sampai pada ayat: ‘Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur’an) itu yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) ….’. Tanpa saya sadari air mata pun mengalir. Saya berusaha keras untuk menyembunyikannya dari murid-murid.”
Kemudian terjadi peristiwa serangan 11 September 2001. Tawfiq pun mengalami titik balik dalam hidupnya.
“Pada hari berikutnya, saya terpuruk dan melihat bagaimana orang-orang merasa ketakutan. Saya juga takut hal yang sama terjadi di Inggris. Saat itu orang-orang Barat mulai menakuti agama ini dengan menyalahkannya sebagai teroris.”
“Bagaimanapun, pengalaman saya bergaul dengan Muslim memberikan pandangan yang lain. Saya mulai berpikir, ‘Mengapa Islam? Mengapa kita menyalahkan Islam sebagai agama atas tindakan teror yang kebetulan dilakukan oleh orang yang beragama Islam. Sementara tidak ada orang yang menyalahkan agama Kristen sebagai teroris ketika umat Kristen melakukan hal yang sama?”
“Satu hari saya pergi ke masjid terbesar di London untuk mendengarkan lebih banyak tentang agama ini. Sesampainya di Masjid London Central (ICC), di sana ada Yusuf Islam. Mantan penyanyi pop itu duduk dalam sebuah lingkaran, berbicara kepada orang-orang mengenai Islam. Setelah beberapa saat saya bertanya kepadanya, ‘Apa sebenarnya yang Anda lakukan jika ingin menjadi seorang Muslim?’”
“Ia menjawab bahwa seorang Muslim harus percaya kepada Tuhan yang Esa, shalat lima kali sehari, dan berpuasa di bulan Ramadhan.”
“Saya menyelanya dengan mengatakan bahwa saya percaya semua hal itu dan bahkan saya telah ikut berpuasa di bulan Ramadhan.”
“Lantas ia bertanya, ‘Apa yang Anda tunggu? Apa yang membuatmu tertahan?’”
“Saya bilang kepadanya, ‘Tidak, saya tidak bermaksud untuk pindah agama’”
“Saat itu terdengar panggilan untuk shalat dikumandangkan, semua orang lantas bergegas dan membentuk barisan untuk shalat.”
“Saya duduk di belakang, menangis dan menangis. Kemudian saya bertanya kepada diri saya sendiri, ‘Siapa yang coba saya bohongi?’”
“Setelah mereka selesai shalat, saya segera menghampiri Yususf Islam, memintanya untuk mengajarkan kalimat yang harus saya ucapkan untuk pindah agama.”
“Setelah ia jelaskan makna kalimat itu dalam bahasa Inggris kepada saya, kemudian saya mengucapkan dua kalimat syahadat dalam bahasa Arab, “Tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah,” cerita Tawfiq mengenai keislamannya, seraya berusaha menahan air matanya.
Sejak itu kehidupan Tawfiq berubah arah. Ia tinggal di Mesir dan menulis sebuah buku tentang dasar-dasar pemahaman tentang Islam.
Lewat bukunya Gardens of Delight: A Simple Introduction to Islam, ia ingin menjelaskan kepada dunia bahwa Islam bukanlah agama teror dan bukan agama yang berisi kebencian. Hal yang selama ini belum ada orang yang berusaha menjelaskannya.
“Maka saya putuskan untuk menulis buku itu, untuk menyampaikan kepada non-Muslim mengenai prinsip dasar Islam. Saya berusaha memberitahukan kepada orang, betapa indahnya Islam dan bahwa Islam memiliki harta kekayaan yang begitu mengagumkan. Bahwa hal terpenting menjadi seorang Muslim adalah saling mencintai. Nabi berkata, ‘Bahkan sebuah senyuman kepada saudaramu adalah sedekah.’”
Tawfiq juga menulis buku tentang Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam, yang menurutnya agak berbeda dengan buku-buku mengenai beliau pada umumnya.
Menurut Tawfiq, “cara terbaik dan tercepat” untuk mengenalkan wajah Islam yang sesungguhnya kepada dunia adalah dengan memberikan contoh yang baik dalam kehidupan nyata. [di/ri/www.hidayatullah.com]

Dari Pub Koktail ke Islam


Laura Pistorious adalah seorang wanita muda kulit putih Afrika Selatan, yang dulu mengelola sebuah pub koktail di Camps Bay, sebuah kota pantai di  pinggiran Cape Town.
“Saya memiliki kebiasaan menggunakan narkoba yang sangat parah dan saya mengira menjalani gaya hidup kelas atas,” cerita Laura kepada IslamOnline.
Dari luar ia kelihatannya gembira mengenakan pakaian rancangan desainer, menggunakan obat-obatan dan berpesta sepanjang waktu.
Tapi di dalam, Laura selalu merasa ada sesuatu yang tidak benar, rasanya ada sesuatu yang membakar.
Meskipun ia dibesarkan dalam keluarga Katolik yang taat, ia berhenti percaya pada Tuhan, sebagai akibat dari gaya hidupnya yang tinggi dan kecanduan narkoba.
“Saya mencapai satu titik dalam kehidupan, di mana saya tidak lagi mempercayai Tuhan.”
Kehidupan Laura seketika berubah setelah ia bertemu dengan seorang teman yang telah memeluk Islam.
“Setelah mendengarkan teman Muslim saya malam itu, saya banyak menangis dan berdoa.”
Laura mengatakan, setelah ia berdoa sekian lamanya, sebuah keajaiban terjadi dalam hidupnya.
Secara tiba-tiba ia mampu mengatasi kecanduan narkoba yang telah dideritanya selama empat tahun. Dan Laura mulai membaca lebih banyak tentang Islam.
Pada saat itu, ia belum berpikir untuk menjadi seorang Muslim.
Namun, pada September 2007 sebelum bulan Ramadhan, Laura akhirnya mengucapkan dua kalimat syahadat.
“Alhamdulillah, saya masuk Islam melalui teman, dan hidup saya berubah sama sekali.”
Lebih bahagia
Setelah memeluk Islam, Laura berhenti bekerja di pub koktail.
“Setelah menjadi seorang Muslim, saya mengetahui lebih banyak tentang Islam dan memperhatikan tempat saya bekerja. Saya bahkan berhenti tanpa ada penawaran kerja lainnya,” cerita Laura yang kini memakai hijab.
“Tapi saya percaya pada Allah.”
Orangtua Laura, terutama ayah, telah bisa menerima agama yang dipilihnya dan sering bertanya tentang Islam.
“Sejak saya memeluk Islam dan berhenti dari pekerjaan manajerial di pub, saya pulang ke rumah lebih awal. Orangtua saya senang karenanya,” cerita Laura.
“Saya berharap satu hari mereka juga akan memeluk Islam.”
Sebulan kemudian, Laura mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik. Tapi ia mengatakan kepada bosnya, seorang Kristen fundamentalis, dirinya mau mengambil pekerjaan itu asalkan diberi waktu istirahat untuk shalat.
Bosnya setuju
“Jika Anda melakukan hal-hal baik untuk alasan yang tepat, Allah akan memberkatimu,” begitu keyakinan Laura, yang menjadi pembawa acara bincang-bincang di sebuah radio di Cape Town.
“Sekarang saya memiliki hubungan yang baik dengan keluarga, teman dan alhamdulillah saya menjalani hidup yang lebih sehat, karena Islam.”[di/iol/www.hidayatullah.com]

Gadis Islandia itu Temukan Islam di Amerika

Kisah perjalanan menuju Islam gadis asal Islandia ini cukup menarik. Betapa tidak, seperti pengakuannya, di negaranya Islam hampir tak ada gema, saking minoritasnya. Dia sedikit tahu Islam justru ketika melakukan kontak dengan temannya, juga dari Islandia, yang sedang ikut pertukaran pelajar di Indonesia. Lalu, satu ketika, dia dapat beasiswa untuk belajar di AS. Dalam rombongannya ada seorang mahasiswa asal Mesir. Dari pemuda Mesir inilah dia mulai tahu Islam lebih jauh. Alhasil, di Amerika dia lebih banyak mencari tahu Islam hingga akhirnya bersyahadah melalui fasilitas chating di internet. Aminah, begitu namanya selepas memeluk Islam, menceritakan kisah uniknya.
00O00
“Nama saya Aminah dan memeluk Islam pada 31 Januari 1999 di usia 23 tahun. ?Saya sendiri lahir di Islandia pada tahun 1976. Keluarga besar saya semuanya anggota jamaah gereja Protestan. Saya sendiri termasuk di dalamnya dan aktif di sekolah minggu. Begitupun, kendati agama senantiasa hadir dalam keseharian namun hal itu tak banyak berperan banyak dalam perjalanan hidup saya,” tutur Aminah di awal kisahnya.
Lingkungan gereja
Sejak kecil memang dia sudah hidup dalam lingkungan agamis. Misalnya, di sekolah tempat Aminah belajar, rutin diadakan program kemah musim panas yang dikoordinir oleh sebuah organisasi berafiliasi agama Kristen. Lalu, nenek Aminah juga sering menemani sebelum tidur. Bahkan sang nenek juga mengajarkan doa tertentu di kala hendak tidur.? Namun, seperti diakui Aminah, keluarganya tidaklah begitu sering ke gereja dan agama juga tidak tampak berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari keluarga mereka.
“Oya di Islandia ada tradisi gereja bagi remaja yang beranjak dewasa, yakni di usia 14 tahun mereka ?musti dibaptis. Nah ketika itu saya dihadapkan pada satu kondisi, apa saya juga musti dibaptis atau tidak? ?Apa saya sudah cukup dewasa dan sudah pantas dibaptis? Waktu itu, saya sangat yakin adanya tuhan. Bahkan boleh dibilang tingkat keyakinan saya ini melebihi orang-orang lain. Jadi sudah pantas untuk dibaptis. Saya merasa, jika tidak melakukan itu maka sama saja tidak percaya adanya tuhan. Buat saya yang aktif ke gereja tentu hal ini sangat tragis,” tutur Aminah yang akhirnya memilih dibaptis oleh gereja.
Beberapa hari sebelum acara baptis, semua anak diwajibkan mengikuti kelas khusus berisi petunjuk-petunjuk dari pendeta. Demikian juga dengan kunjungan ke gereja juga tak boleh bolong-bolong. Intinya, sebelum dibaptis hati musti “dibersihkan” terlebih dahulu. “Begitulah tradisi yang? saya maksud itu,” imbuh dia.
Mulai tinggalkan gereja
Selepas dibaptis, Aminah rupanya masih tetap aktif hadir di kelas khusus itu. Namun tak berlangsung lama hingga dia memutuskan untuk berhenti ke gereja. “Mungkin ini bukan keputusan yang benar saat itu. Tapi jujur saja, selama ke gereja saya tak mendapat apa-apa. Tak ada perubahan sama sekali dalam jiwa saya,” aku Aminah lagi.
Alhasil, di tahun berikutnya Aminah makin tak bergairah lagi ke gereja dan perlahan agama pun mulai terkikis dari dirinya. “Saya memang sering berdoa pada tuhan, tapi tak pernah menemukan ketenangan jiwa. Saya percaya akan keberadaan tuhan. Tapi apakah itu sudah cukup?,” kata dia.
“Di Islandia Islam tidak begitu dikenal. Sangat minoritas. Karena itu saya tidak mengikuti perkembangannya. Di sekolah, kami tak pernah diberitahu tentang agama lain. Yang kami tahu cuma Kristen saja. Hanya ada sedikit informasi tentang agama Yahudi. Hingga beranjak dewasa, saya masih belum banyak memperoleh info tentang Islam. Yang? saya tahu kala itu Islam identik dengan Muhammadism atau ajaran Muhammad. Tapi apa itu Islam saya tidak tahu,” ungkap Aminah.
Kontak dengan rekan di Indonesia
Aminah, seperti orang-orang di Barat lainnya, hanya mendapatkan info Islam melalui media, Koran atau majalah saja. “Tentu saja secara umum tidak cukup untuk menggambarkan Islam yang sebenarnya. Kesan negatif akan Islam yang paling mencuat. Untungnya saya tidak sampai membenci Islam karena berita-berita miring itu,” tukas dia.
Rupanya kontak rutin dengan salah seorang rekannya, juga dari Islandia, yang sedang ikut program pertukaran pelajar di Indonesia sangat membantu Aminah dalam memahami Islam. “Waktu itu saya ada di Venezuela ikut pertukaran pelajar. Nah seorang sejawat saya ikut program yang sama dan dikirim ke Indonesia. Dari dialah saya dapat banyak info Islam di Indonesia. Ketika teman ini pulang ke Islandia, dia cerita hal-hal menarik dan positif dari Islam itu. Tentu saja apa yang diceritakan kawanku itu sangat berbeda dengan yang diberitakan di media,” lanjutnya.
Kenal pemuda Mesir
Aminah mengaku tidak tahu kapan pertamakali dia bersentuhan dengan Islam. Suatu ketika di musim gugur tahun 1997 dia berangkat ke Georgia, AS untuk mengikuti program beasiswa Rotary selama satu tahun. “Nah dalam rombongan universitas kami ada seorang mahasiswa asal Mesir? yang juga ikut program beasiswa ini. Melalui hubungan persahabatan dengan pemuda Mesir itu pula saya mulai tahu Islam. Dia sering bercerita banyak tentang Islam. Tak hanya itu, kuamati dia sering mempraktekkan apa yang dia katakan. Misalnya shalat,” ungkap Aminah tentang perkenalan pertamanya dengan Islam.
Perlahan Aminah pun mulai tertarik dengan Islam. Dia sering terlibat dalam diskusi dengan mahasiswa Mesir dan bahkan sering adu argumentasi. Merasa belum puas, atas inisiatif sendiri, Aminah mencari lebih lanjut perihal Islam. “Internet sangat membantu dalam mencari tahu apa itu Islam. Juga buku-buku Islam, termasuk di dalamnya Alquran,” aku dia. Situs www.BeConvinced.com adalah salah satu situs yang sempat jadi panduannya belajar Islam.
Upaya Aminah untuk mengenal Islam lebih dalam makin membuncah tatkala dia mudik ke Islandia di musim panas 1997. Namun Amerika sangat berkesan baginya. Hingga, atas inisiatif sendiri, dia kembali lagi ke AS guna meneruskan studinya di sana. “Selama di AS, dalam jangka waktu yang lumayan lama, satu-satunya orang yang sering saya ajak diskusi, bertanya dan berdebat Islam adalah bekas teman satu rombongan dulu yakni pemuda Mesir itu,” lanjutnya.
Belajar Islam di internet
“Selanjutnya saya banyak dapat teman chating lewat internet. Melalui media online itu pula saya menemukan sebuah nuansa keakraban yang tiada tara. Kami saling tukar pengalaman, diskusi dan mereka, teman-teman muslim itu, sangat banyak membantu aku dalam memahami Islam,”aku Aminah.
Kala pertamakali Aminah melakukan upaya pencarian apa itu Islam, dia mengaku sangat terpesona dan menemukan banyak hal-hal yang luar biasa tentang Islam yang tidak diketahui sebelumnya. “Entah kenapa waktu itu saya jadi begitu bergairah dan sulit untuk dibendung. Rasa ingin tahu semakin tinggi. Makin saya baca sesuatu hal tentang Islam semakin menarik, lalu ingin membaca lagi, lagi dan lagi. Akan tetapi untuk jangka waktu yang lama ada begitu banyak hal yang belum saya pahami. Butuh yang cukup lama untuk bisa mengerti hal-hal pelik tersebut,” aku Aminah.
“Jujur saja, pada periode awal saya mencoba segala cara untuk menemukan hal-hal negatif dalam Islam. Saya katakan pada diri sendiri “kamu tidak mungkin jadi seorang muslim.” Dalam masa-masa pencarian itu saya merasa kagok dan bingung. Saya pikir, ah lebih baik hidup saja seperti yang sedang saya jalani sebelumnya, daripada menerima kbenaran dan berbagai perubahan dalam gaya hidup. Mungkin inilah saat-saat yang paling berat dalam fase pencarian kebenaran Islam saya,” tandas Aminah.
Seperti diakui Aminah, adakalanya dia merasa Islam adalah agama yang benar dan dia benar-benar ingin dekat dengan Tuhan. Dan ingin jadi muslim segera. Tapi di lain waktu, seakan ada bisikan lain, saya menemukan berbagai hal negatif dalam Islam. “Seakan-akan ada satu malaikat di telinga kanan yang mengatakan kebenaran, lalu ada syeitan di telinga kiri yang mencegahku menuju Islam,” ungkap dia.
“Namun akhirnya saya meluruskan hati kembali dan berhenti mendengar suara “syeitan kecil” itu dan melihat cahaya kebenaran dalam Islam. Saya ingin dekat dengan Tuhan dan menjalani kehidupan sebagai seorang muslim,” lanjutnya lagi.
Bersyahadah lewat chating
Segera setelah keputusan itu dibuat, persis tengah malam, Aminah mengontak teman chatingnya untuk melakukan kontak online via internet. Waktu itu dia hendak menyatakan kesiapannya masuk Islam dan ingin mengucapkan kalimah syahadah.
“Waktu lagi chating saya sebutkan rencana untuk melakukan prosesi syahadah di pengajian muslimah esok pagi. Tapi entah bagaimana, mendadak saya berubah pikiran. Kenapa harus menunggu besok? Apa tidak mungkin syahadah secara online saja, begitu pikir saya. Lalu saya putuskan untuk bersyahadah saat itu juga. Segera saya cari seorang muslimah lain untuk ikut chating. Nah melalui fasilitas chatroom akhirnya saya pun “mengucapkan” syahadah lewat internet,” kisah Aminah tentang prosesi syahadahnya.
Latifah, salah satu muslimah yang ikut chating, menyela sebab Aminah melakukan syahadah dengan mengetik kedua kalimah syahadah di halaman chating.
“Saya salah satu saksi syahadahmu, tolong prosesi syahadah diulang. Kamu harus mengucapkan dengan lisan kamu dan bukannya dengan cara mengetik seperti ini,” seru Latifah. Begitulah, akhirnya di tengah malam buta itu Aminah pun bersyahadah dengan lisannya hingga bisa didengar oleh kedua rekan chatingnya via earphone. Subhanallah, internet telah membantu seorang muslimah untuk mendapat hidayah Allah dan akhirnya memeluk Islam.
“Selama jadi muslim, saya melewati banyak masa-masa manis disamping ada juga waktu-waktu sulit sebagai muallaf baru. Saya masih perlu belajar lebih keras lagi untuk mendalami Islam dan menjadi seorang muslim yang baik dan taat. Pada saat yang sama saya pun harus menjaga hubungan baik dengan keluarga dan teman-teman saya. Kendati mereka menaruh kesan negatif pada Islam saya tetap melakukan kontak dengan mereka. Saya yakin telah membuat keputusan yang benar dalam hidup ini. Terima kasih ya Allah telah Engkau tuntun saya menuju jalan kebenaran,” tutup Aminah seraya berharap keluarga dan teman-temannya segera mendapat hidayah-Nya. Amiin. [Zulkarnain Jalil/www.hidayatullah.com]