Rabu, 07 September 2011

SIFAT-SIFAT TUHAN


ALI WAFI
Perbedaan antar aliran kalam tentang sifat-sifat Allah tidak terbatas pada persoalan apakah Allah memiliki sifat atau tidak, tetapi jug pada pada persoalan-persoalan cabang sifat-sifat Allah, seperti antropomorphisme melihat Tuhan dan esensi Al-Qur’an.

1.      Aliran Mu'tazilah
Kaum Mu'tazilah mencoba menyelesaikan persoalan ini dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat. Definisi mereka tentang Tuhan, sebagaimana telah dijelaskan oleh Asy'ari, bersifat negatif. Tuhan tidak mempunyai pengetahuan, kekuasaan, hajat, dan sebagainya. Ini tidak berarti bahwa Tuhan bagi mereka tidak mengetahui, tidak berkuasa, tidak hidup, dan sebagainya. Tuhan bagi mereka tetap mengetahui, berkuasa, dan sebagainya, tetapi bukan dengan sifat dalam arti kata sebenarnya. Artinya, "Tuhan mengetahui dengan pengetahuan dan pengetahuan itu adalah Tuhan sendiri. Dengan demikian, pengetahuan Tuhan sebagaimana dijelaskan Abu Al-Huzail, adalah Tuhan sendiri, yaitu dzat atau esensi Tuhan.[1]
ان البارى تعالى عالم بعلم وعلمه ذاته قادر بقدرة وقدرته ذاته حي بحياته ذاته
Artinya: Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dengan pengetahuan, Maha Kuasa dengan kekuasaan, Maha Hidup dengan kehidupan, dan pengetahuan, kekuasaan dan kehidupan-Nya itu adalah dzat-Nya sendiri.
Menurut pandangan tokoh Mu’tazilah diantaranya An-Nazhzham dan Abu Hudzail. An-Nazhzham menafikan pengetahuan, kekuasaan, pendengaran, penglihatan, dan sifat-sifat dzat Allah yang lain. Allah dalam pendapatnya, senantiasa tahu, hidup, kuasa, mendengar, melihat, dan qadim dengan diri-Nya sendiri, bukan dengan pengetahuan, kekuasaan, perikehidupan, pendengaran, penglihatan, dan keqadiman. Demikian pula, sifat-sifat Allah yang lain.
An-Nazhzham mengatakan bahwa jika ditetapkan bahwa Allah itu adalah dzat yang tahu, berkuasa, hidup, mendengar, melihat, dan qadim yang ditetapkan sebenamya adalah dzat-Nya (bukan sifat-Nya). Dinafikan pula dari-Nya kebodohan, kelemahan. kematian, tuli, dan buta. Demikian pula sifat-sifat Allah yang lain.
Sementara itu, dalam pandangan Abu Hudzail, esensi pengetahuan Allah  adalah Allah sendiri. Demikian pula kekuasaan, pendengaran, penglihatan dan kebijaksanaan dan sifat-Nya yang lain. Ia berkata “kalau aku nayatakan Allah bersifat tahu, artinya akupun menyatakan bahwa pada-Nya terdapat pengetahuan, dan pengetahuan itu adalah dzat-Nya sendiri. Dengan begitu aku tegas-tegas menolak anggapan bahwa Allah itu bodoh terhadap sesuatu yang sudah atau akan terjadi.            
Kalau kunyatakan bahwa Allah bersifat kuasa itu artinya akupun menyatakan bahwa pada-Nya terdapat kekuasaan,       dan kekuasaan itu adalah dzat-Nya sendiri. Dengan demikian aku tegas-tegas menolak anggapan bahwa Allah itu lemah terhadap sesuatu yang sudah atau akan terjadi. Demikian pula kata Abu Huzhail sifat-sifat dzat Allah yang lain.
Atas jawaban Abu Huzhail yang kontradiktif ini, lawan-lawannya sering mengibaratkan Abu Huzhail tentang persoalan ini dengan ungkapan:
إن علم الله لا يقال هو الله ولا يقال عيره
Artinya: Sesungguhnya pengetahuan Allah bukanlah Allah sendiri, tetapi bukan yang lain.
Sungguhpun terdapat perbedaan faham antara pemuka-pemuka Mu’tazilah, mereka sepakat mengatakan bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat.
Mu’tazilah menafsirkan ayat-ayat yang memberikan kesan bahwa Tuhan bersifat jasmani secara metamorfosis. Dengan kata lain memberikan ta’wil yang layak bagi kebesaran dan keagungan Allah. Misalnya kata “istiwa” ddalam surat Thaha ayat 5 ditakwilkan dengan menguasai dan mengalahkan, kata “aini” dalam surat Thaha ayat 39 ditakwilkan dengan ilmi (pengetahuanku), kata “wajhah” dalam surat Al-Qashash ayat 88 ditakwilkan dengan dzat-Nya, kata “yad” dalam surat Shad ayat 75 ditakwilkan dengan al-quwah (kekuatan).
Selanjmutnya Mu’tazilah berpendapat bahwa Tuhan, karena bersifat immateri, tidak dapat dilihat dengan mata kepala karena pertama, Tuhan tidak mengambil tempat schingga tidak dapat dilihat dan kedua, bila Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala, itu berarti Tuhan dapat dilihat sekarang di dunia ini, sedangkan kenyataannya tidak seorang pun yang dapat melihat Tuhan di alam ini. Ayat-ayat Al-Qur’an yang dijadikan sandaran dalam mendukung pendapat di atas adalah QS. Al-An'am ayat 103 dan QS. Al-Qiyamah ayat 22-23 sebagai berikut:
žw çmà2Íôè? ã»|Áö/F{$# uqèdur à8Íôムt»|Áö/F{$# ( uqèdur ß#Ïܯ=9$# çŽÎ6sƒø:$# ÇÊÉÌÈ   
Artinya: Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha mengetahui (QS. Al-An'am ayat 103). Aliran Mu’tazilah memahami ayat ini sebagai penjelasan bahwa Tuhan tidak dapat dilihat dengan mata kepala kapan saja, lafadz nafy yang terdapat dalam ayat  tersebut ditujukan pada waktu dan tempat tertentu baik dunia maupun di akhirat.
×nqã_ãr 7Í´tBöqtƒ îouŽÅÑ$¯R ÇËËÈ   4n<Î) $pkÍh5u ×otÏß$tR ÇËÌÈ  
Artinya: Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat (QS. Al-Qiyamah ayat 22-23). Ayat ini dipahami oleh Mu’tazilah bukan berarti memandang wajah Tuhan, tetapi menunggu-nunggu balasan pahala yang akan diberikan oleh Tuhan.
Mengenai hakikat Al-Qur’an aliran Mu’tazilah berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk sehingga tidak kekal. Mereka berargumen bahwa Al-Qur’an itu sendiri tersusun dari kata-kata dan kata-kata itu sendiri tersusun dari huruf-huruf. Demikian pula surat dan ayat ada yang terdahulu dan ada yang datang kemudian tidaklah dapat dikatakan qadim. Ayat-ayat AI-Qur’an yang dipergunakan oleh Mu’tazilah sebagai dalil bagi pendapat di atas adalah surat Al-Anbiya ayat 2, surat Al-Hijr ayat 9 dan surat Az-Zumar ayat 23 sebagai berikut:
$tB NÎgŠÏ?ù'tƒ `ÏiB 9ò2ÏŒ `ÏiB NÎgÎn/§ B^yøtC žwÎ) çnqãèyJtGó$# öNèdur tbqç7yèù=tƒ ÇËÈ  
Artinya: Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Quran pun yang baru (di-turunkan) dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main (QS. Al-Anbiya ayat 2). Qadi Abd Al-Jabbar mengatakan bahwa firman Allah di atas menunjukkan bahwa Al-Qur’an (Az-Zikr) disifati dengan baru.
$¯RÎ) ß`øtwU $uZø9¨tR tø.Ïe%!$# $¯RÎ)ur ¼çms9 tbqÝàÏÿ»ptm: ÇÒÈ  
Artinya: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (QS. Al-Hijr ayat 9). Qadi Abd Al-Jabbar mengatakan bahwa Al-Qur’an itu baru karena sesuatu yang qadim tentulah tidak memerlukan pemeliharaan.
!9# 4 ë=»tGÏ. ôMyJÅ3ômé& ¼çmçG»tƒ#uä §NèO ôMn=Å_Áèù `ÏB ÷bà$©! AOŠÅ3ym AŽÎ7yz ÇÊÈ  
Artinya: Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatNya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha tahu (Az-Zumar ayat 23). Qadi Abd Al-Jabbar mengatakan bahwa Al-Qur’an itu bukan qadim, sebab yang qadim tidak tersusun dan terkumpul menjadi satu.

2.      Aliran Asy'ariyah
Pendapat kaum Asy'ariyah berlawanan dengan faham Mu'tazilah, mereka dengan tegas mengatakan bahwa Tuhan mempunyai sifat. Menurut Al-Asy'ari tidak dapat diingkari bahwa Tuhai mempunyai sifat karena perbuatan-perbuatannya. la juga menyatakan bahwa Tuhan mengetahui, menghendaki, berkuasa, dan sebagainya di samping mempunyai pengetahuan, kemauan, dan daya.
la lebih jauh berpendapat bahwa Allah memang memiliki sifat-sifat (bertentangan dengan mu’tazilah) dan bahwa sifat-sifat itu, seperti mempunyai tangan dan kaki, tapi tidak boleh diartikan secara harfiah melainkan secara simbolis. Selanjutnya, Al-Asy'ari berpendapat bahwa sifat-sifat Allah itu unik karenanya tidak dapat dibandingkan dengan sifat -sifat manusia. Sifat-sifat Allah berbeda dengan allah sendiri, tetapi sejauh menyangkut realitasnya (haqiqah) tidak terpisah dari esensi-Nya.
Asy'ariyah menjelaskan bahwa sesuatu yang dapat dilihat adalah sesuatu yang mempunyai wujud, karena Tuhan mempunyai wujud maka ia dapat dilihat.lebih jauh dikatakan bahwa Tuhan melihat apa yang ada, dengan demikian Allah melihat diri-Nya, bila Tuhan bisa melihat diri-Nya tentulah ia sendiri dapat membuat manusia mempunyai kemampuan melihat diri-Nya sendiri. Adapun al- Qur’an yang dijadiakan sandaran Asy’ari untuk menopang pendapatnya adalah QS. Al-Qiyamah ayat 22-23, QS. Al-A’raf ayat 143 dan QS. Yunus ayat 26 sebagai berikut:
×nqã_ãr 7Í´tBöqtƒ îouŽÅÑ$¯R ÇËËÈ   4n<Î) $pkÍh5u ×otÏß$tR ÇËÌÈ  
Artinya: Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat (QS. Al-Qiyamah ayat 22-23). Ayat ini dipahami oleh Asy’ariyah melihat dengan mata kepala.
$£Js9ur uä!%y` 4ÓyqãB $uZÏF»s)ŠÏJÏ9 ¼çmyJ¯=x.ur ¼çmš/u tA$s% Éb>u þÎTÍr& öÝàRr& šøs9Î) 4 tA$s% `s9 ÓÍ_1ts? Ç`Å3»s9ur öÝàR$# n<Î) È@t6yfø9$# ÈbÎ*sù §s)tGó$# ¼çmtR$x6tB t$öq|¡sù ÓÍ_1ts? 4 $£Jn=sù 4©?pgrB ¼çmš/u È@t7yfù=Ï9 ¼ã&s#yèy_ $y2yŠ §yzur 4ÓyqãB $Z)Ïè|¹ 4 !$£Jn=sù s-$sùr& tA$s% šoY»ysö6ß àMö6è? šøs9Î) O$tRr&ur ãA¨rr& tûüÏZÏB÷sßJø9$# ÇÊÍÌÈ  
Artinya: Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, Maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". tatkala Tuhannya Menampakkan diri kepada gunung itu[565], dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, Dia berkata: "Maha suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman" (QS. Al-A’raf ayat 143). Ayat ini ditafsirkan bahwa meminta sesuatu yang mustahil. Bila pemahaman yang dianut, bebrarti telah merusak sifat kenabian Musa. Oleh sebab itu, melihat Tuhan bukanlah mustahil, tapi seeuatu yang mengandung kemungkinan. Dan bila ayat ini menyangkut kemampuan melihat kepada gunung yang tidak hancur adalah Tuhan, berarti sebenarnya Tuhamn dapat dilihat oleh Nabi Musa. as.
Selanjutnya Asy’ariyah berpendapat bahwa Al-Qur’an itu adalah kekal tidak diciptakan. Ia berpegang teguh pada pernyataan bahwa Al-Qur’an itu bukan makhluk sebab segala sesuatu tercipta, setelah Allah berfirman Kun (jadilah), maka segala sesuatu pun terjadi. Penjelasan ini mengisyaratkan bahwa AI-Qur’an dalam faham mereka bukanlah yang tersusun dari huruf dan suara, tetapi yang terdapat di balik yang tersusun dari suara itu. Ayat-ayat Al-Qur’an yang dijadikan dalil oleh Asy'ari untuk menopang pendapatnya adalah surat Ar-Rum ayat 25, surat Al A'raf ayat 54, surat Yashin ayat 82, surat Al-Kahfi ayat 109 dan surat Al-Mukmin ayat 16.

3.      Aliran Maturidiyah
Berkaitan dengan masalah sifat Tuhan, dapat ditemukan persamaan pemikiran antara Al-Maturidi dan Al-Asy'ari, seperti dalam pendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat seperti sama’, bashar, dan sebagainya. Walaupun begitu, pengertian Al-Maturidi tentang sifat Tuhan berbeda dengan Al-Asy'ari. Al-Asy'ari mengartikan sifat Tuhan sebagai sesuatu yang bukan dzat, melainkan melekat pada dzat itu sendiri, sedangkan menurut Al-Maturidi, sifat tidak dikatakan sebagai esensi­Nya dan bukan pula dari esensi-Nya. Sifat-sifat Tuhan itu mulazamah (ada bersama, baca: inheren) dzat tanpa terpisah (innaha lam taken ain al dzat wa la hiya ghairuhu). Menetapkan sifat bagi Allah tidak harus membawa kepada pengertian anthropomorphisme, karena sifat tidak berwujud yang tersendiri dari dzat, sehingga berbilang sifat tidak akan membawa pada berbilangnya yang qadim (taaddud al-qudama).[2]
Tampaknya faham Al-Maturidi tentang makna sifat Tuhan cenderung mendekati faham Mu’tazilah. Perbedaannya Al-Maturidi mengakui adanya sifat-sifat Tuhan, sedangkan Mu’tazilah menolak adanya sifat­sifat Tuhan.

Sementara itu, Maturidiyah Bukhara yang juga mempertahankan kekuasaan mutlak Tuhan, berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat­-sifat. Persoalan banyak yang kekal mereka selesaikan dengan mengatakan bahwa sifat-sifat Tuhan kekal melalui kekekalan yang terdapat dalam esensi Tuhan dan bukan melalui kekekalan sifat-sifat itu sendiri; juga dengan mengatakan bahwa Tuhan bersama-sama sifat-Nya adalah kekal, tetapi sifat-sifat itu sendiri tidaklah kekal.[3]
Aliran Maturidiyah Bukhara berbeda dengan Asy'ariyah. Sebagaimana aliran lain, Maturidiyah Bukhara juga berpendapat Tuhan tidaklah mempunyai sifat-sifat jasmani. Ayat-ayat Al-Qur’an yang menggambarkan Tuhan mempunyai sifat-sifat jasmani haruslali diberi takwil.
Maturidiyah Samarkand sependapat dengan Mu'tazilah dalam menghadapi ayat-ayat yang memberi gambaran Tuhan bersifat dengan menohadapi jasmani ini. Al-Muturidi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tangan, muka, mata, dan kaki adalah kekuasaan Tuhan.[4]
Maturidiyah Bukhara juga sependapat dengan As'ariyah dan Maturidi Samarkand bahwa Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala. Al-Bazdawi mengatakan bahwa Tuhan kelak memperlihatkan diri-Nya untuk kita lihat dengan mata kepala, menurut apa yang la kehendaki.
Maturidiyah Samarkand mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah yang bersifat kekal dari Tuhan, sifat yang berhubungan dengan dzat Tuhan dan juga qadim. Kalamullah tidak tersusun dari huruf dan kalimat sebab huruf dan kalimat itu diciptakan.

4.      Aliran Syi'ah Rafidhah
Sebagian besar tokoh Syi'ah Rafidhah menolak bahwa Allah senantiasa bersifat tahu. Pendapat ini lebih keras dari pada pendapat Al-­Fuwaithi. Mereka menilai bahwa pengetahuan itu bersifat baru, tidak qadim. Sebagian besar dari mereka berpendapat bahwa Allah tidak tahu terhadap sesuatu sebelum kemunculannya.
Sebagian dari mereka berpendapat bahwa Allah tidak bersifat tabu terhadap sesuatu sebelum la menghendakinya. Tatkala Ia menghendaki sesuatu, la pun bersifat tahu. Jika Dia tidak menghendaki, Dia tidak bersifat tahu. Makna Allah berkehendak menurut mereka adalah bahwa Allah mengeluarkan gerakan (taharraka harkah). Ketika gerakan itu muncul, Ia bersifat tahu terhadap sesuatu itu. Mereka berpendapat pula bahwa Allah tidak bersifat tahu terhadap sesuatu yang tidak ada.
Sebagian dari mereka berpendapat bahwa Allah tidak bersifat tahu terhadap sesuatu sebelum la berkehendak terhadapnya. Tatkala Ia berkehendak agar sesuatu itu ada, Ia pun tahu bahwa sesuatu itu ada. Tatkala Ia berkehendak agar sesuatu itu tidak ada maka Ia pun tahu bahwa sesuatu itu tidak ada. Tatkala Ia tidak berkehendak agar sesuatu itu ada atau tidak ada, maka Ia pun tidak tahu bahwa sesuatu itu ada atau tidak ada.
Sebagian dari mereka berpendapat bahwa makna Allah bersifat tahu adalah Ia berbuat. Tatkala ditanya apakah Allah senantiasa bersifat tahu terhadap diri-Nya, jawaban mereka beragam. Sebagian menjawab bahwa Allah tidak bersifat tahu terhadap diri-Nya sendiri sebelum menciptakan pengetahuan sebab Ia memang ada, tetapi belum berbuat. Sebagian lagi menjawab bahwa Allah senantiasa tahu terhadap diri-Nya sendiri. Jika ditanya apakah Allah senantiasa berbuat, mereka menjawab, "Ya, tetapi kami tidak mengatakan bahwa perbuatan-Nya juga qadim.
Sebagian dari mereka berpendapat bahwa pengetahuan merupakan sifat dzat Allah dan bahwa Allah tahu tentang diri-Nya sendiri, hanya saja Ia tidak dapat disifati tahu terhadap sesuatu sebelum sesuatu itu ada. Jika sesuatu tidak ada, maka tidak dapat dikatakan bahwa Ia bersifat tahu sebab tidak mungkin Ia bersifat tahu terhadap sesuatu yang tidak ada wujudnya. Pendapat ini dikemukakan oleh kelompok As-Sakkakiyyah.
Sebagian mereka berpendapat bahwa Allah senantiasa mengetahui dan pengetahuan-Nya itu merupakan sifat dzat-Nya. Ia tidak dapat disifati bersifat tahu terhadap sesuatu sebelum sesuatu itu ada, sebagaimana manusia tidak dapat disifati melihat dan mendengar sesuatu sebelum bertemu dengan sesuatu itu sendiri.
Mayoritas tokoh Syi'ah Rafidhah menyifati Tuhannya dengan bada (perubahan). Mereka beranggapan bahwa Tuhan mengalami banyak perubahan. Sebagian mereka mengatakan bahwa Allah terkadang memerintahkan sesuatu lalu mengubahnya. Terkadang pula la menghendaki melakukan sesuatu lalu mengurungkannya karena ada perubahan pada diri-Nya. Perubahan ini bukan dalam arti naskh, tetapi dalam arti bahwa pada waktu yang pertama Ia tidak tahu apa yang bakal terjadi pada waktu yang kedua.


[1] Rosihon Anwar, op. cit ... hlm 168.
[2] Nasution, op, cit.., hlm 135.
[3] Nasution, op, cit,.  hlm 137.
[4] Yusuf, op, cit,. hlm 93.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.